Cinta adalah banyak tentang kehilangan

gambar-dp-bbm-kata-kecewa-kehilangan-cinta1

Ecobar 365 Kemang sepi pengunjung saat mereka sampai, ada beberapa musisi yang lagi manggung didalam dengan suara yang memekakan telinga. Mereka datang bukan pengen nonton itu, Oza hanya menemani Puri yang ingin menonton konser Tulus minggu depan di sebuah cafe lain di bilangan Kemang sekitar beberapa blok dari tempat mereka berada.

“Serius kamu gak pengen beli tiketnya” kata Puri menanyakan kembali kesekian kalinya kepada Oza yang sejak perjalanan mereka dari Semanggi menanyakan kepastian ikut atau gaknya dia.

“Gak bisa, Aku ada kerjaan dihari itu” kata Oza yang memang kelihatan berat juga bilang gak kepada Puri.

Bagi Oza ini adalah hal yang istimewa, sejak 2008 saat masih kuliah dikampus yang sama dia ngajak Puri jalan bareng dan satu-satunya bisa bareng itu pas nonton film kambing jantannya Raditya Dika itupun duduknya gak bisa sampingan, jaraknya beberapa kursi disamping Puri karena dia duduk bersama pacarnya. Tapi hari ini disaat kesempatan itu datang dia benar-benar tidak bisa ikut, kesibukannya untuk mengelola beberapa dokumen pengadaan membuatnya terpaksa harus tetap masuk kantor walaupun itu di hari libur.

“Emang bener gak bisa ditinggal gitu” tanya Puri lagi-lagi menanyakan hal yang sama
“Gak bisa, ini tanggung jawabnya di aku semua ” jawab Oza yang juga tetap dengan mimik kecewa yang sama
“Walaupun buat aku gitu? apa sih yang gak buat aku” Puri masih mencoba merayu tapi tetap saja Oza tidak berdaya walaupun nadanya ingin banget.

Mereka melanjutkan perjalanan lagi, sesuai dengan rencana mereka mau nonton sebuah film di sebuah mall dekat Kemang, sampai malam mereka nonton dan Puti menyempatkan membeli sebuah kue ulang tahun untuk ibunya yang kebetulan ulang tahun esok harinya.

Perjalanan itu adalah hal yang terindah bagi Oza, setelah perjalanan pertama yang berbeda motor mereka mengitari jalan dari Kota Kasablanka, melewati pasar Gembrong dan tembus di BKT dan melewati kuburan didepan kampus Trisakti Transportasi dan untuk pertama kalinya mengetahui rumah Puri sejak berkenalan dan beberapa kali ngobrol

Bagi Oza dua malam itu yang terindah.

****

Oza menatap nanar layar handphonenya, menunggu kabar dari Puri yang sejak dua hari kemarin berlibur ke Malang bersama dengan teman-temannya. entah kenapa diceritakan ketemu dengan mantannya di sebuah cafe di Malang intensitas chat mereka semakin berkurang. Walaupun kurang intensnya mereka komunikasi dibayar lunas oleh Puri dengan mengirimkan foto-fotonya yang lagi narsis disebuah kamar kost teman akrabnya. tapi hari ini. Semua kembali beku sejak kedatangan masa lalunya.

“Aku baru sampai di kereta”

Bbm Puri tiba-tiba masuk membuyarkan pikiran Oza, membalas dengan sukacita, walaupun sebentuk kabar itu terdengar kaku tapi cukuplah untuk menuntaskan rasa rindu

“Aku mungkin masih lemah ” kata Puri dalam bbmnya.
“Aku pikir aku bakal kuat menghadapi kenyataan kalau mantanku sudah jadi milik orang lain”
“Tapi aku mikir lagi sepertinya aku belum kuat untuk ngadepinnya, aku lemah ”
Berturut-turut kata-kata bbm Puri yang masuk mulai menyeruak rasa nyeri di dada Oza, kata adalah tumpukan makna-makna yang entah tersembunyi atau tidak pelan-pelan akan menampakan artinya sendiri dan membacanya Oza hanya diam menunggu kata selanjutnya yang mungkin menjadi pamungkas dari arti kata-kata tadi

“Aku minta maaf ya, minta tolong juga foto yang aku kirim semalam dihapus ya, aku lagi galau sampai ngirim foto kayak gitu “

Akhirnya muncul juga, pikir Oza yang cuma diam yang akhirnya cuma bisa menjawab iya dan mengirimkan foto screen capture hasil delete foto kiriman Puri semalam dan hanya bisa kembali mengirim emticon senyum. Heningnya malam dan embusan angin kereta yang membawa Puri ke Solo akhirnya menjadi batas rindu-rindu sejenak yang pernah tercipta diantara mereka.

****

Timeline twitter bergerak cepat dengan celotehan-celotehan yang tak tentu arah, sampai mata Oza melihat mention-mentionan yang kembali menguak luka lama tapi dengan cepat diredamnya. Puri seperti sudah bahagia, kehilangannya yang dulu karena kisah masa lalunya sepertinya sudah hilang oleh munculnya orang baru, Oza hanya bisa tersenyum

Cinta adalah kadang tentang kehilangan, entah mungkin yang terjadi terus menerus ataupun hanya sekali tapi itu tetaplah cinta.

Dari kehilangan kita belajar, dari kehilangan kita memberi arti, bahwa hidup dengan memberikan kehilangan bagi orang lain itu sama perihnya ketika kita kehilangan hal yang sama.

Tapi satu hal yang pasti, Jika kehilangan itu bukan tentang oksigen yang membuat kamu hidup maka kamu pasti bisa hidup tanpa kehilangan itu.

Iklan

Feminis dalam lipatan kekuasaan

petani_perempuan12

Hari itu Balai Desa  gempar, Lek Tarmi bersitegang dengan Cak Polo kepala dusunnya. Janda beranak tiga itu geram dengan statement perangkat desa yang meremehkan mereka para wanita calon penerima bantuan pemerintah propinsi, pendamping  dari kabupaten pun terdiam seribu bahasa kaget melihat tensi perdebatan itu. Awalnya hanya persoalan sepele, soal bantuan kepada para janda-janda dari pemerintah ini oleh kepala dusun ingin diseragamkan dengan maksud bantuan tersebut dapat langsung kelihatan dan gampang untuk diawasi oleh pendamping ataupun tim dari kabupaten, tapi Lek Tarmi menolak karena ingin membesarkan usaha pembuatan gerabah yang sudah lama dirintisnya.

“Ora iso diatur !!!, panjenengan sedoyo iki iso nerimo bantuan karena perangkat desa juga jangan disepelekan saran kami” sengit tiba-tiba Cak Polo nyeletuk ditengah rapat.

“Bukan tidak bisa menerima pak kasun” kata Lek Tarmi menimpali “ usulan usaha yang dibiayai haruslah sesuai dengan apa yang kamu inginkan” janda ini mencoba memancing nalar para hadirin peserta rapat.

“Tapi apakah bisa ibu-ibu yang hampir semuanya sudah berusia lanjut ini bertanggung jawab?, jangan sampai nanti dikasih bantuan hanya untuk dihabiskan dan nanti kami perangkat desa susah untuk melaporkan kalau diperiksa pemerintah” seru Carik yang tadi diam mencoba membela Cak Polo karena tak ingin koleganya malu.

Perdebatan sengit terus berjalan sepanjang sore dan tidak mencapai titik temu, akhirnya pendamping kabupaten pun mengambil alih.

” Untuk sementara kita anggap permasalahan ini selesai dulu, dianggap Lek Tarmi usahanya sesuai dengan apa yang di inginkan, nanti pendamping desa dan saya juga akan mencoba mengklarifikasi ulang ” kata pendamping yang bukan orang jawa itu. Lek Tarmi yang berada di belakang pun akhirnya tersenyum, sedikit puas.

” Tapi begini pak pendamping kabupaten ” tiba-tiba kades yang sedari tadi diam langsung angkat bicara.

“Persoalan desa adalah persoalan kami dan perangkat, warga kami ini yang urus perangkat, kami bakal selalu ada disini dan apabila ada masalah kami yang bertanggung jawab,  panjenengan yang asli luar jawa habis program ya kalau gak pindah program bisa pindah kota dan macam-macam” jelas pak kades dengan sarkastik dengan wajah yang sedikit gusar.

Pendamping kabupaten itu tersenyum, pengalaman organisasinya selama kuliah dan kerja di BUMN 5 tahun membuatnya sedikit paham bakal ada gejolak disini.

“Saya paham panjenengan semua ingin yang terbaik buat warganya dan sekaligus nyaman untuk pihak desa, tapi ini masuk ke notulen saya dan masuk ke dalam berita acara rembug, dan pasti akan saya laporkan termasuk apabila ada sanggahan peserta rapat ” kata pendamping kabupaten itu sehalus mungkin sambil memperlihatkan draft notulensi yang sedari tadi didiktekan kepada salah seorang pendamping yang diberinya tugas.

“Karena saya paham itulah makanya saya ingin hal ini tidak menjadi konsumsi notulensi, cukup hanya menjadi klarifikasi personal antar pendamping dengan warga, tidak ada notulensi dan pendamping desanya juga adalah warga bapak, bukan teman saya” terangnya lagi berdialektika sambil tersenyum.

Pendamping kabupaten itu paham, sebagai orang yang sangat dipercaya oleh bupati daerah itu, kadesnya pasti mengerti apa yang diinginkannya. Karena sebagai pengatur strategi kemenangan bupati tahun kemarin pasti mengerti apa yang disampaikan pendamping itu adalah bagian dari strataknya untuk menekan tanpa mempermalukan.

“Ok, mungkin sementara sambil menunggu rembug lagi minta tolong mbak putri dan mbak yuni sebagai pendamping desa yang perangkat tunjuk untuk mendampingi ulang dan mendata kembali keinginan para warga semoga bisa diarahkan lebih baik “

Mendengar pak kades berbicara seperti itu para perangkat yang lain terdiam, mereka gak nyangka kades mereka tiba-tiba melunak ditekan oleh pendamping kabupaten yang dianggap mereka masih bau kencur itu. Cak polo yang merupakan Kasun paling kritis sekaligus bawel selama ini mau menyergah tapi di beri kode oleh pak kades untuk diam. Rembug sore itu berakhir hening

****

“Gak bisa kayak gini, gimana kita bisa dapat keuntungan kalau usahanya beda-beda, ribet ngature pak ” kata seseorang di ruangan itu.

“Makanya pak carik itu minta kumpul malam ini, bagi tugas dulu ” Kata seseorang yang lain. Akhirnya yang lain terdiam dan siap menerima titah.

Malam itu mereka berkumpul dan membicarakan dengan baik bagaimana cara mereka mengkondisikan para warga agar semuanya mau seragam, bersilang pendapat dan menelpon sana-sini mereka lakukan hingga tengah malam

****

Pendamping kabupaten itu terdiam disudut mesjid setelah sholah dhuhur, kisah kemarin sore menyiratkan satu masalah besar yang akan dihadapinya, dilain sisi hak warga untuk berusaha sesuai keinginannya bisa terbelenggu dan di pihak lain ketika dia memaksakan keinginannya maka proses yang masih akan berjalan sekitar 8 bulan lagi ini bisa saja tersendat karena dua sisi pendampingan adalah tentang bagaimana warga dan juga tentang komunikasi dengan pihak perangkat desa, keduanya harus sejalan tidak bisa timpang.

Hari ini rencananya dia akan berkeliling ke rumah warga yang menerima bantuan untuk berdiskusi secara langsung, sambil memikirkan bagaimana celah yang bisa dipergunakan sembari melindungi minimal beberapa keluarga yang mempunyai keinginan usaha selain ternak seperti yang diusulkan para perangkat desa.

Ditemani para pendamping desa mereka berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, dari satu dusun ke dusun lain, hingga menjelang sore mereka mendata dan melihat satu persatu hasilnya, pendamping kabupaten itu makin bingung sepertinya sekarang malah semuanya tidak ingin berlama-lama berdiskusi dengan pendamping, mereka semacam koor ingin dibelikan kambing dua ekor, satu indukan dan satu anakan untuk mereka pelihara hasil dari bantuan ini. 26 kepala rumah tangga dan semuanya ternak kambing. Lek tarmi yang kemarin tegas menantang pun sepertinya sudah tak berani memandang mata kami lagi

“Nanti dari hasilnya ternak kambing baru saya jadikan modal untuk usaha gerabah saya pak” katanya tadi sore ketika disamperin dirumahnya.

“Loh bukannya Lek Tarmi kemarin tegas gitu, kok sekarang melunak ?” Kata pendamping kabupaten itu menyelidik.

Dia hanya diam, bahkan ketika para pendamping pamit dan menanyakan ulang kembali apa keinginannya, tetap tegas dijawab “TERNAK KAMBING”

****

Lama sebelum pendamping kabupaten itu memutuskan untuk turun dari motor mio kesayangannya, di depannya adalah rumah kades yang dulu menyambutnya dengan ramah ketika membawa surat tugas dan sk tentang bantuan untuk janda di desanya, bahkan ketika dia bilang bahwa akan membuat buku tentang pengalaman pendampingannya selama 9 bulan dan akan di beri judul “feminis-feminis desa” orang nomor satu di desa itu sumringah bahkan memberikan banyak saran tentang buku itu

Tapi hari ini dia ingin membantah untuk memberikan kesempatan kepada para feminis itu memilih jalannya sendiri dan bagaimana usaha mereka dijalankan.

“Asalam Alaikum “

“Pak kadesnya ada bu ?” tanyanya kepada perempuan yang keluar menghampirinya ketika mendengar salam

“Oh iya ada, sebentar saya panggilkan ” kata perempuan itu sambil bergegas masuk kembali ke dalam ruangan

“Ooh mas pendamping to yang datang , monggo pinara mas ” kata pak kades ketika melihat pendamping itu yang datang.

“Ada apa ini kok tumben main lagi kerumah ” lanjut pak kades ketika mereka sudah duduk di sofa rumah itu

“Ini pak kades, mau silaturahmi sekaligus ada yang mau diomongin” kata pendamping itu kaku dan mungkin bingung mau mulai darimana untuk membicarakannya.

” Ya silahkan mas, gimana hasil klarifikasinya, apakah sudah ada hasil? ” kata pak kades sambil bertanya.

“Nah itu pak, sudah kami datangi satu persatu dan hasilnya mengarah kepada satu jenis usaha yaitu Ternak Kambing ” kata pendamping itu dingin

Pak kades tersenyum kecil mendengar jawaban pendamping itu, mengambil rokok dan menghisapnya dengan dalam

“Saya baru 3 tahun jadi kades disini mas, banyak yang saya belum pahami dari konstelasi politik disini walaupun perangkat saya banyak yang nurut” katanya pelan tiba-tiba bercerita

“Pak carik saya sudah lama menghandle perangkat dibawahnya, sejak 4 kepala desa sebelumnya dia sudah jadi perangkat, konflik ada tapi banyak bisa saya menangkan dan kebetulan pak bupati berpihak penuh pada saya” lanjutnya lagi

“Kenapa pak bupati sering kesini, kerumah saya karena saya minta secara pribadi untuk show off kepada penduduk sekaligus perangkat kalau saya gak bisa disepelekan walauun pemerintahan dihandle pak carik”

“Peristiwa kemarin membuat saya terhenyak mas, ada gejolak yang ternyata disembunyikan oleh warga, ternyata banyak yang tidak setuju dengan perlakuan aparat padahal saya sudah percaya diri penuh bahwa desa ini sudah aman ditangan saya”

“Saya paham  omongan sampean pada saat rembug kemarin, dan terus terang saya juga dapat bisikan dari pak carik sebelum kita rembug kemarin makanya saya sedikit terbawa dengan pola yang ada. Tapi penegasan jenengan membuat saya ingin mengetahui lebih dalam ini sebenarnya ada apa ” lanjutnya lagi sambil menghela nafas agak dalam

“Jadi maksud pak kades? ” kata pendamping itu bimbang

“Nanti saya samperin rumah-rumah calon penerima itu sendiri, nanti malam saya keliling dan besok kita rembug lagi ” kata pak kades dengan tetap menghisap rokoknya dengan dalam

“Yang harus sampean paham, saya masih orang yang sama waktu memberikan sampean pemahaman bagaimana konsepsi janda di masyarakat kami, tapi saya minta tolong jangan mengusik kewibawaan saya di desa ini, saya paham apa yang harus saya lakukan ” katanya lagi.

Pendamping itu tak berapa lama pamit dan pulang dengan masih tetap bingung, konsepsi raja-raja kecil dan penasehat raja yang lalim mungkin masih sedikit banyak mempengaruhi daerah ini, wajar saja pembangunan di negeri ini lama dan tersendat karena mereka yang ada dibawah paham apa yang harus dilakukan tapi mereka lebih mementingkan tangan kekuasaan untuk mengeruk keuntungan pribadi dibanding menjalankan amanahnya.

****

Rembug di desa itu berjalan lagi keesokan harinya, tanpa kesengitan seperti kemarin dan konflik sepertinya terjadi tapi seperti bersembunyi, penguasa desa seperti saling mengadu ilmu dalam tawa-tawa palsu mereka, sementara pendamping desa dan pendamping kabupaten hanya bisa pasrah apapun hasilnya, karena memang dalam listnya dari 26 kepala keluarga yang maksimal bisa dipakai untuk usaha sendiri ya 4-7 kepala keluarga yang lainnya biarlah sesuai dengan keinginan perangkat desa. Tapi semoga waktu berkata lain, karena sejarah bukan tentang apa yang ditulis tapi apa yang ingin kita lakukan.

Cinta adalah kadang tentang menunggu

Kata Kata Menunggu Cinta

Kami bertengkar lagi sore ini, tentang hal yang sama. Komitmen untuk hubungan kami yang sudah 9 tahun tak menemui ujung, Salman pacarku kembali tak mampu memberikan jawaban yang pasti tentang akhir hubungan ini akan seperti apa. Hari ini sudah dititik puncak penantian ketegasann dari dirinya dan juga tekanan keluarga, rekan yang menggunjingku tiada habis tentang perawan tua.

“Aku belum siap, menikah itu bukan hanya tentang ijab kabulnya tapi setelahnya”

Alasan itu sudah sering aku dengar bahkan apologetic sesudahnya pun sudah kuhafal diluar kepala bahkan sampai titik dan komanya, lebih sewindu aku menunggu dia berlutut dan mengatakan “Will you marry me” aku kadang tak peduli yang diberikannya beneran sebuah cincin emas ataupun cuma cincin dari mur besi tua seperti yang Shia La Bouf ambil di tubuh robot Bumble Bee untuk diberikan pada Rossie Hutington di akhir film Transformer 3 : Dark Side of Moon. Aku benar sudah tak peduli, aku hanya ingin dia menikahiku.

Kuhabiskan pizza semalam yang kubeli di Kalibata Plaza sepulang dari kantor, kuhabiskan malam ini hanya dengan menonton film yang ku download tadi siang sebelum pertemuanku dengan Salman, cerita di film How To be Single tentang gadis-gadis amerika yang memilih menjadi single daripada ribet tentang hubungan pasti dengan seorang pria. Mereka bebas berkencan dengan siapa saja, menikah kapan saja ataupun memilih mempunyai anak dengan system bayi tabung tanpa takut omongan orang sekitar, ahhh.. andai aku hidup di amerika mungkin kegalauanku yang parah ini sudah membawaku tidur dengan 3 pria sekaligus malam ini pikirku. Aku ternyata sudah sangat se desperated itu.

Nada hapeku berbunyi terdengar dari satu sudut di pinggir tempat tidurku, siapa lagi yang telpon malam-malam begini, kataku dalam hati. Ku usap lembut layar hapeku, ternyata Salman, ketika tersambung dia langsung to the point.

“Besok nonton AADC2 yuk, aku belum nonton”

“Ahh malas, lagi gak pengen keluar “ sahutku ogah-ogahan

“Hayo dong, masih marah ya, aku jemput deh ya” Kata Salman mulai merayu

“Tauk deh, liat besok ya “ masih malas aku menanggapi.

“Besok aku jemput jam 3 ya, on time”. Klik, telepon mati

Begitulah Salman pacarku, dia tidak pernah mau marahan lebih dari beberapa jam, padahal dia tau kita baru bertengkar kurang dari setengah hari yang yang lalu dan dia sudah menganggapnya tak ada yang terjadi padahal belum ada pembicaraan damai. Hufft, mungkin hubungan ini sudah gak seimbang, aku terlalu memikirkan sedangkan dia biasa saja menanggapinya sementara hubungan dan umur kami sudah sama tuanya.

 ****

“Mbaknya mau wawancara juga ya” Kata cowok di sampingku dengan logat yang belum pernah aku dengar sebelumnya.

“Gak mas, saya disini mau sarapan. Ya iyalah kan kita disini semua lagi nunggu dipanggil sahutku agak ketus.

“Hehe, maaf mbak habisnya saya bingung mau mulai dari mana, tapi mbaknya apa gak salah ngelamar ditempat yang biasa ini? “ tanyanya lagi

Aku diam sambil memperhatikan perawakan cowok disampingku, agak kurus, gak tinggi dan rambutnya ikal. Dia langsung melengos ketika beradu pandang denganku.

“Saya ganteng ya mbak, jangan diliatin terus gak enak sama yang lain” katanya dingin sambil berlagak membaca majalah lama yang ada di meja ruang tunggu itu

Menahan tawa aku dengan reflex memukul pelan pundaknya. Ucapannya itu bagai ice breaking kekakuan sedari tadi dan kami pun lanjut ngobrol sambil menunggu antrian interview sebuah BUMN yang terbilang masih kecil mengingat ruangan tunggunya tidak mewah seperti wawancara lain yang kudatangi sebelumnya, bahkan ketika Dia sudah duluan dipanggil dia masih menemaniku yang kebetulan dipanggil terakhir.

“Eh iya kita dari tadi belum kenalan, namaku Mitha “ Kataku sebelum kami berpisah jalur di Halte Harmoni

“Saya Salman, dari desa nun jauh disana tapi masih di Indonesia” katanya lagi sambil senyum. Kami pun saling bertukar nomor telepon dan saling berjanji mengabarkan ketika sampai dirumah.

Itu adalah awal perkenalanku dengan Salman, yang akhirnya Dia diterima di kantor tersebut, sedangkan aku tidak, aku menolak untuk datang ke wawancara selanjutnya setelah melihat kondisi kantornya. Sedangkan Salman dengan segala kesederhanaanya menerima semua proses kecil dan gaji kecil di sebuah perusahaan yang bernama BUMN itu, aku pun akhirnya ternyata diterima sebuah Bank swasta yang kantornya tidak jauh dari tempat Salman bekerja, dan sering sekali kami janji untuk bertemu di Halte Harmoni walaupun hanya sekedar menyantap batagor dipinggir jalan sebelum naik halte itu ataupun sesekali kami kalau habis gajian biasanya makan malam malam di cafe dekat kantorku, begitu terus.

Suatu hari dia tiba-tiba datang dengan motor maticnya di depan kantorku, membawa dua helm dia langsung mengajak aku jalan, karena hari Jum’at gak papalah aku pikir pulang ke rumah agak telat. Ketika aku tanya mau kemana dia hanya jawab, nanti juga tau sendiri. Aku cuek saja tapi yang terjadi kemudian adalah di luar dugaanku, ketika kamu masuk lahan parkir tempat yang kami tuju ada tulisan besar dimana-mana “Java Jazz festival : Bringing the world Indonesia” aku terkesiap senang banget, karena kesibukan yang luar biasa banget aku gak sempat beli tiketnya dan ternyata, Salman membawaku kesini, aku benar-benar gak nyangka dia tahu detil tentang aku sampai kesukaanku pada music jazz

“Kok gak bilang mau kesini, kan aku bisa persiapan dari rumah tadi pagi” kataku protes tapi senang

“Ya gak papa, aku juga dadakan juga kok kesininya. Kebetulan tiketnya baru dikasih teman tadi siang jadi ya dadakan “ katanya beralasan.

“Tapi kan aku mau nonton Glenn, gak main kan dia hari ini, kok gak bilang sihh mau nonton kan aku bisa request” masih tetap protes aku sambil berjalan ke arena festival musik itu dan registrasi sejenak, kami sudah ada di dalam.

“Yaudah pulang kalo gak mau “ katanya pelan mencoba menarik tanganku balik ke pintu keluar

“ Eh enggak ihhh, becanda…Ayo yuk, kamu mau nonton siapa sih kesini “ kataku sambil senyum lihat wajah merajuk sok coolnya.

Dia menunjuk seorang perempuan yang sedang bernyanyi di panggung, namanya Lalah Hathaway, agak aneh aku mendengarnya, sambil beringsut merobek kerumunan orang kami mencari posisi yang paling enak dan akhirnya bisa agak ditengah menontonnya. Musiknya easy banget, sebagai penyuka jazz aku sangat suka nada-nada seperti ini, hingga akhirnya sampai di suatu lagu tiba-tiba Salman ikutan bernyanyi dengan cukup fasih

“Kamu hafal ? “ tanyaku sambil berbisik ditelinganya

Dia hanya mengangguk dan tersenyum memandangku, hingga sampai pada satu chorus dia mendekatkan bibirnya ditelingaku sambil bernyanyi

 My hearts belongs to you got it
Tell it’s gone
But this love keeps going on and on
Can’t even remember  my before
My heart belongs to you for forever more
I am just a reflection of your love
My heart skip a beat
When you smiling at me
So babe I must tell you
You are the one (you are the one)

 “You are the one Mitha, I must tell you,  coz I Love you” kata Salman lirih ditelingaku. Dia berdiri dibelakangku dengan tangan kanannya terbuka didepanku meminta ku raih dan kembali berbisik

“Kamu mau gak jadi pacarku, Be the one in my heart “ katanya lagi dengan pelan. Aku kaget dan  benar-benar speechless, ku berbalik, menatap wajahnya lama dan tersenyum. Ku letakan jari jemari tangan kananku disela jari tangan kanannya, tak perlu banyak kata-kata, remasan hangatku ditangannnya sudah menjadi jawaban pasti atas pertanyaannya, aku merasa menjadi gadis paling bahagia malam itu. Dia tersenyum dan  memelukku dari belakang, kembali bernyanyi.

You are my everything
So don’t you ket nobody try to pull us apart
Cuz you are my everything
From evening to evening
And all that is in between
You are my everything

 ****

“Kok diam ? “ suara Salman mengagetkanku ketika dia kembali dari Starbuck yang ada di depan metropole.  Dia membawa minuman kesukaan kami Avocado Coffee, sambil menunggu teater tempat film yang kami ingin nonton diputar. AADC2 adalah sekuel dari film boming 14 tahun lalu ketika aku masih duduk di bangku SMA. Salman yang sangat suka dengan Dian Sastrowardoyo pasti memang tidak akan melewatkan film ini, sebelumnya juga di tahun lalu dia dengan semangat banget pengen nonton 7/24 yang merupakan film Dian Sastro setelah lama vakum dari dunia perfilman habis nikahnya. Selayaknya film 7/24 yang pernah kami nonton sepertinya hubungan ini memang juga perlu direview lagi, ada bom waktu yang menunggu dihubungan ini walaupun film itu tentang orang yang sudah menikah.

”Ini awal settingnya gak pas menurut aku, seharusnya adegan Rangga yang di Broklyn dan puisi tiada lagi  New York sebagai pembuka, bukan adegan Cinta dan teman-temannya di Galery kata-kata itu”

Salman memang sangat detil kalau melihat film, baginya pembuka satu film itu penentu bahwa film itu akan ditonton sampai habis dengan riang atau hanya menghabiskan jatah tidur 124 menit di dalam bioskop, di blognya banyak membahas tentang film yang hampir semuanya tentang drama dan biografinya serta kesemuanya disarikan dalam satu alur kehidupan.

Adegan yang mengalir sepanjang film terus saja dikomentari Salman, kalau aku mood aku tanggapin kalau tidak aku hanya diam saja, aku mulai menikmati film ini.

“Rangga yang ninggalin Cinta tanpa alasan itu memang kejam, tapi apa bedanya dengan kamu ya, 9 tahun tahun usia hubungan kita juga kamu seperti tak tidak ada alasan untuk menikah, kamu lebih kejam” tiba-tiba aku nyeletuk dengan tak sadar. Salman tiba-tiba menoleh

“Kok larinya kesitu” Salman mencoba memegang tanganku tapi kutepis dengan mata yang mulai berkaca-kaca

“Apa kamu harus jadi seperti Rangga, berusaha menikahiku setelah ada cowok lain melamarku” kataku mulai dengan dingin.

“Loh gak gitu, ini tentang masa depan kita yang gak akan lebih dari 9 tahun itu”

“Udah cukup ngomongnya, aku hafal kata-katamu setelah itu, sudah lama terpatri disini “ sergahku kasar sambil menunjuk kepalaku

Adegan Rangga Jahat di cafe itu memulai pertengkaran kami sore itu, lagi. Film pun terus mengalir, Rangga ternyata dibisikin oleh ayahnya Cinta ketika pertemuan mereka di New York. Kemapanan adalah musuh lelaki paling pertama ternyata, bukan tentang godaan mahluk lain.

“Sadar nggak, kalau aku belum mapan” ucap Salman padaku pelan ketika adegan Rangga dan Cinta menonton sebuah pertunjukan wayang.

“Aku tau, tapi untuk hidup kita berdua itu sementara cukup” kataku lagi dengan emosional

“Iya kamu dapat menganggap aku kayak gitu, bagaimana dengan keluargamu apakah punya pandangan yang sama seperti kamu “ Salman bertutur sambil mencoba meraih tanganku kembali. Aku biarkan meremas tanganku.

“Kamu menilai keluargaku sejelek itu tau nggak, kamu berpendapat tanpa minta pandangan aku “ kataku lagi sementara layar didepan kami menampilkan Rangga dan Cinta sedang berkejaran menuruni bukit yang mereka pakai untuk melihat dari kejauhan pucuk gereja ayam yang sedari tadi mereka pakai ngobrol tentang perjalanan mereka.

“Ya aku minta maaf, tapi laki-laki punya dua dilema besar dan mereka harus bersiap tentang hal terburuknya” kata Salman menatap mataku yang masih merah karena air mata

“Memangnya apa dilemamu” kataku bertanya

“ya seperti yang kamu lihat, di film ini adalah tentang dilema perempuan yang masih terkait sama masa lalu, dan itu pasti tidak terjadi dengan kamu, sedangkan yang satunya adalah dilemaku, yaitu ketika kemapanan membuat kami ragu mengajak menikah orang yang sesempurna kamu dan Cinta” jelas Salman lagi hati-hati

“Dilema yang lain apa ?” tanyaku menepis kediamanku atas jawaban Salman barusan

“Ya apabila ada laki-laki lain atau cinta di masa lalu wanitanya yang lebih baik,  dia pasti akan tau diri, banyak laki-laki seperti itu, tapi kamu enggak kan” kata Salman sambil bertanya

Aku terdiam.

“aku gak tau lagi gimana hubungan kita, apa aku masih sanggup menunggu aku gak tau” kataku

Ketika itu adegan film Cinta yang berada di kedai kopi Rangga, ternyata setelah satu purnama pertemuan mereka di Jogja, Cinta akhirnya mengejar Rangga ke Brooklyn dan mereka benar-benar dipersatukan.

“ Ini Trian kemana ? “ kataku setelah melihat ending film yang happy kayak gini

“Yang gak ditampilkan dalam film tadi pastilah ada sosok Trian yang merasakan dilema para cowok yang kedua, dia merelakan orang yang dicintainya untuk bahagia pada orang yang dipilihnya” Kata Salman dingin

Aku terkesiap dan diam sejenak.

Kita keluar teater dengan langkah yang sama-sama diam, pertengkaran kami kembali memanas akan tetapi hatiku sedikit mempunyai ada jawaban, bahwa sosok Salman yang saat ini menjadi kekasihku memang ingin menjadi sosok terbaik, dia sibuk memantaskan dirinya seperti Rangga yang tidak ingin ketemu Cinta pada saat dia terpuruk. Laki-laki baik memang selalu begitu.

Aku tersenyum dan menggamit lengan kiri Salman dan bersandar dibahunya. Kami berjalan menuju tempar parkir motornya.

“Kamu tau nggak kira-kira kenapa Cinta masih setia menunggu Rangga walaupun sudah 9 tahun “ tanyaku sambil menatap kekasihku itu.

“Cinta mati paling” Salman menjawab dengan ragu-ragu, mimiknya masih agak bingung melihatku tiba-tiba berubah.

“Bukan, bahkan pada saat 9 tahun tidak bertemu pun, Rangga masih sosok yang sama, dingin, jutek dan tetap unpredictable” kataku

“Dan kamu juga begitu” sambungku sebelum dipotong oleh Salman.

“Jadi Kamu ? “ tanya Salman menatapku. Aku tersenyum, Dia tersenyum dan kamipun tersenyum sementara cahaya malam sudah mulai menutupi pelataran hutan kecil yang dijadikan lahan parkir itu.

Cinta adalah kadang tentang menunggu, karena laki-laki pilihanmu atau yang sedang disiapkan untukmu memang sedang berusaha memantaskan dirinya padamu.

Pagi untuk Afni

Kayu berukuran lengan itu pecah ditubuhnya, sedari subuh kemarahan ayahnya memuncak setelah malam tadi mereka bersenda gurau.  Pagi dan malam bagi mereka memang seperti bumi dan langit dalam 5 tahun ini, ayahnya berubah dari sosok yang begitu lembut di malam hari dan menjadi beringas di pagi hari, entah mengapa perangai itu muncul.

tirai-kabut-fajar-pagi1

Afni pergi kampus dengan badan yang remuk serta pipi sedikit membiru, teman-teman yang mengenalnya sudah tahu mengapa dia seperti itu, sementara yang lain hanya bisa bertanya-tanya dalam hati walaupun memang banyak juga yang menggunjingnya. Bagi Afni hal itu sudah biasa, sejak kelas 2 SMA memang wajahnya yang cantik berubah bentuk menjadi si buruk rupa

“Kamu gak bisa kayak gini terus Fni, kita sudah hampir lulus kuliah dan kondisimu tiap pagi seperti ini”

Aldo berkata seperti itu sambil menahan emosi, dia bersahabat dengan gadis itu memang sejak lama, bersama dengan Vita, Puput dan Zila yang mereka berdua kenal pada saat orientasi mahasiswa mereka bersahabat sangat dekat. Karena persahabatan yang dekat itu pula mereka sangat tahu masalah apa yang dialami Afni, sahabat mereka.

Vita dan Puput bahkan pernah dengan sengaja menginap di rumah Afni yang harapannya di pagi hari ketika mereka akan berangkat kuliah sahabat mereka tak dipukuli oleh ayahnya, memang akhirnya sampai mereka berangkat ke kampus keesokan harinya Afni aman-aman saja, akan tetapi ternyata ketika dia kembali rumahnya sudah menjadi seperti neraka, ayahnya mengamuk. Afni tak kuliah hampir 2 mingggu.

Beda lagi dengan Zila yang lugu tapi pernah nekat mengancam akan melaporkan ayah Afni ke kantor polisi melalui telepon, dengan memakai nomor yang baru dibelinya dia berhasil membuat takut ayah Afni beberapa hari, tapi karena tidak ada polisi yang mendatangi rumahnya dalam beberapa hari ayahnya akhirnya paham dia sedang dikerjai, Afni disiksa berhari-hari dan nomor yang dipakai Zila menelpon itu diteror dan diancam akan dipukuli oleh ayah Afni. Zila sejak itu tak berani bertemu ayah sahabatnya.

Afni sebenarnya tau apa yang harus dilakukan untuk menjadikan ayahnya kembali seperti 5 tahun yang lalu dan kuncinya itu disahabatnya, Aldo.

 ****

 “Hah? Ayahmu mau kamu menikah dengan Aldo ? “ Teriak Vita dan Puput bersamaan karena kagetnya mendengar penjelasan Afni.

“Berarti kalo kamu sudah nikah sama Aldo baru kamu berhenti dipukuli?” tambah Zila seolah tidak senang dengan apa yang didengarnya barusan

Afni pun menceritakan bahwa Aldo pernah main ke rumahnya beberapa kali, Ayahnya sangat senang menerima Aldo, beda sekali sambutannya dibandingkan kepada 3 sahabat Afni yang lain. Aldo sangat disegani dan bahkan ayahnya teramat sangat memuji Aldo.

“Kamu harus menikah dengan temanmu yang itu Fni, ayah mau dia menjadi menantuku” jelas kata ayahnya sepulangnya Aldo dari rumahnya.

“Ayah adalah orang yang sangat berselera tinggi, dan Aldo adalah selera ayah untuk kamu, kalau kamu tidak mau Ayah pukuli seumur hidup” kata ayahnya dengan nada mengancam.

Terdiam tiga sahabatnya mendengar cerita Afni, mereka sebenarnya tidak heran apabila banyak yang menyukai Aldo, sosok sahabat laki-laki mereka satu-satunya itu memang punya semua hal untuk disukai, ganteng, perawakannya yang gagah dan keluarganya bukan dari keluarga main-main di kota mereka.

“Tapi kita kan sudah sahabatan lama, masak harus ada yang saling menikahi sih, trus bagaimana dengan Aldo, suka gak sama kamu? “ Puput dengan bijak mencoba mencari jalan keluar.

“Tapi Aku gak suka sama Aldo !!!”

Tiga sahabatnya yang lain melongo, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Afni barusan, dengan kedekatan yang mereka lalui selama ini seharusnya tidak heran bila ada yang suka sama Aldo, dan diantara mereka memang saling menutupi untuk hal yang ini ketika mereka saling menggoda, persahabatan lebih mereka utamakan dibanding cinta, walaupun memang banyak yang uring-uringan ketika Aldo menggandeng cewek dari fakultas lain, rekannya sesama asisten dosen beberapa kali dan kembali senang ketika Aldo akhirnya masih jomblo sampai sekarang.

“Jadi kamu akan dipukuli selama hidup kamu donk Fni “ berkaca-kaca mata Zila dan dua sahabatnya yang lain pun terdiam, mereka berpikir dengan keras bagaimana caranya agar sahabat mereka bisa menikmati pagi seperti apa yang mereka rasakan.

****

Aldo menutup catatan paginya dengan gusar, Line dari Vita semalam membuatnya benar-benar senang sekaligus gundah. Dia sudah lama menaruh hati pada sahabatnya, bahkan sejak mereka di SMA yang sama, keputusannya untuk masuk Fakultas Teknik Unair pun karena Afni diterima di Jurusan Arsitektur melalui jalur siswa berprestasi sehingga dikejarnya jurusan itu melalui SNMPTN walaupun nilai rapor SMAnya dinyatakan lolos masuk  Hubungan Internasional UI, cita-citanya cuma satu, bisa bersama dengan Afni.

Tapi mendengar cerita Vita lengkap semalam membuat dirinya hampir sedikit gak percaya kalau kebersamaannya dengan Afni tak membuat gadis pujaannya itu menyukainya, bahkan kata Vita pula bahwa wajah Afni benar serius menyatakan tidak ada perasaan kepadanya. Usahanya selama ini berarti telah sia-sia, akan tetapi mendengar nasib Afni membuatnya harus segera bertindak mengingat ternyata hanya dialah yang bisa menolong, tak mengapalah kalau benar dia bisa menikahi Afni dengan persetujuan ayahnya, cinta akan datang bersama dengan waktu kebersamaan mereka pikir Aldo.

Dengan  menguatkan hati, Malam harinya Aldo datang ke rumah Afni yang memang benar disambut ayah Afni dengan gembira, apalagi setelah mengutarakan niatnya untuk menyunting Afni secepatnya, tidak ada jawaban yang ruwet dan yang hadir adalah langsung pelukan hangat, Ibu dan seluruh saudara Afni dipanggil berkumpul, diceritakan dengan riang oleh sang Ayah pujaan hatinya. Afni tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dia hanya diam. Ayahnya telah menerima lamaran sahabatnya, dan orang tuanya ditunggu minggu depan untuk lamaran resmi. Semuanya senang malam itu, Ayah Afni terbahak-bahak dan bahkan ketika Afni keesokan harinya ke kampus dengan muka yang bersih tak ada bekas pukulan apapun, ketiga sahabat ceweknya yang sudah mendengar cerita dari Aldo semalam pun langsung memeluk sahabatnya sambil mengucapkan selamat dan menggodanya. Afni hanya bisa diam dan tersenyum mendengar godaan dari sahabat-sahabatnya itu. Akhirnya pagi seorang Afni menjadi indah karena pukulan ayahnya sudah membeku oleh lamaran Aldo.

****

Malam minggu ini sangat berbeda, Aldo memakai pakaian terbaiknya bersama keluarganya sudah ada di rumah Afni sesuai dengan apa yang mereka rencanakan, hari ini adalah lamaran resmi Aldo bersama dengan keluarganya, seluruh orang yang ada di ruang tamu itu wajahnya berseri, dan tiga sahabat Aldo dan Afni pun tidak henti-hentinya tertawa untuk kebahagiaan temannya. Malam itu sangat berbeda

Ketika acara berlangsung pun masih ada yang tertawa gembira, Ayah Afni yang biasanya sangat garang pun hari ini sumringah sekali, sehingga sampai pada saat Ayah Aldo yang berbicara mengutarakan niatnya pun senyumnya tak berhenti

“Mengenai lamaran nak Aldo kepada putri kami, sekeluarga kami sangat senang dengan itikad baik ini, tapi sebagai ayah yang baik kami menyerahkan keputusan ini pada putri kami sendiri, Afni yang akan menjalani, toh dia juga sudah mengenal lama dengan Aldo”

Semua mata akhirnya tertuju pada sosok Afni yang begitu cantik, wajah eloknya yang selama ini disembunyikan oleh pipi lebamnya malam ini begitu mempesona, semua tersenyum menunggu jawaban sang calon pengtin tapi yang terdengar berikutnya seperti tak diharapkan oleh semua orang yang hadir.

“Saya hanya ingin menjadi sahabat bagi Aldo, tidak lebih “

Seluruh yang hadir terkesiap, Ayah Aldo yang merupakan seorang pengusaha ternama di kota ini pun merah padam, betapa malunya dia mendengar jawaban itu, seperti dilempari kotoran di wajahnya. Dia seakan tidak menerima penghinaan ini, apalagi malam ini dengan sengaja dia membawa rekan-rekan bisnisnya untuk menyaksikan lamaran putra tercintanya. Tapi yang terjadi.

Vita, Puput dan Zila pun tak menyangka jawaban yang muncul itu adalah dari seorang sahabatnya, yang dengan tulus mereka carikan jalan keluar untuk pagi-pagi sendunya bersama pukulan keberingasan ayahnya, mereka juga tak habis pikir bagaimana lukanya hati Aldo yang mereka tidak sangka ternyata sudah lama menaruh hati pada Afni.

Ayah Afni dengan muka yang menahan malu karena kelakuan putrinya pun akhirnya meminta maaf pada keluarga Aldo, dia juga tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini, sementara putrinya saat ini sudah mengunci diri di dalam kamar. Dengan muka sedikit memerah, diantarnya keluarga Aldo ke mobil, sebelum Ayah Aldo masuk mobil dipeluknya sekali lagi

“Sepertinya kita impas, lima tahun yang lalu kamu hancurkan perusahaanku sekarang aku hancurkan harga dirimu, aku tidak ada dendam lagi “

Dengan senyum sinis yang disembunyikan dari banyak orang Ayah Afni menatap mantan calon besannya itu, Ayah Aldo langsung terkesiap. Dia baru sadar akan satu hal, satu dosa di masa lalunya.

 ***

Nada line berbunyi berkali-kali, Afni mengacuhkannya sejak semalam, tiga sahabatnya menelpon, chat berkali-kali sementara dia seperti tidak siap menerima caci.

Dibacanya chat teman-temannya itu, dia mengerti kekecewaan mereka, tapi paginya memang benar-benar telah kembali. Tidak ada lagi pukulan kayu di pagi hari, lima tahun ayahnya menyimpan rahasia besar dendamnya pada keluarga Aldo, lima tahun pula ayahnya memancing Aldo untuk menjadi dewa penolong. Akhirnya minggu lalu, binatang buruan ayahnya benar-benar masuk perangkap. Melalui dirinya, sudah coba dia menahan Aldo dengan berpura-pura tidak menyukainya selama ini, tapi nasib memang menakdirkan Aldo dan keluarganya menebus dosa kerakusan ayahnya dimasa lalu.

“Aku juga suka sama Aldo, aku juga sudah tahu bakal kayak gini akhirnya, makanya aku bilang tidak suka sama dia, menjadi pahlawan itu gak enak”

Kata-kata itu dikirimnya bersamaan kepada semua sahabatnya, Dia sudah ikhlas dan sudah mengerti apa yang akan terjadi untuk menebus paginya yang kembali indah. Tapi paginya yang indah memang tak lagi sama.

Pagi memang tak pernah berhenti membenci matahari,
Walau sinarnya memisahkan embun dari rerumputan,
Tapi dengan itu pulalah mereka mengerti,
Bahwa harga pertemuan hadir dari perpisahan.

Kepentingan yang memihak

Berbaju putih hitam Dia masuk ruangan itu, menyerahkan sejumlah berkas kepada orang yang disebut Sekretaris Dekan, wajahnya wanita sekretaris itu Dia kenal sejak dulu walaupun setelah 5 tahun tak masuk kampus ini lagi. Dia mendapati banyak yang berubah termasuk Dekan yang sekarang ini adalah perempuan yang mengajarinya menghitung jumlah sirip dari seekor ikan di sebuah lab gedung C kampus ini.

senior

Diruang tunggu ruangan itu Dia mendapati Anam adik tingkatnya yang ternyata juga menyerahkan berkas yang sama, Dia orang yang kukenal kukuh dengan pendiriannya walaupun memang ada yang menyimpang tapi hari ini dia menyerahkan nyawanya karena pernikahannya sebentar lagi mendorong untuk menjadi manusia yang realistis.

“Mas Syamsul mau daftar asdos juga? “ Anam membuka percakapan setelah mereka saling berjabat tangan.

“Iya, udah lama pengen balik kampus tapi baru sekarang ada kesempatannya” jawab Syamsul pelan sambil merapikan tas di pangkuannya.

“Sampean wes S2 ta mas “ tanya Anam lagi

“Belum Nam, tapi aku dihubungin Pak Leo Dosen pembimbingku untuk segera ngadep karena dosen sosial memang lagi kurang” jelas Syamsul sambil memainkan handphone ditangan bermain social media yang dipunyainya.

“Tapi kan syarate harus S2 mas “ tanya Anam dengan sedikit menyelidik

“Siapa bilang asdos harus S2 Nam, wong Aku tadi lihat Untung anaknya Pak Hary dibawah tercatat sebagai dosen kok, dia kan masih SE, ngajar mata kuliah sosek juga gak nyambung tapi bisa kan” Kata Syamsul tapi dengan nada yang agak ragu. Anam dengan sedikit senyum akhirnya mengiyakan walaupun memang juga ikut ragu

Syamsul memang sedikit ragu, konflik lamanya dengan para senior yang ditentangnya karena dualisme kepemimpinan organisasi tempat aktifnya saat mahasiswa masih sedikit menghantui, itulah sebabnya dia mendekat kepada Pak Leo yang notabene adalah dosen beraliran merah tapi dirinya punya kedekatan karena skripsi sosialnya begitu disukai oleh Pak Leo yang menjadi pembimbing utamanya. Sebagai orang sosiologi Pak Leo waktu itu kaget ketika Dia menghadap dan mengajak diskusi kelas sosial marxis serta ingin membahasnya dalam satu model skripsi sosial, Pak Leo sangat senang karena diangkatan Syamsul hanya dia yang berani mengambil skripsi sosial dan menantang langsung dirinya menjadi pembimbing utama.

Syamsul memang sangat doyan sosiologi, ketertarikannya pada ilmu filsafat membawanya doyan untuk bermain pada teori-teori ideologi besar dunia, pun sebab itu Syamsul pernah dua tahun menjadi atheis yang walaupun akhirnya kembali karena Dia memaksa memahami bukunya Imam Ghazali tentang Filsafat Islam. Diskusi filsafat, buruh, kapitalisme dan sosialisme begitu mewarnai dunia organisasinya ketika Dia menjadi Kabid salah satu bidang tentang itu, mengetahui hal itu karena ketika beberapa tahun kemudian masih ada perbincangan tentang sosok Syamsul dan dikulik beberapa kepengurusan yang dulu memang sempat dikader Syamsul secara langsung. Termasuk isu dualismenya yang menantang seorang ketua umum agar tidak tunduk secara mutlak pada titah-titah senioritas yang memang masih ada di organisasinya sampai sekarang.

Menurut kabar yang beredar pula ketika momen organisasi di sebuah BLK di Lawang, para pengurus waktu itu Syamsul dan seangkatannya kaget karena banyak sekali senior yang datang bahkan yang sudah sangat tua sekali dan bisa dibilang menyidang seorang Syamsul secara langsung dan diperhadapkan antar pengurus.

“Tidak nurut sama kami gak papa, tapi perlu diketahui tanda tangan dan rekomendasi kami sangat diperlukan untuk Dosen dan Beasiswa nantinya “ Kata seorang senior yang kini aktif menjadi pengusaha lele dan pakan ikan.

“Permasalahan nurut atau tidak itu relatif mas, secara pribadi saya tidak ada niat menantang panjenengan semua tapi hanya ingin pada zaman kami jangan terlalu disuap dengan ketika di instruksikan A harus menjadi A, bolehlah kami modifikasi menjadi B atau bisa jadi C karena pemikiran tiap zaman berbeda” jelas Syamsul menanggapi dengan dingin.

Semua terdiam waktu itu dan para senior dengan sedikit agak marah menganggap kata-kata Syamsul waktu itu menjadi sebuah bentuk pembangkangan yang puncaknya ketika diakhir kepengurusan laporan pertanggungjawaban kepengurusan bidang Syamsul, semua senior beranjak keluar dan tidak menghadiri arena musyawarah. Syamsul senang sekaligus sedih, senang karena LPJ nya tidak terlalu lama, sedih karena kerja kerasnya semasa kepengurusan tidak dikritisi dengan begitu berarti tapi diujungnya dia mendapat nilai D+, dan yang mendapat nilai B hanyalah Ketua Umum.

***

Perjuangan melawan primordialisme juga dihadapi Anam ketika masanya menjadi pengurus 3 periode setelah Syamsul pergi, keputusannya untuk mengajarkan adik-adiknya kritis pada sebuah biaya penyelenggaraan kepanitian Kuliah Kerja Nyata di kampus membawanya pada satu masalah serius, dibenci sebuah patron politik yang selama ini menjadi puncak senioritas, bahkan Naim yang memimpin aksi protes tersebut pun masih ikut terkena getahnya beberapa tahun setelahnya, yang walaupun akhirnya termaafkan oleh sebuah patron politik lain yang membersihkan namanya. Sementara Anam yang tak termaafkan akhirnya memilih bergerilya dibelahan patron politik lain yang ada di dunia kampus besar ini, dan menjejakan kakinya di posisi “nyantrik” pada sosok senior eksentrik yang suka melawan arus patron politik tapi punya kedigdayaan mumpuni.

Tapi nasib berkata lain, ketika beberapa tahun kemudian sosok eksentrik itu harus menyerah pada liver yang menggerogoti tubuhnya dan pergi meninggalkan kejayaan sebelum mengatur mahkota penerusnya. Anam turut hilang setelah itu, kejayaan yang selama ini diaturnya hanyalah seperti kancil yang berjalan bersama Sang Harimau, penduduk hutan ikut takut pada kancil karena sosok disampingnya bukan sosok asli ragawinya sebagai kancil.

Peristiwa itu akhirnya mengantarkan Anam berdiri disamping Syamsul dua hari setelah pertemuan mereka didepan ruang dekanat, menatap nanar sebuah papan putih pengumuman yang berada disudut gedung kampus itu, mereka berdua berharap nama mereka masuk sebagai asisten dosen yang diumumkan hari itu itu. Tapi nasib sepertinya berkata lain, nama mereka tidak ada walaupun diulang berkali-kali dibaca dari atas sampai bawah papan pengumuman, sementara di ruang sebelah para pegawai tata usaha sorak sorai menyambut Bayu yang berada didalam rangkulan Pak Hary, nama Bayu ada di kertas pengumuman ini dan Dia adalah keponakan Pak Hary, seorang mantan PDI, PD II kampus ini berikut gelar teman terdekat patron politik kampus yang memusuhi Anam karena peristiwa lalu.

“Sampean seh mas, nakal pas dadi mahasiswa “ sambil tergelak Anam mencoba menggoda Syamsul yang masih diam. Syamsul cuma bisa tersenyum kecut

“Tapi Bayu itu masih S1 kan ya, kok dia bisa diterima ya, kamu kan S2 Nam, kalah awakmu ambek dee” balas Syamsul menggoda.

Akhirnya mereka berdua cuma bisa tertawa dengan nasib mereka yang walaupun aslinya mereka bingung dengan masa depannya masing-masing, sampai Pak Leo lewat dengan membawa payung khasnya dan mengajak Syamsul menemani perjalanannya.

“Saya minta maaf, janji saya kepada kamu tidak bisa ditepati, rekomendasi yang saya berikan kepada Ketua Jurusan dan juga diterima Dekan dengan mengandalkan teman seangkatan mentok di Ketua Prodi dan beberapa dosen yang akhirnya Ketua Jurusan mengalah tidak mau melawan arus” jelas Pak Leo sambil menepuk pundak Syamsul

“Tidak masalah pak, saya sudah tahu jalan ceritanya sejak bapak posting nama saya di grup whatsapp dosen jurusan banyak yang beriak pak, saya hanya gak nyangka pengalaman saya 5 tahun di perusahan perikanan negara tidak jadi portfolio yang cukup mengajarkan tentang perikanan secara aplikatif” sahut Syamsul dengan mencoba tenang

“Kamu ada masalah dengan para seniormu?” tembak Pak Leo langsung. Pengalamannya di organisasi sejenis dimasa mudanya membuat Pak Leo mampu membaca proses tidak wajar yang terjadi menjelang rapat jurusan yang ingin dijadikannya ruang perkenalan Syamsul yang dianggapnya kompeten.

“Tepatnya mungkin bukan masalah pak, saya dianggap variable tidak penting sehingga ijazah S1 saya dijadikan ganjalan” kata Syamsul lagi dengan benar-benar tenang.

“Tapi tidak usah dibahas lagi pak, mungkin saya tidak rejeki dikampus ini” Syamsul menambahkan dan mencoba mengalihkan pembahasan. Pak Leo akhirnya hanya bisa mengangguk dan mulai berdiskusi tentang buku Jared Newton yang baru, mereka larut sampai sore berdiskusi tentang posisi geografi yang membuat orang berpindah-pindah dan akhirnya menciptakan budaya yang lebih tinggi karena kekurangan geografisnya. Mereka akhirnya lupa pada masalah mereka karena ilmu yang seimbang dan perlakuan antar manusia yang seimbang menciptakan sebuah ketenangan.

***

Primordialisme selalu ada dalam tiap sistem kehidupan manusia, dan “pembangkangan” Anam dan Syamsul dianggap lunas dan jelas hari ini, tanda tangan sakti sang senior tidak didapatkan akhirnya menghambat laju perjalanan hidup yang bergairah ingin mereka jalani, pada akhirnya mereka memilih jalan-jalan sunyi untuk membangun mimpi jauh dari keramaian dan semoga keramaian yang akhirnya menemukan mereka.

Tato mawar Luna

Taksi meluncur dengan cepat melintasi perempatan Jalan Pemuda yang lampunya sedang hijau untuk masuk daerah Embong Kenongo dimana Aku memesan online di kereta tadi siang dalam perjalanan dengan Kereta Taksaka. Karena terlambat memesan kereta akhirnya perjalanan ke Malang untuk liburan harus melewati Surabaya dulu lalu besok paginya disambung dengan bus dari Bungurasih, tidak terlalu lama sampailah di hotel yang dituju sebuah hotel kelas tiga hitungannya tapi cukup nyaman kalau dilihat dari tampilan websitenya tadi sekilas aku lihat melaui ipad.

Foto Tatto Bunga Mawar Di Bahu, Pundak, Lengan, Paha, Dada (18)

 Setelah registrasi sebentar dan mendapatkan kunci dari resepsionis, aku lihat kamarnya no. 248, lantai dua berarti akhirnya walaupun ada lift Aku cepat menaiki tangga yang ada di sudut kiri hotel itu, sambil olahraga pikirku, ketika aku naik dengan cepat karena badan yang sudah sangat lelah tidak sengaja aku menabrak satu pasangan yang kebetulan lagi turun.

“Sorry mas, gak lihat tadi “ kataku sambil dengan cepat mengambil dompet dan beberapa kantong plastik yang jatuh karena tabrakan denganku.

“Matane digae mas, guduk dalanmu dewe iki” kata si cowok dengan bersungut-sungut khas suroboyan. Sementara si cewek hanya diam dan menerima barangnya yang jatuh dariku.

“Iya mas, maaf sekali lagi” kataku sambil mengerling si cewek yang jadi pasangannya, dahiku langsung mengernyit seakan pernah lihat dengan wajah itu, tapi lupa entah dimana. Masih bersungut-sungut si cowok ketika mereka berdua turun dan hilang dibelokan tangga melingkar hotel itu, sepintas gaun malam dengan baku terbuka yang dipakai cewek itu menampakan sebuah gambar dibelakang bahu sebelah kirinya. Aku masih diam dan mencoba mengingat tapi karena badan sudah sangat teramat lelah 18 jam di kereta membuatku langsung tepat ketika masuk kamar dan bertemu bantal.

 ***

Mata masih perih ketika alarm membangunkanku sekitar jam 8 pagi, janji ketemuan dengan sang pujaan hati siang di Malang membuatku terpaksa mengatur alarm sebelum tepar semalam, kuraih handphone terus mematikan alarm sambil mengecek notifikasi yang masuk, ada 6 panggilan tak terjawab dari pacarku, ku tekan tombol dial dan tersambung ke nomornya, langsung terdengar teriakan yang membuatku otomatis menjauhkan handphone dari telinga.

“kemanaaaa aja sih yaaangg, aku telponin dari pagi lo “ kata Tari pacarku dengan gak sabar

“Ketiduran dari semalam pas terakhir ngabarin kamu semalam tuh, sabar napa “ timpalku sambil ngegodain dengan suara lucu

“Aku tunggu di Malang jam 1 loh ya, gak ada di Arjosari jam segitu tak tinggal pulang “ katanya dengan nada merajuk

“Iya iki loh tak mandi dulu, sarapan trus langsung ke Bungur, sabar yaa “ mencoba merayu walaupun aku tau ngerajuknya pasti pura-pura, begitulah perempuan maunya ditinggikan mulu.

Perlahan ngerajuknya memang benar menghilang, kita berbicara sebentar selanjutnya aku pamit mandi dan siap-siap. Bergegas Aku mandi, pakaian  dan setelah siap semua jam masih menunjukan pukul setengah sembilan, masih cukuplah buat sarapan dulu pikirku, aku langsung menuju lantai 4 hotel itu sesuai info semalam yang aktu terima dari resepsionis hotel ini memang menyediakan sarapan paginya dilantai tersebut. Setelah sampai disana mengambil beberapa makanan untuk pengisi perut aku lihat tempat agak penuh karena semua tamu hotel memang lagi sarapan dan cuma ada satu kursi kosong di dekat sudut pengambilan minuman. Aku permisi pada orang yang duduk sebelumnya dan ternyata memang kosong, ketika aku duduk ternyata cewek dengan gambar bunga dipunggung itu yang ada di depanku, kita saling bertatapan sejenak dan kulirik teman cowoknya bukan yang semalam marah-marah Karen kutabrak, otakku mulai berpikir aneh.

Tiba-tiba segerombolan cewek empat orang bergeruduk datang dimejaku dan memeluk si cewek itu dan dua teman lelakinya yang ada di depan dan disampingku, bisik-bisik aku dengar percakapan yang membuatku semakin mikir “ gimana sama Luna semalam om, memuaskan ya “ kata seorang cewek yang baru datang itu, yang disapa om itu hanya senyum-senyum sambil bilang “masih kurang lah, lanjut sampai makan siang lagi abis ini” sambil menyeringai dengan buruknya. Si cewek yang disebut Luna itu hanya diam, mukanya memerah tapi masih mencoba mengunyah makanannya dengan tak berselera, kita saling melirik hati-hati takut ketahuan cowok disampingnya. Kusudahi sarapanku secepat mungkin dan langsung turun check out, langsung minta dipanggilkan taksi.

***

Wajah Luna memerah menahan rasa sakit yang dalam, pinggul mulusnya diraba sampai ke bawah paha dan rasanya ada cairan masuk begitu dalam tubuhnya dalam beberapa hentakan dan ukiran lelaki yang ada diatas tubuhnya, rasa yang sebenarnya tidak terlalu sakit dibandingkan noda yang hadir setelah persentuhan itu, dia resmi menjadi gadis malam kelas atas dengan hasil ukiran bunga mawar disekitar pinggul yang baru jadi beberapa detik lalu sebagai tanda dia peliharaan resmi Mami Lendra

Luna tak pernah mengerti hidupnya berlalu secepat itu, ketika bertemu Jawy di restoran hotel pagi tadi dia baru tersadar satu hal sosok yang sejak semalam menganggu pikirannya adalah orang yang pernah menjadi asdos di mata kuliah yang pernah diikutinya sebelum amburadul seperti sekarang, beberapa kali smsan tapi tak berujung penembakan dan hilang ditelan bumi membuat dia tak sempat lama memikirkan sosok itu, tapi tadi Dia menangkap wajah terkejutnya mendengar celetukan beberapa teman sepermainannya.

Belantara Surabaya sudah merubah Luna yang dulu, seorang anak desa di Turen, Malang yang miskin bahkan membeli sepatupun tak mampu membuatnya hidup beringas untuk bertahan dari cacian dan cibiran teman-teman sebayanya, gaya hidup dan gadget telah membawanya masuk kedunia yang begitu dalam dengan mencoba peruntungan sebagai purel karaoke ternama terlebih dahulu, merasa bahwa tanpa harus ternoda secara kelamin dan mudah mendapatkan rupiah dalam semalam membuatnya betah dengan pekerjaan itu, bahkan ada satu dosen yang ingin menikahinya dengan resmi walaupun tahu profesinya dia pun bergeming karena dosen itu hanya naik vespa butut ketika menghabiskan sebagian besar gajinya sebagai pengajar di universitas swasta demi untuk membooking Luna beberapa jam dan berupaya menyadarkannya.

Harta dan tahta memang telah merubah seseorang menjadi budak hawa nafsu, tapi seyogyanya kita yang hidup normal pun telah ikut bersalah karena membiarkan stigma harta dan tahta itu menguasai relung pemikiran tentang nilai-nilai sosial yang disandangnya, dunia pun ikut bersalah.

***

“Aku di Malang ketemu sama Melia, jadi tahu tentang ceritamu lengkap dari dia “ ucap Jawy membuka percakapan ketika lama mereka saling berdiam dan hanya berpandangan sambil mengaduk gelas minuman masing-masing.

“Kamu apa kabar mas, dulu kok menghilang gitu aja“ kata Luna mencoba mengalihkan pembahasan Jawy yang sudah tau akan bakal kemana.

“Kabarku baik, aku yang menghilang karena sudah lulus dan harus melanjutkan hidup” balas Jawy dengan hati-hati.

“Kenapa gak pamit mas dan kenapa pula sampai nanya Melia tentang Aku”

Luna mulai menyerocos banyak tentang harapannya dulu untuk kenal lebih dekat dengan Jawy sebagai sosok kakak tingkat dan asdos yang baik dimata teman seangkatannya, tapi hilang begitu saja tanpa kabar ketika dia sudah merasa nyaman. Jawy mendengarkannya dengan sabar tanpa membantah dan sesekali tersenyum masygul.

Pilihan Jawy untuk menemui Luna sebelum balik ke Jakarta memang mendadak, sesaat ketika dia pamit dari pacarnya di Stasiun Kota Baru Malang untuk naik Gajayana,  Dia tiba-tiba memutar arah dengan memanggil taksi dan menuju Terminal, berbekal tiket utangan dari travel langganan kantor yang bisa dibayar pas gajian Dia nekat memilih naik pesawat ke Jakarta besok pagi.

“Mas mau menghakimi aku dengan keadaanku yang kayak sekarang?” cetus Luna membuyarkan tatapan diam Jawy.

“Kamu jangan berpikiran aneh-aneh dulu, aku hanya pengen ketemu kamu dan pertemuan kita di hotel waktu itu membuatku kepikiran, 5 tahun kita pisah aku gak ngenalin kamu sama sekali dengan dandanan gitu “ jelas Jawy dengan terang

“Ini kisah hidupmu, kalau misal kamu masih bisa bangkit dan berubah ya itu untuk kamu sendiri “ tambah Jawy hati-hati

“Aku berubah juga buat apa mas, sampean mau ta nanggung hidup dan nikahin aku ketika tau aku kayak gini? “ panas suara Luna sedikit keras membuat Jawy sedikit berpaling ke orang sekitar yang ada di restoran itu, untungnya semua terlihat sibuk sendiri.

“Ya gak gitu juga, berubah ya buat hidup kamu loh “ tandas Jawy dengan tegas

“Kalau sampean mau nikahin aku setelah tau aku gini aku tobat mas, kalau enggak yasudah nasehat sampean simpan untuk orang lain saja, ini hidup mas gak gampang, gajiku waktu kerja jadi CS bank dulu gak cukup walaupun buat beli bedak aja” kata Luna dengan sedikit sengit.

Jawy terdiam dan tidak tau harus berkata apa, andaikan dia belum berhubungan dengan Tari, pilihan untuk mendapatkan barokah dengan menyadarkan orang yang pernah diliriknya beberapa tahun silam pasti diambilnya, tapi sekarang tidak semudah itu apalagi keluarga besar Tari sudah dikenalnya kemarin siang dan mulai menanyakan keseriusan kapan orang tuanya main kerumah, Dia saat itu hanya tersenyum dan pun saat ini cuma bisa tersenyum, cinta dan kenyamanan memang selalu bertolak belakang, yang akhirnya cinta pun banyak mengalah demi hidupnya.

Jawy melangkah gontai kembali ke hotelnya, ada sedikit perasaan menyesal Dia membuang tiket kereta tadi sore, dan hasilnya Zoonk !!!, dia memang tidak berharap banyak memang awalnya tapi ada sedikit luka di hatinya mengingat sebuah kecantikan harus dijual untuk kenyamanan hidup dan itu dilakukan oleh orang yang dikenalnya diputuskan malam ini kembali hotel dan mandi lantas bersantai dan bangun subuh untuk mengejar pesawat pagi, tak diperdulikan beberapa temannya yang sedari tadi bbm menanyakan posisi. Jawy sedang terluka jiwanya.

Setelah mandi dan mencoba berbaring, melihat chanel tv kesukaan membuatnya larut sejenak walaupun masih berharap Luna datang ke hotelnya dan sekedar berbincang-bincang mengenang masa lalu dan memilih untuk pergi dari dunia pelacuran yang digelutinya, sampai terlelap Luna yang sudah diberi tahu kamar hotelnya sebelum mereka berpisah pun tak datang.

TING TONG !!! . Terdengar bel kamar dipencet, Jawy tersentak dan langsung tersadar, Luna pikirnya, dengan cepat Dia membuka pintu dengan muka riang, ketika pintu terbuka wajah riangnya meredup, sosok wanita cantik dengan rambut terurai indah berdiri dihadapannya dengan gaun malam yang menggoda. Wajah perempuan itu lebih terkejut dan langsung lari turun melewati tangga

“Tariiiiiii “ Jawy berteriak,  dengan kencang dia berlari menuruni tangga mengejar perempuan itu, ketika sampai di lantai bawah dan mengejar ke depan hotel terlihat Tari bergegas menaiki Honda Brio putih dengan airbrush mawar merah memanjang di body samping kanannya yang mesin sudah menyala dan melaju kencang meninggalkan hotel.

Jawy diam,  wajah perempuan itu menghiasai hari liburannya dua hari kemarin di Malang. Wajah syahdu dengan jilbab pink kesukaannya begitu teduh  dipandangnya. Baru beberapa jam yang lalu dia menasihati orang yang dikenalnya untuk tidak hidup dijalan yang dipilihnya hanya karena kenyamanan duniawi tapi ternyata Perempuan yang dianggapnya kekasih pun telah pergi dibawa kenyamanan hidup yang dipilihnya.