Tips Memilih Buku yang akan dibeli

Pernah gak kamu merasakan ketika berada di sebuah toko buku, melihat buku bagus covernya maupun sinopsisnya tapi ketika sampai dirumah buku itu zonk, gak bagus dan merasa rugi karena mengeluarkan uang untuk membeli buku yang jelek, baca artikel ini supaya kamu gak merasakan hal yang sama lagi. Serius !!

Memilih buku yang bagus atau tidak memang perkara yang menarik dan membutuhkan pengalaman panjang dalam membeli buku.

Pelajari Track Record Penulis Buku

karir_menulis

Ini yang sering saya lakukan ketika membeli buku, banyak penulis yang membuat buku rata-rata bagus, bahkan bisa dibilang tidak ada yang jelek, hal ini akan memudahkan kamu ketika melihat buku penulis A ada di toko buku dan buku sebelumnya penulis rata-rata bukunya bagus, maka jangan ragu untuk membeli karena bisa dipastikan buku tersebut juga bagus setidaknya peluang 80%.

Mencari Reviewnya di Internet

Masih-Pentingkah-Review-Buku

Saat ini dengan bantuan google search kita hampir bisa mendapatkan semua informasi yang kita inginkan, termasuk dengan review buku sudah banyak berseliweran dihalaman google, kamu bisa membacanya lebih dulu kemudian bisa menyimpulkan sendiri buku tersebut bagus atau nggak, mungkin ada yang bertanya kan ini sama dengan membaca sinopsis buku yang ada di belakang buku? Saya pastikan untuk zaman now hal itu susah dipastikan karena terkadang sinopsis hanya mencuplik beberapa paragraf entah ada dihalaman berapa buku tersebut. So, lebih aman membaca reviewnya.

Buat kamu yang merasa takut membaca review seperti spoiler dan sudah tahu akan seperti apa, jangan khawatir karena membaca review adalah membaca sudut pandang, hanya beberapa blogger saja yang membuat review seperti mencopy paste sebuah buku dan bisa dipastikan dia bukan blogger yang baik dan akan jarang muncul dihalaman pertama pencarian.

Membaca bukunya

2017-04-21-1149327229200000-tujuan

Mungkin ada yang aneh, kan bukunya belum dibeli kok sudah disuruh baca aja. Kalau kamu berkomentar kayak gitu bisa dipastikan kamu jarang ke toko buku. Dalam toko buku sering sekali banyak pembeli yang jahil dan kadang membuka penutup plastik buku tanpa membeli (kalau ketahuan disuruh membeli) dan oleh penjaga tokonya buku tersebut bukan dipindahkan tapi kadang diselipkan dibagian belakang tumpukan buku, maka kamu harus mencari sampai sudut dalam untuk menemukan buku yang sudah dibuka tersebut, membaca sejenak dan putuskan membeli atau tidak.

Melihat posisinya di Toko Buku

Manfaat Sering Membaca Buku Untuk Kesehatan

Kalau dipehatikan ketika masuk dalam toko buku, banyak rak-rak dan tumpukan buku yang diatur sedemikian rupa, bahkan di salah satu toko buku di Malang tempat langganan saya, ketika menjejakan pertama kali turun dari eskalator di kanan ada tumpukan buku yang rata-rata baru keluar, best seller atau dari penulis ternama dan kalau sudah ada disitu jangan ragu buku tersebut pasti kebanyakan bagus, atau biasanya di tengah-tengah ada tumpukan buku dengan embel-embel yang sudah dinamai, kamu tinggal mengklasifikasinya lagi sesuai dengan keinginan kamu.

Tapi 4 tips ini bukan pakem yang murni, karena membaca buku serta akhirnya menilai buku itu bagus atau tidak tergantung mindset kita masing-masing sebagai pembaca, bahkan ada sebuah buku yang saya beli 5 bulan kemarin membacanya saja malas, dalam 10 halaman pertama tidak memancing saya untuk membaca lebih lanjut, tapi di watpadd buku itu sudah dibaca lebih dari 10 juta kali, ini membuktikan mindset saya dalam menilai buku memang berbeda dengan orang lain.

Makanya sekali lagi, itu adalah penilaian kamu. Selamat membaca.

Iklan

Review Novel Anak Rantau-A.Fuadi

Setelah Trilogi Negeri 5 Menara yang menjadi best seller beberapa tahun kemarin sepertinya A. Fuadi tidak ingin kehilangan keeksisan, Novel ke-4 nya akhirnya hadir tanpa mantra-mantra pesantren yang jamak kita baca di buku sebelumnya.

Hepi, seorang anak yang harus pindah dari Jakarta ke kampung Tanjung Durian di tanah Minang. Berontak namun di satu sisi ada yang membuat ia merasa bahwa di kampung dirinya menjadi lebih berguna. Alasan mengapa Hepi pindah sudah cukup jelas di depan. Alur yang maju memudahkan pembaca untuk memahami sebab musabab akan suatu peristiwa yang dialami oleh para tokohnya.

IMG_20171023_154813Judul : Anak Rantau
Pengarang : A. Fuadi
Penerbit : Falcon Publishing
Halaman : 357
Harga : 90.000

Adapun ayahnya Hepi adalah Martiaz, seorang putra asli Tanjung Durian, anak dari seorang Datuk bernama Datuk Marajo Labiah. Di novel ini Martiaz diceritakan hidup menduda sejak ditinggal mati istri yang sangat dicintainya, lalu membesarkan sepasang anaknya seorang diri. Hepi adalah anak keduanya, tapi sering bermasalah di sekolah. Saat Martiaz mengambil rapor anaknya di salah satu SMP di Jakarta, dia termenung. Nilai Hepi buruk. Ditambah lagi perangai anaknya itu tidak jelas, sering menghilang. Akhirnya, Martiaz membawa Hepi pulang kampung. Hepi yang heran ayahnya tidak marah, justru senang diajak pulang ke kampung ayahnya di Tanjung Durian.

Kisah itu perlahan mulai kaya dengan pengalaman Hepi pasca ditinggal ayahnya. Bagaimana ia dengan sabar mencari uang untuk membeli tiket pesawat ke Jakarta, lalu hidup dibawah didikan Datuk Marajo, bertemu Attar dan Zen, tinggal di surau, sampai menjadi sosok pahlawan Tanjung Durian dan terlibat dalam peristiwa kriminal yang hampir merenggut nyawanya. Novel ini mencapai titik klimaks ketika dia digantung hidup-hidup oleh komplotan pengedar narkoba.

Ahmad Fuadi mempunyai kekuatan untuk menuturkan kisah secara rapi dan runtut. Plotnya tersusun minim celah sehingga pembaca bisa mengikuti dengan nyaman. Tidak terburu-buru dan tidak juga dibuat mengantuk. Begitu pula dengan penokohannya yang masing-masing tokoh sentral memiliki latar belakang yang cukup kuat untuk dikembangkan. Meskipun begitu, cerita dalam novel ini mudah ditebak. Apalagi yang sebelumnya sudah membaca trilogi Negeri 5 Menara. Pembaca akan menemukan pola yang berulang.

Secara keseluruhan novel ini hanyalah bagian dari karya yang tanpa mantra, setelah mantra itu habis di 3 buku, yang selanjutnya sepertinya butuh mantra lain.

Review Novel Eliana-Tere Liye

Setelah Amelia, Burlian dan Pukat, akhirnya tibalah kita pada part ke 4. Si sulung Eliana, anak pemberani Bapak dan Mamak akhirnya diceritakan. Dalam novel yang settingnya digambarkan di lembah bukit Provinsi Sumatra Selatan, sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan dan sungai, novel ini menggambarkan rasa ingin tahu, proses belajar, menyatu dengan kepolosan, kenakalan, hingga isengnya dunia anak-anak, petualangan hebat, ketika persahabatan, pengorbanan, dan pemahaman tentang kehidupan tumbuh dari wajah-wajah ceria  terus melekat sehingga mereka dewasa.

Kisah dalam novel ini dimulai ketika suatu hari Eliana diajak Bapak ke Kota Provinsi untuk sekedar melihat bagaimana perawakan kota besar. Namun, sesungguhnya Syahdan, nama Bapak, serta beberapa tokoh desa akan melaksanakan negosiasi dengan Johan, pemilik perusahaan tambang pasir yang ingin mengambil alih lahan kampung yang menjadi sasaran lokasi penambangan. Karakternya yang pemberani sudah muncul sejak awal-awal kisah, dimana dia berani membentak ‘para petinggi’ di sebuah forum resmi, “JANGAN HINA BAPAKKU!!”

IMG_20171023_153619Judul : Eliana
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Halaman : 513
Harga : 65.000

Kisah ini diceritakan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami dan penuh dengan pesan moral. Sekali membaca rasanya takkan mau untuk berhenti membaca. Dengan membaca kisah ini, kita akan belajar bagaimana untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi suatu masalah, selain itu seperti buku-buku serial sebelumnya tentang ketiga adiknya di buku ini kita juga akan mengerti bagaimana besarnya kasih sayang seorang ibu kepada kita dalam versi masalah yang lain.

Kisah Eliana di dalam novel ini, agaknya membuka mata kita bahwa anak perempuan kecil seperti Eliana saja mampu berpikir dewasa untuk melindungi warisan leluhur. Bukan sekedar memikirkan materi dunia, dengan mengambil habis warisan alam. Anak perempuan pemberani seperti Eliana ini patut sekali perangainya ditiru. Meski diawal sangat geram menjadi anak sulung karena selalu menjadi bodyguard dan alarm bangun pagi untuk adik-adiknya.

Sebenarnya saya berharap pada kisah Marhotap akan berakhir seperti Raju, setelah dengan gagah berani melemparkan balon berisi minyak tanah dan kemudian melemparkan api ke truk-truk pengangkut pasir yang menjajah desa mereka, Marhotap hilang, sama seperti Raju di buku Pukat yang hilang setelah banjir bandang, selalu saja ada yang hilang di serial anak mamak ini, Ahmad, Raju dan Marhotap, kisahnya apakah sama? bacalah setiap buku serial ini.

Pada  bab terakhir yang menyatakan bahwa Ely sudah dewasa dan menjadi seorang pengacara. Memang benar bahwa hal itu bagus sekali untuk diri Eliana sendiri bahkan untuk kampungnya, namun yang novel ini tidak jadi nuansa anak-anak secara keseluruhan

Bagi yang mau belajar tentang kebijaksanaan novel ini sangat direkomendasikan baik untuk orang tua, sebagai salah satu bekal mendidik anak dan sangat sesuai bagi anak-anak dan remaja untuk menumbuhkan pemahaman tentang kasih sayang, disiplin, dan setia kawan.

Review Novel Burlian-Tere Liye

Novel ini menceritakan bagaimana masa kecil Burlian. Cerita ini dimulai dengan cerita Mamak tentang hari kelahiran Burlian si anak spesial. Diceritakan bahwa seminggu sebelum Burlian lahir ada kejadian menakutkankan yang terjadi. Kejadian itu berhubungan dengan kuburan belakang rumah mereka yang angker.

Diberi julukan “Anak Istimewa oleh kedua orang tuanya”. Bandel dan kadang susah diatur. Suatu hari dia mengajak kakaknya yang bernama Pukat untuk bolos sekolah dan mencari belalang. Kejadian itu diketahui oleh Mamak sehingga beliau marah. Maka Burlian dan Pukat dihukum mencari kayu bakar naik turun gunug denan hanya berbekal nasi putih tanpa lauk. Hukuman itu membuat kedua anak itu tidak berani lagi membolos.

IMG_20171023_153611
Judul : Burlian
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Harga : 55.000

Ketika Burlian dan Pukat nekad bermain ke sungai larangan bersama Can. Mereka berniat untuk memburu ikan. Tanpa sengaja kaki Burlian terperosok sehingga kesarang buaya. Padahal disana terdapat buaya yang sangat dekat jaraknya dengan Burlian dan siap menerkam. Kak Pukat berteriak minta tolong, untung  Bapak dan Bakwo Dar datang secara tiba-tiba. Dengan senapan angin, Bapak menembak buaya tersebut. Mereka sedikit terkejut karena selama ini mereka tidak tahu Bapak dapat menggunakan senapan angin.

Sama dengan cerita Pukat dan Amelia, kisah Novel ini disisipkan tentang kasih sayang Mamak kepada Burlian tapi dengan ide yang sangat berbeda, dimana selain bersekolah, Burlian mengaji di tempat Nek Kiba. Bila telah khatam, Mamak berjanji akan membelikannya sepeda. Tetapi sampi hari H tiba, sepeda baru belum dibeli. Burlian membenci Mamak, Burklian menyangka Mamak tidak menepati janji. Padahal uang Mamak dipakai Ayuk Eli mendaftar sekolah di kota dan membantu pengobatan anaknya Wak Lihan yang sedang sakit keras. Tetapi Burlian belum mau mengerti.

Bapak dengan sabar menasehati Burlian, menceritakan tentang masa kecil Burlian dulu. Mamak telah berkorban besar untuknya,melindungi Burlian dari ribuan lebah. Memeluk Burlian erat-erat sehingga tak seekor lebah pun menyerangnya. Mamak lah yang disengat ribuan lebah sampai Mamak sakit berbulan-bulan.

Itu hanya sebagian kecil cerita menarik dalam novel ini, kiat akan mengharu biru ketika menceritakan tentang si keriting Ahmad, si Maradona dari desa Paduraksa, begitu juga perkenalan Burlian dengan Nakamura yang akhirnya membawanya untuk terus surat menyurat dengan Keiko, si Putri Nakamura.

Dan yang paling penting adalah bagaimana pengarang kemudian menghubungkan kecerdasan nenek moyang terdahulu untuk melindungi harta karun dalam yang tersembunyi di sumberdaya alam mereka, yang akhirnya pelan-pelan harus punah dengan modernisasi.

Alur cerita novel ini sangat mudah difahami dengan bahasa yang ringan dan menyenangkan. Pengarang dapat membawa kita seakan kita mengenal Burlian dan ikut terbawa setiap suasana, baik seang, haru, sedih dan sebagainya.Hal-hal sederhana dalam cerita novel ini mempunyai nilai tersendiri yang dapat dijadikan pelajaran. Mengajarkan tentang kesederhanaan,kejujuran, keikhlasan, kasih sayang dan kerja keras dalam hidup.

Kecerdikan pengarang dalam menggambarkan setiap adegan petualangan Burlian sang anak kaki gunung yang hidup di sebuah keluarga yang sederhana sehingga pembaca seakan terbawa dalam cerita tersebut. Bagaiman polosnya masa kecil yang mengalir seperti air. Bertindak tanpa perencanaan yang malah menumbuhkan rasa ragu. Tidak takut berpetualang karena rasa ingin tahu yang teramat besar.

Review Novel Pukat-Tere Liye

Setelah membahas anak bungsu Amelia (reviewnya bisa dibaca disini) , saya pengen membahas anak kedua Ini adalah anak yang paling pintar dalam keturunan Bapak Syahdan dan Mamak Nung, kecerdasannya mengelabuhi para perampok kereta yang tidak sadar dipasang jebakan agar ketahuan polisi pun membuka cerita dalam buku ini. Dia adalah Pukat, si Jenius, Si Penemu, Si Profesor dan semua yang berbau kepintaran melekat padanya.

Lahir sebagai anak kedua dan tumbuh dengan memiliki ide yang banyak, membuat pukat sangat disegani oleh teman-temannya, bahkan ada juga temannya  sampai iri dengan kecerdasan dan pujian yang dihampirkan tetapi Pukat adalah Pukat, kecerdasan yang ada pada dirinya tidak membuatnya besar kepala, bahkan itu semua digunakannya untuk membantu sesama.

pukatJudul : Pukat
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Halaman : 343
Harga : 55.000

Akan tetapi Laki-laki tetap saja laki-laki, selain pintar yang menjadi anugerahnya, kenakalan pun lahir bersamaan mengikuti akan tetapi layaknya semua anak Mamak mereka nakal hanya untuk urusan bandel dari semua tugas yang diberikan orang tua layaknya anak yang masih mementingkan dunia anak-anak dibandingkan apa yang dipikirkan oleh orang dewasa.

Seperti cerita Amelia, Pukat pun lahir dengan ceritanya sendiri, berpasangan dengan si bengal Burlian yang menjadi pasangan kompaknya melakukan kenakalan, bagaimana mindset mereka tentang pendidikan orang tua sampai kehidupan masyarakat yang ada di sekeliling mereka. Cerita tentang menjadi detektif, membantu Ibu Ahmad yang kewalahan mengurus warung karena Nayla sakit, sampai dengan membantu gurunya Pak Bin dalam mengajar kelas lain pun mewarnai hari-harinya selain bermain bersama teman sebayanya.

Dalam buku ini ada yang paling sangat menyentuh, di Bab 14 dalam judul Seberapa cinta mamak membuat saya menitikan air mata mengingat ibu sendiri, bahkan sampai langsung menelpon Beliau menanyakan kabar dan mendengar suaranya, cinta Mamak memang tidak pernah terbatas.

Cerita berjualan duku pun memberikan dampak yang besar dalam arus berpikir kita bagaimana mengartikan menjual dalam budaya masyarakat agraris dan pedesaan, juga tentang cara bercocok tanam dalam budaya masyarakat mereka semua membentuk Pukat menjadi pribadi yang lebih baik, tapi inti cerita yang menjadi benang merah yang ada dalam buku ini itu ada di Harta karun terbesar di dunia. Dari awal sampai akhir didengungkan dan kemudian kesimpulannya begitu menggambarkan keseluruhan buku.

Baca deh, dengan pola yang sama dalam serial anak mamak ini membuat kita membaca arti lain dalam setiap jengkal kehidupan.

Buku ini saya berikan nilai 8.5 untuk semua jenis filosofi hidup dan tingkah yang mengundang gelak tawanya.

Review Novel Amalia-Tere Liye

Hai-hai…

Lama nih gak nulis, maklum penyakit blogger ya gitu kalau belum ketemu mood nulisnya bisa berbulan-bulan gak jadi sebuah tulisan yang hitungannya hanya beberapa ratus kata aja #inijanganditirukarenamemangbukanbloggerfemes# akhirnya pada ada kesempatan pengen bahas serial anak mamaknya Tere Liye yang baru dibaca dalam sebulanan ini.

Sedikit tentang serial ini keseluruhan adalah tentang sudut pandang masing-masing anak dalam memaknai pendidikan Bapak dan Mamaknya, termasuk pengalaman berharga mereka dalam kampus hidup kampungnya tentang teman, sanak saudara dan warga sekampungnya, semuanya tentang itu, dan yang pertama kita mulai bahas sinopsis si Anak Bungsu. AMELIA.

Selamat membaca karya ini, dan selamat datang di Serial Anak Mamak

******

Amelia adalah nama yang dipakai Bapak dan Mamaknya ketika dia melakukan sebuah kesalahan, melakukan pembicaraan serius, selebihnya dia dipanggil Amel walaupun hati kecilnya ingin dipanggil sebagai ELI, panggilan kakak perempuan tertuanya, ELIANA. Lahir sebagai bungsu membuatnya kerap disebut anak manja oleh kedua kakak usilnya PUKAT dan BURLIAN, mendapat perlakuan khusus ketika melakukan kesalahan akan tetapi saban hari ditekan sebuah kenyataan budaya masyarakat anak bungsu sebagai “penunggu rumah”.

Oleh ayahnya dia dianggap sebagai anak yang paling kuat, tegar dalam semua kondisi yang membuat kagum bapak dan mamaknya, tidak itu saja bahkan Paman Unus adik satu-satunya mamak memanggil dengan hal yang sama. Itulah bekal dari lahir pemberian orang tuanya.

175206_b66f2672-06e5-11e5-8336-43c249bc7260Judul : Amelia
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Halaman : 391
Harga : 55.000

Dibuku ini Tere Liye dengan jelas menggambarkan perjuangan sebagai seorang anak bungsu tidaklah selalu mudah, bahkan untuk mencapai tujuannya yang diselingi kecemburuan kakaknya yang ingin diperlakukan sama, Tere Liye menunjukan bahwa anak bungsu bisa melakukan banyak hal dengan kemampuan yang dimilikinya.

Bagaimana Amelia belajar menjadi kakaknya ELI yang dianggapnya sangat cerewet mengatur semua kehidupannya, memarahi bahkan sampai menjewer telinganya dan akhirnya ketika mencoba membalas perlakuan kakaknya dengan sembunyi-sembunyi dan ketahuan maka itulah hukumanya, Amel jadi belajar bahwa menjadi anak sulung tidak semudah yang dilihatnya. Tidak itu saja, ternyata pendidikan model Bapak dan Mamaknya ampuh sekaligus dalam mendamaikan mereka, harus diakui dalam banyak hal buku novel Tere liye untuk serial ini cocok untuk dijadikan sebagai literatur orang tua bagaimana mendidik anak mereka.

Yang paling menakjubkan adalah bagaimana riset Tere Liye tentang tumbuhan yang akhirnya mengaitkan karet, mangga sampai mencangkok hingga akhirnya menimbulkan ide yang brilian dikepala Amelia, sampai dengan ide tentang kultur jaringan melalui daun pun baru tergambar dikepala saya. Perpaduan ceritanya begitu terasa mulai dari tengah sampai ke akhir, tapi harus diakui ceritanya dengan ending seperti itu bukanlah favorite saya.

Tidak hanya tentang hal yang serius, cerita yang lucu tentang Burlian dan Pukat tentang serba-serbi sunat pun menjadi satu kelucuan tersendiri, belum lagi candaan cerdas antara Pendi dan Juha yang dimunculkan oleh penulis tidak bisa dianggap enteng, kalau bisa berstand up comedy sepertinya Tere Liye bisa dengan bahan-bahan seperti itu.

Saya memberi nilai 8.0 untuk novel ini, very recomended untuk semua orang yang merasa menjadi anak bungsu atau orang tua yang ingin mengetahui cara mendidik anak yang terlahir paling buncit termasuk dengan semua kemanjaan dan rengekan yang hadir. saya yakin pasti akan menjadi bahan pembelajaran yang baik.

 

Review Novel Hujan- Tere Liye

IMG_20170803_220350

Judul: Hujan
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia
Tebal: 315 halaman
Harga : 80.000,-

Semua kisah penting Lail hampir dibarengi dengan hujan turun setelahnya, saat malapetaka terjadi yang mengharuskannya kehilangan kedua orang tuanya pun hujan turun dengan deras, tapi kesedihan itu akan hujan terhapus dengan kehadiran Esok, kisah mereka berdua sejak kecil sampai dewasa pun diwarnai dengan hujan turun. Tapi Lail ingin melupakan hujan, melupakan semua kenangan yang terjadi saat hujan. Esok, orang tuanya dan peristiwa yang terjadi di bumi sebagai penyebabnya.

Dalam banyak karya Tere Liye kalau pembaca setianya mengikuti alurnya, tokoh utamanya dilahirkan hampir semua dengan modal kesedihan yang paripurna, bangkit dari segala keterpurukan dan kemudian lahir sebagai manusia baru tapi kemudian masalah lain menggelayuti kehidupan mereka, yang berhubungan dengan masa lalunya setidaknya itulah yang terlihat ketika kita membaca Negeri pada bedebah atau Rembulan tenggelam diwajahmu.

Ramuan Novel Hujan tapi sedikit berbeda dengan kebanyakan novel Tere Liye, dengan balutan teknologi tinggi dimasa depan dan harus sedikit mengkhayal serta memahfumkan bahwa apa yang dikatakan dalam novel ini memang bakal ada dalam beberapa tahun mendatang. Baik berupa teknologi ataupun bencana yang menjadi titik sentral cerita novel ini.

Dengan pola maju mundur yang luar biasa, cerita dalam buku ini mengalir dengan baik yang nantinya akan membentuk alasan seorang Lail melupakan hujan dalam kehidupannya, tak banyak yang berubah dalam model penceritaan novelis satu ini, walaupun begitu dalam rating 1-5 buku ini layak diberi nilai 4, kegamblangan dan konflik yang diatur sedemikian rupa membuat pembaca dari kalangan manapun mampun membacanya bahkan terhanyut dalam aliran cerita yang dibangunnya.

Jangan lupa membaca buku ini, karena hujan buku ini akan membuktika 99% kenangan yang hadir itu.

Review Novel Ayah-Andrea Hirata dan kumpulan nama anehnya

IMG_20170803_220337

Judul: Ayah
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 396 halaman
Harga : 74.000

Sabari hadir dengan rasa cinta yang besar kepada Marlena, pertemuannya yang tidak sengaja saat kertas ujiannya direbut secara paksa membuat dia jatuh hati, itulah yang membuat Sabari berubah 180 derajat dari yang pesimis tentang cinta menjadi seorang melankolis mengharapkan cinta hanya dari satu perempuan saja. Pun kemudian dalam kemudian hari ternyata sebuah kecelakaan Marlena akhirnya membawa keberuntungan Sabari yang bisa menikahi gadis pujaannya. Hingga kelahiran Zorro merubah rasa cinta itu, rasa cinta seorang ayah yang tidak lekang ditelan masa.

Menjadi ciri khas seorang Andrea Hirata hadir dengan buku yang mempunyai kumpulan istilah nama yang kosong menjadi sebuah tokoh hidup, tidak saja dari Sabar yang merupakan gabungan nama sifat yang diberi akhiran i, senasib pula dengan  saudaranya yang diberi nama Berkah dengan akhiran i. entah bagaimana ide itu bisa tertuang dengan baik serta menimbulkan daya tarik cerita luar biasa.

Bagaimana juga Andrea merubah nama Mustamat Kalimat dengan nama panggilan Tamat, atau Maulanan Hasan Maghribi tiba-tiba datang dengan panggilan Ukun. atau bagaimana cerita Radio akhirnya menghubungkannya dengan nama Markoni yang aslinya tak terhubung sekalipun.

Belum terperdaya dengan istilah nama Andrea yang bukan main cerdasnya? bukalah di halaman 289, bagaimana gabungan nama-nama aneh mampu dikreasikan menjadi sebuah jalinan cerita yang membentu jalannya cerita, mulai dari nama Dinot, Mak Nga Hanum, delapan anak dari Zainap sampai Harap, Mak long Ngamot ? ada nama didunia yang seaneh bikinan Andrea Hirata ini?

Dalam rating 1-5, buku ini berada ditengah-tengah dengan nilai 3. tidak sempurna memang jika dibandingkan dengan karya penulis yang karyanya sudah ditranslate dalam banyak bahasa ini, harapan mungkin terlalu tinggi ketika membacanya, tapi sebagai sebuah buku yang utuh tidak akan menyesal kita membacanya.

Dan bagi pembaca buku ini jika tidak teliti dalam membaca halaman awal buku ini pasti akan terkecoh dan minimal bingung pada akhir cerita novel ini.

Selamat membaca ya.

Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Novel tentang kamu yang sering bertanya tentang hidup yang tak adil.

“Mengapa kau harus menjalani masa kanak-kanak yang seharusnya indah justru di panti menyebalkan tersebut? Mengapa? karena kau menjadi sebab bagi garis kehidupan Diar. Kau menjadi sebab anak ringkih, lemah dan polos itu menjemput takdir hidup yang bagai seribu saputan dilangit saat kematiannya tiba. Kau menjadi sebab seribu malaikat takzim mengucap salam ketika menjemput Diar di penghujung umurnya yang sayangnya masih sangat muda”

Potongan percakapan dihalaman 57 di novel ini bagi saya adalah kata masterpiece dalam keseluruhan buku ini, bagaimana kisah Ray tergambar dengan jelas ketika membaca fragmen ini. Bagaimana tidak, dari situlah saya menangkap jelas apa yang dimau oleh sang penulis Tere Liye dalam keseluruhan buku ini, bahwa kehidupan itu adalah salah satu alur kehidupan, bahwa satu jejak nafasmu di dunia itu pasti ada sebabnya dan tentu saja akan ada akibatnya dimasa mendatang.

Ray yang besar di panti asuhan dengan pemilik yang sangat tamak, dia tumbuh dengan berbagai macam pertanyaan yang menggelayut di kepalanya, kenapa begini kenapa begitu dan seringkali menyalahkan nasib hidup yang buruk selalu menimpanya sekian kali, bahkan kadang kala secara beruntun.

Tere Liye dalam buku ini ingin menghadirkan bacaan yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang selalu kita tanyakan ketika mengalami kesusahan, siapa dari kita yang lahir di dunia tanpa pertanyaan tentang hidupnya akan seperti apa, apalagi ketika tertimpa musibah seluruh emosi kita turun menjadi satu pertanyaan, “mengapa ini terjadi padakau Tuhan” kita semua mau diakui atau tidak pernah mengalami momen itu.

Penulis juga ingin menghadirkan fakta tidak ada yang perlu kita sesali dalam hidup bahkan seburuk apapun hal yang kita alami, bahwa ketika hal buruk terjadi pada diri kita telah menunggu hal-hal baik yang menjadi akibat dari timpaan buruk yang kita terima sebelumnya.

Bagaimana kita memaknai kehilangan dan bagaiman mengartikan sebuah duka.

****

Buku setebal 426 halaman ini adalah buku kesekian salah satu penulis best seller Indonesia, Tere Liye. Terbagi dalam 37 Bab pendek yang dalam tiap babnya tidak terlalu banyak halaman akan tetapi sangat berisi dan mengundang penasaran untuk tetap lanjut ke halaman berikutnya, judul-judul babnya pun sangat berbeda dengan novel kebanyakan, seakan tidak peduli sepanjang buku sang penulis terus saja mengumbar pertanyaan kehidupan.

Baru beberapa memang saya membaca buku Tere Liye, mulai dari Rindu, Tentang Kamu, Negeri Para Bedebah (pernah saya bahasa di link ini) , Negeri di Ujung Tanduk, dan Rembulan Tenggelam diwajahmu. di 3 judul buku terakhir saya menangkap Tere Liye membentuk karakter tokoh utamanya yang hampir mirip, semisal Zulkarnain dan Sri Ningsih di Tentang Kamu, Tommy di Negeri para Bedebah dan Negeri di ujung Tanduk, sampai yang terakhir saya baca, sosok Ray di Rembulan Tenggelam diwajahmu.Sosoknya terlalu kuat untuk dilawan, untuk ukuran tokoh laki-laki super semacam Zul, Tommy dan Ray mungkin sudah sangat biasa, akan tetapi bagaimana dengan Sri Ningsih yang juga dibuat sangat perkasa dari Pulau Bungin sampai bisa sampai di kota London, sangat sejenis karakternya, bahkan kalau saya bilang adegan Zul dan Tommy yang bisa menghajar lawannya di akhir cerita terkesan sangat sejenis.

Kembali ke buku Rembulan Tenggelam diwajahmu ini, kata-kata filosofis seorang Tere Liye memang sangat teruji disini, makna demi makna yang hadir dalam kata-kata tokoh didalamnya atau fragmen cerita yang tersusun didalamnya bakal membuat kita tersentuh semakin dalam, gabungan dua hal inilah yang kemudian menjadi kekuatan buku ini, seolah menyindir tanpa belas kasihan akan tetapi beberapa kali juga menyentuh relung hati yang terdalam.

Satu hal yang saya pelajari dalam buku ini, bahwa memang kita hidup di dunia dengan serangkaian rencana, seperti Ray yang bertemu Diar untuk menyempurkan kematiannya, juga bagaimana efek domino Diar akhirnya menyadarkan sang pemilik panti, bahkan sampai bagaimana hal-hal yang tidak ketahui terjadi begitu ajaib dikehidupannya seperti munculnya Plee dan Koh Cheu, semua itu adalah jawaban-jawaban yang hadir ketika kita terus mempertanyakan sebenarnya kita didunia mau apa dan bakal seperti apa.

Semoga dengan buku ini kita bisa paham bahwa tidak ada akibat jika tidak ada sebab.

Selamat membaca.

Relasi sebuah kata TIDAK

Kata “Tidak” adalah sebuah kata yang utuh” kata Deepak Sehgaal yang diperankan oleh Amitha Bachan dalam film PINK yang rilis beberapa bulan yang lalu, kata sederhana ini bermakna utuh dalam sebuah realitas kehidupan, ketika orang lain berkata tidak maka yang terucap adalah sebuah penolakan dan penyangkalan.

Paling tidak ada tiga narasi umum dalam kata tentang sebuah asal-usul kata tidak, narasi ini berkisah tentang 3 hubungan itu dalam sebuah konsep utuh yang menghubungkannya dalam sebuah relasi, narasi yang pertama adalah kata Tidak itu sendiri yang berelasi dengan makna kata yang dalam realitas berbeda bunyi masing-masing orang bahkan dalam bahasa kedaerahan hal tersebut berbeda akan tetapi tetap saja satu arti, atau pernah juga kita melihat orang dengan tingkat kematangan kata yang luar biasa mampu mengatakan hal dengan kata IYA sebagai lawan kata TIDAK akan tetapi mempunyai arti yang sesuai dengan lawannya, hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan dalam tesis Ernst Cassirer bahwa manusia adalah makhluk simbolik. Akibatnya, bahasa yang tadinya ditengarai sebagai yang mengelakan kita dari realitas sejati justru menjadi realitas itu sendiri.

Narasi yang kedua adalah tentang kata TIDAK sebagai sebuah kata yang menegaskan dengan imbuhan Me-Kan atau hubungan kata lain maka dia bertranformasi untuk menguatkan hal yang ingin diucapkan, meniadakan dengan tegas apa yang dinyatakan sebagai sebuah kebenaran parsial, bahwa sesungguhnya sebuah hal direalitaskan dengan tafsiran sesuai pengalaman yang dilakukan dan makna kata TIDAK ini adalah kutub lain dari realitas yang berlawanan tersebut.

Narasi ketiga adalah TIDAK sebagai sebuah sifat dari hasil sebuah pengalaman, Tidak-tidak, bukan-bukan, aneh-aneh adalah relasi lain sebuah kata tidak yang mencerminkan sebuah hal negatif yang dilakukan oleh orang lain.

Dalam makna yang dalam sejatinya sebuah kata TIDAK yang mengisyaratkan penolakan, maka secara umum apabila orang lain mengatakan hal tersebut realitasnya harus dipatuhi oleh orang lain kebanyakan bahkan dalam makna yang kasar dalam film PINK yang dibintangi oleh aktor gaek kenamaan India itu, dalam hubungan suami istri sekalipun apabila sebuah istri mengatakan TIDAK apabila suaminya meminta melakukan hubungan maka haruslah dihormati sebagai sebuah keputusan penolakan yang tidak bisa dilawan oleh pemaksaan.

Kata Tidak haruslah dimaknai secara utuh baik secara individual atapun secara relasi dengan hal lain.

*Sumber gambar : http://www.nyunyu.com