3 model anti keberagaman DKI, kira-kira pemimpin mana yang cocok?

Keberagaman menjadi bahasan yang tidak henti dihembuskan dalam beberapa bulan ini, seiring menanjaknya tren pilkada DKI yang kemudian menyiratkan sentilan tentang calon a yang anti keberagaman sedangkan yang b tidak, peperangan opini ini pun menjadi semakin brutal seakan hanya calon a atau b yang bisa menyelesaikan ini semua, seharusnya tidaklah harus seperti ini, andaikan saja tidak ada statement yang blunder di awal masa pemilihan mungkin perdebatan tentang agama apa yang harus memimpin itu tidak akan sedahsyat hari ini, iya peristiwa di pulau seribu itu kita sudah sama-sama tahulah.

Sekarang dengan hembusan yang sedemikian kerasnya ini, bagaimanakah kita bisa menjadi netral untuk menentukan siapa calon pemimpin yang digadang-gadang untuk menyelesaikan ini semua, okey agar sebanding kita harus mengosongkan pemikiran kita tentang benar salahnya peristiwa pulau seribu yang melecut ini semua, kita anggap semua calon tidak mempunyai hubungan dengan hal tersebut.

Peristiswa anti keberagaman sebenarnya bukan hal yang baru terjadi di negara kita, sejak zaman orde baru sampai reformasi saat ini, sebut saja yang terjadi pada kasus sampit yang dikategorikan sebagai salah satu satu konflik antar suku, peristiwa itu sangat membekas di tahun 2001 dimana suku dayak dan suku madura saling bantai entah dengan banyak versi yang mengklaim semua menjadi korban, konflik antar suku itu berjalan sampai satu tahun lamanya.

Peristiwa lain yang membekas begitu dalam adalah konflik antar agama di Ambon, dimana orang-orang dari kelompok kristen berperang dengan kelompok islam di tahun 1999, yang awalnya diduga hanyalah konflik biasa kemudian ditunggangi oleh pihak tertentu sehingga konflik tersebut semakin besar, konflik antar umat beragama ini kemudian memanas daalam waktu yang cukup lama.

Atau masih jelas bagaimana konflik antar etnis yang terjadi di Indonesia, dimana kerusuhan yang terjadi di penghujung orde baru 1998 awalnya dipicu oleh krisis moneter yang membuat banyak sektor di Indonesia runtuh. kerusuhan tersebut akhirnya melebar menjadi semakin mengerikan hingga berujung pada konflik antar etnis pribumi dan Tionghoa.

Ini bukan membuka luka lama kita semua, semua tidak ingin semua hal tersebut terjadi lagi di negeri kita yang tercinta ini, tapi mari kita mencoba berandai-andai dengan semua hal tersebut diatas menjadi satu gambaran bagaimana kalau hal-hal tersebut berulang di negeri kita khususnya terjadi di Indonesia, kira-kira model pemimpin seperti apa yang cocok untuk mengatasi itu semua? yang seperti A kah atau B kah?, dengan semua track record yang pernah ada dan komunikasi yang terjadi selama ini, selama masa kampanye kita dapat melihat jelas bagaimana pertautan dua kelompok sama-sama memperjuangkan keberagaman sebagai salah satu fakta, akan tetapi kira-kira manakah calon yang lebih siap?

Kira-kira calon mana dipemikiran kita yang bisa berada pada dua kutub secara bersamaan, bisa dilihat selama kampanya mana calon yang mendatangi salah seorang pemimpin suku, pemuka agama dan kelompok etnis tertentu tanpa adanya perlawanan dari grass root yang mereka punya, mungkin banyak kelompok-kelompok yang tersebar dan sudah diklaim oleh masing-masing calon tapi ditelisik kembali, mana yang lebih tidak banyak gejolaknya? jawaban yang kamu dapat itu mungkin jawaban kamu harus nyoblos siapa besok.

Kenapa ini menjadi penting untuk kita telisik, karena pertaruhan politik ini sudah menjadi tidak netral, dan bukan berarti saya juga netral dalam menulis semua pendapat ini, akan tetapi minimal saya ingin kita semua menjadi logis walaupun pembelaan semua pihak saat ini menjadi kehilangan nalar, dan minimal dalam menyikapi persoalan keberagaman ini cukuplah hal ini kita pertanyakan kembali dalam hati kita.

Tentang siapa yang bisa menjadi penengah dari pengandaian 3 kejadian yang sama itu terjadi, siapa yang bisa lebih bijak menjadi penengah tanpa membuat terluka salah satu pihak, siapa?

Sekali lagi tidak usah dijawab karena biarkan itu menjadi salah satu alasan kita besok datang ke TPS besok..

Selamat Memilih Jakarta.

Iklan

Satu kenangan bersama Dahlan Iskan #SaveDahlanIskan

“Pak Dirut, kapan kita berangkat” suara itu terdengar lagi, sudah beberapa kali sosok itu mengucapkan kalimat yang sama, seseorang yang dipanggil Dirut lantas otomatis memandang kepada managerku yang juga otomatis mendelikan mata kepadaku, iya urusan pesawat carteran itu memang tanggung jawabku, tapi ini bandara bukan jalanan yang bisa kita berlalu lintas seenaknya, sesuai dengan jadwal yang kami pesan pesawat carteran kami berangkat jam 13.45 dan pihak maskapainya juga sudah mengkonfirm jam 13.30 baru akan berangkat ke landasan pacu yang kami minta sesuai dengan izinnya pada pihak bandara, dan sekarang masih jam 13.00, masih lamaa !!!

Satu jam sebelumnya, kami menjemput Beliau turun dari pesawat garuda yang telah kami setting agar bisa berhenti di tepat ruang pertemuan Pemda Maluku Utara sehingga tidak perlu turun dan melewati kerumunan bandara, mengajak kami berlari melewati tangga undakan yang menjadi penghubung antara landasan bandara dengan ruang pertemuan Pemda Ternate itu, menyempatkan Sholat Jum’at bersama yang walaupun dipersilahkan di saf paling depan Beliau tahu diri datangnya paling akhir sehingga hanya duduk beberapa senti dari pinggir teras mesjid.

Setelah sholat Jum’at yang kami pikirkan adalah puncak acara resminya yaitu ada semacam ramah tamah resminya, tapi Beliau langsung ke meja prasmanan mengambil singkong, sayur dan ikan seraya mengajak semua langsung makan, serentak semua langsung makan, kami hanya bingung kalau gini ceritanya acara resmi gak ada berarti penjadwalan pesawat carteran kemarin itu salah, harusnya lebih cepat, dan benar saja setelah makan, minum sebentar Beliau langsung berteriak “Pak Dirut pesawatnya sudah siap?” Kami langsung gelagapan, Saya menelpon pihak maskapai minta jadwalnya dimajukan menjadi 12.30 mereka menolak karena pihak bandara tidak bisa mengubah dan saat itu ada jadwal pesawat lain masuk, beberapa kali suara itu berbunyi lagi, saya yang dikode dirut dan manager hanya bisa membalas kode mengangguk saja dan pura-pura menelpon pihak maskapai.

Setelah beberapa kali meminta, akhirnya pada pukul 13.15 pesawat carteran kami muncul, langsung masuk lintasan dan saya mengabarkan ke Manager, Daaaan.. tidak sampai 5 menit sosok itu sudah turun dari tangga dan langsung menuju pesawat Chesna Proppelerjet yang kami pesan, saya yang sudah ada dengan pihak maskapai diwanti-wanti tidak bisa berangkat sebelum 13.45 ini hanya persiapan saja, saya negoisasi tetapi tidak bisa karena otoritas bandara katanya akan tetapi sosok itu ketika sampai pesawat langsung duduk menyuruh beberapa orang yang ikut dan langsung berteriak ” Kapten ayo kita menuju Bacan sekarang”, pihak maskapai yang melihat siapa yang ingin saya terbangkan ke Bacan otomatis langsung menyuruh kapten naik dan berkata “Pak menteri mau berangkat sekarang, segera berangkat” saya yang dengar langsung ngakak.

****

Sosok itu adalah Dahlan Iskan semasa menjadi Menteri BUMN, yang kemarin baru saja menyampaikan eksepsi terhadap dakwaan yang dituduhkan kepadanya lantaran dugaan penjualan aset PT Panca Wira Usaha, BUMD Pemprov Jatim, saya tidak mengenal beliau secara personal hanya menjadi fans layar kaca dengan segala aksinya, hanya pernah sekali mengurus penerbangannya ke Bacan dalam rangka peresmian Pabrik Es perusahaan tempat saya dulu bekerja, juga dipercaya beliau untuk menguruskan tiket penerbangannya kembali ke Jakarta dengan beberapa permintaan khusus yang dititipkan, tidak lebih dari itu tapi kenapa saya percaya dan yakin Beliau tidak korupsi?

eza-hazairin
Di Radar Halmahera

Selain kekayaannya yang memang sudah sangat cukup, saya mempercaya manusia dalam beberapa intuisi yang tidak terbaca secara kasat mata, berdekatan dengan Beliau kurang dari semeter saya menjadi tahu bahwa keramahan yang dibuatnya dan sering saya lihat di layar kaca bukanlah gimmick dalam rangka rencanya menjadi RI-1 seperti orang bilang, sama sekali tidak. Beliau sangat hangat dengan banyak orang, bahkan dalam upaya menghambat Beliau bertanya “kapan berangkat” kami menyuruh beberapa orang untuk minta berselfie ria, dan senang banget ditanggapi oleh Beliau, bahkan ada orang Maluku Utara yang sudah lama kontak karena bukunya, ketika ada rencana mau ke Maluku Utara, orang tersebut dihubungi dan bertemu ditempat pertemuan kami, itu luar biasa.

Bahkan kalau orang itu bukan Dahlan Iskan saya yakin sudah marah-marah kalau dia ingin berangkat tapi pesawatnya belum ada, sudah marah-marah gak jelas, tapi beliau tidak, memang bertanya bukan untuk segera pergi tapi memang kondisinya sudah sangat ingin meresmikan sebuah pabrik dari aset perusahaan kami yang sudah lama vakum dan tak terurus, beliau memang semangat untuk menghidupkan tapi bukan dengan cara PMN seperti menteri-menteri dahulu tapi dengan usaha sendiri dan daya juang perusahaan, makanya perusahaan kami yang sering dapat raport merah karena merugi menjadi prioritasnya apalagi sebuah perusahaan perikanan.

Hal yang unik dari Beliau lainnya adalah, ketika dari pesawat carteran beliau turun pertama kali dan langsung mengatakan dengan ramah “Thank You, Capt” sambil mengacungkan jempolnya kearah kapten pesawat, saya melihat langsung momen itu, ada pejabat lain yang seperti itu? saya rasa jarang, dari pengalaman saya menjadi konsultan dan bertemu beberapa menteri dan Dirjen, sikap mereka bagai raja yang mau dilayani segala hal dan cuek dengan beberapa orang yang tidak ada urusan langsung dengan mereka, Dahlan Iskan sangat jauh dari sifat itu, buktinya kami yang menjadi panitia yang tergopoh-gopoh menyiapkan seluruh schedule agar berjalan sesuai rencana sebelum berangkat disapa dulu oleh beliau” Wah ini yang pakai seragam pasti panitianya ya, sukses acaranya ayo kita foto dulu”, Seriously itu real terjadi dan kami senang banget.

bersama-hesti-dan-wida
Sejenak sebelum Take Off 

Yang menarik lagi adalah ketika diminta mengurus tiket kembalinya ke Jakarta dengan Garuda, beliau minta disampingnya tidak boleh ada yang duduk dan minta direquest langsung ke maskapainya, berhubung itu maskapai plat merah ya saya gampang saja kesananya karena sesama plat merah, akan tetapi ketika saya konfirm ke maskapai untuk cetak tiket Beliau ternyata pak Dahlan selama jadi menteri sering minta hal yang sama dan menariknya kata mereka lagi ketika ada orang yang menyapa Beliau ketika naik pesawat minta foto atau tanda tangan, langsung ditarik duduk sama Beliau dan jadi temannya sepanjang perjalanan di pesawat, ada pejabat publik yang kayak gitu? saya rasa nggak deh.

di-executive-lounge-bandara-baabullah-ternate
Ini foto pribadi banget dan bukan ambil di google.

Banyak hal yang membuat manusia dipercaya, dan banyak pula hal yang bisa membuat orang dihujat, akan tetapi banyak pula yang berkata bahwa intuisi adalah penilaian terbaik terhadap orang lain, hati memang tidak bisa ditipu. Melihat langsung secara nyata keramahan orang seperti Pak Dahlan itu rasanya susah banget digambarin, low profilenya, bahkan saya pernah melihat langsung ada orang yang sering ikut senam bersama yang diadakan oleh dahlanis di monas setiap hari Jum’at, orang itu ikut karena keterbelakangan aja dan hanya memakai sendal dan langsung disapa Beliau yang ternyata beberapa menit kemudian mereka bertukar alas kaki.

Ada orang yang korupsi punya sifat-sifat segitunya? #savedahlaniskan

Ketika ludah harus dijilat lagi, Belajar dari pencalonan para Cagub DKI tahun ini

Publik banyak yang tidak mengira kalau akhirnya masyarakat Jakarta akan diberi pilihan sama baiknya dalam Pilgub DKI tahun 2017 nanti, komposisi yang hampir seragam namun berbeda dengan background pendukung saja yang kemudian menjadi bumbu lain dalam sebuah peristiwa politik.

57e62b3234c09-cagub-dan-cawagub-dki-foto-selfie-di-rsal-mintohardjo_663_382
Foto by : detik.com

Lihat saja bagaimana ketika seorang putra mahkota Cikeas ternyata diturunkan lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Nada nyinyir pun mulai banyak bertebaran walaupun memang sebagai bentuk tanda sayang sebuah karir militer dilepas untuk sebuah kekuasaan politik. Panglima TNI pun entah tersetting atau tidak mengungkapkan statement yang menjadi sedikit viral bahwa sang putra mahkota disiapkan untuk menjadi pemimpin TNI dimasa depan. Memang pilihan yang sulit dan akhirnya dijawab dengan gamblang oleh sang putra “Dari TNI lah saya belajar bahwa mengabdi pada negara tidak terbatas pada tempat dan kesatuan manapun”.

Lalu bagaimana dengan petahana? dimenit terakhir ternyata akhirnya sang Ibu memutuskan kembali mengusung duet ini, walaupun dari sejak awal gesture dan posisi politiknya jelas dari awal adalah sangat terlihat mendukung petahana walaupun yang didukung melakukan drama terlebih dahulu dengan mencoba peruntungan menjadi calon indepen dan ribut dengan sindiran mahar politik partai sangat mahal sehingga tidak mampu untuk membayar, ternyata ditengah membatalkan keputusan nyalon independen walaupun katanya KTP pendukungnya sudah 1 juta, bahkan mencalonkan lewat partai yang dulu diserang dan dikecam oleh kata-kata pedasnya.

Kemudian calon ketiga yang ramai dibicarakan bahwa duetnya cukup fenomenal, seorang menteri yang  terindikasi maju pada pemilihan presiden 2019 oleh presiden saat ini dan dipecat dengan alasan katanya ” kurang gila menjadi menteri” bahwa negara membutuhkan orang gila, Yang menarik lagi sebenarnya adalah ternyata sang mantan menteri dicalonkan oleh partai politik yang pada pilpres 2014 dikecamnya, bahkan secara sadar menyebut salah seorang yang dulu menjadi capres dan kini menjadi ketua umum partai yang ikhlas menariknya menjadi calon DKI-1 tanpa mahar apapun itu dengan punya beban HAM masa lalu.

Politik ya memang begitu, segala macam yang dilontarkan dimasa lalu dihitung sebagai kelemahan dan perlu kah kita bertanya berapa kali saya, kamu dan mereka ini menjilat ludah lagi ketika berhadapan dengan hal yang disebut politik.

Saya adalah pendukung salah satu pasangan cagub DKI di tahun 2012, bahkan kalau melihat rekam twitter saya pasti saya sungguh akan kelihatan bagaimana militannya saya pada pasangan ini dulu. Akan tetapi pemimpin yang saya bilang bagus itu akhirnya mengecewakan saya dengan loncatannya untuk menjadi presiden RI sampai saat ini. Apalagi ternyata kemudian wagubnya menjadi sangat arogan pasca memegang tampuk kepemimpinan pasca ditinggal sang presiden. Ludah itu saya harus jilat lagi. Pahit.

Begitu juga dengan peristiwa pilpres 2014 begitu membekas bagaimana para selebriti mengacungkan dua jarinya tanda akan memilih nomor itu pada saat hari pencoblosan, akan tetapi kemudian ketika orang yang dipilihnya menang dan ternyata banyak kekacauan yang terjadi sampai utang yang begitu menumpuk padahal katanya “uangnya ada” banyak orang akhirnya menjilat ludah mereka sendiri pula bahkan ketika presiden itu dibully mereka akhirnya dengan masgul berkata “jangan salahkan presiden, salahkan saja saya karena saya telah buta membelanya”.

Lalu ada seorang selebritis lagi menulis dengan gamblang akan memilih salah satu calon di pilgub DKI kali ini, akan tetapi mungkin akan banyak yang meremind ulang kata-katanya ketika menjelekkan salah satu capres yang ternyata hari ini, dan ternyata capres tersebut yang sudah jadi ketua umum dengan ikhlas mengambil salah satu jagoannya untuk bertarung di DKI-1, saya cuma bisa katakan ke orang tersebut ” selamat menjilat ludah kamu sendiri”

Dan masalah kita adalah terlalu cepat menjustifikasi sesuatu hal dalam politik, kita harus sadar bahwa secair itu konstelasi politik bekerja, bahkan untuk seorang musuh pun akhirnya harus berkawan.

Saya jadi teringat kembali salah satu salam dari salah satu suku didunia yang saya lupa lihat di film apa, ludah dikeluarkan ditangan dan dipakai bersalaman dengan orang lain yang menjadikan jabat tangan itu sebagai perjanjian keabadian sebuah persahabatan. Mungkin untuk politik kita harus seperti itu.. KITA HARUS ABADI MENJILAT LUDAH KITA KEMBALI.

Kartu Truf Yusril yang membuat SBY dan Amien Rais turun tangan untuk pencalonannya di Pilgub DKI

Politik adalah sesuatu yang cair, setidaknya itu adalah statement yang banyak dikeluarkan oleh orang banyak menyikapi riuh rendahnya pertaruhan politik, dari lawan menjadi kawan serta dari musuh bisa menjadi berteman, seenggaknya dalam pertaruhan politik di negeri ini hanyalah keluarga Pak Harto dan Bung Karno atau SBY dan Mega yang masih kaku dalam saling menyikapi pola politik, selebihnya? setidaknya Ahok yang loncat dari golkar lantas hari ini didukung golkar,  atau yang lebih spesifik lagi bagaimana Ahok yang menyatakan anti partai ternyata hari ini maju di Pilgub DKI dengan didukung 3 parpol adalah bukti simpel bahwa politik adalah barang karet.

dki-1
ilustrasi source: kompasiana.com

Pertaruhan politik itu pulalah yang membuat sosok pakar hukum yang hampir tidak pernah kalah di sidang yang dibelanya, Yusril Ihza Mahendra ternyata ingin ikut berkontestasi dalam ajang pilkada DKI kali ini,meniru langkah Jokowi yang  jadi Gubernur DKI dan dua tahun berikutnya menjadi Presiden RI adalah mungkin ungkapan yang tepat dengan apa yang terjadi saat ini, karena jika hanya berpegang pada partainya PBB yang suaranya jauh dibawah ambang batas adalah tidak logis jika maju hanya dengan perahu yang pas-pasan, Menaklukan Jakarta adalah Menaklukan Indonesia.

Dengan perahu yang pas-pasan itu pulalah Yusril maju, akan tetapi karena sadar dengan jumlah kursi yang tidak dipunyai di parlemen DKI membuatnya harus memutar otak untuk bisa maju dengan partai politik, karena apabila maju dengan independen waktu yang dibutuhkan sangat sempit, Teman Ahok yang katanya mengumpulkan 1 juta KTP saja melakukan pekerjaannya 1 tahun lebih, apalagi Yusril yang dana saja tidak punya. Melamar ke partai yang mempunyai kursi adalah jalan utamanya, tapi apakah semudah itu? dimana PDIP yang menyatakan Yusril lolos verifikasi saja harus digantung Megawati sampai waktu injury time pendaftaran calon yang akan dibuka tanggal 19-21 September nanti.

Tapi menilik perjalanan politik Yusril, beliau mempunyai kartu truf pada dua orang tokoh politik sekaligus dan merupakan investasi yang belum pernah dipakainya sampai saat ini yang mungkin akan digunakannya saat ini.

Faktor Amien Rais

Mengenal Yusril tentu saja kita akan mendirect pada pemilihan presiden di sidang MPR tahun  1999, dimana Yusril maju menjadi capres melawan Gus Dur dan Megawati. Hari itu menjadi sangat aneh karena tiba-tiba ketika sidang dibuka Yusril mengumumkan pengunduran dirinya menjadi calon presiden dan mengalihkan suaranya ke Gus Dur yang saat itu didukung oleh poros yang dibentuk Amien Rais, yang kemudian hari Yusril mengakuinya bahwa beliau tidak ingin memecah perseteruan dua poros Islam, NU dan Muhamadiyah.

Kemudian ketika kali ini ternyata Amien Rais ikut andil dalam pencalonannya di Pilgub DKI, hal itu mudah saja ditebak karena ini adalah investasi politiknya Yusril dimasa lalu, kesediaannya mundur saat itu menjadi kartu truf yang bisa digunakan saat ini, ketika semua kartunya tidak bisa digunakan.

Faktor SBY

SBY dan Yusril adalah sahabat lama, walaupun pernah bersitegang ketika dirinya dipecat dari posisi Mensesneg, bukan berarti hubungan keduanya amblas begitu saja. Pertaruhan politik di tahun 2004 adalah kartu truf kedua yang digunakan oleh Yusril untuk mengamankan pencalonan gubernur DKI, SBY yang di tahun 2004 membutuhkan partner kerja dalam memenangkan presiden saat itu datang ke Yusril dan dengan tangan terbuka dibantu oleh Yusril dan akhirnya pasangan SBY-JK dapat memenangkan pemilu presiden tahun itu.

Ketika Yusril saat itu membantu dua tokoh ini dalam mencapai tujuan mereka dimasa lalu, mungkin inilah waktu yang tepat untuk menarik kembali investasi politiknya kepada mereka, dan secara sekaligus hal itu membuka peta politik baru bahwa Demokrat, PAN dan PPP akan membuat poros baru yang dimotori oleh Demokrat dan mungkin sebentar lagi PKB akan menyusul mengingat apabila mencari tokoh muslim yang pas nama Yusril adalah orang yang berada di bawah Ahok dan terus membuntuti hasil survey yang hasilnya Ahok semakin menurun.

Kita lihat saja ya hasilnya bagaimana..tapi Good Luck Bung Yusril… 😀

Efek domino sumberwaras

Pengumuman KPK kemarin menyiratkan dua hal yang terus berkembang, satu hal tentu saja tentang politisasi kasus ini yang publik juga masih bertanya-tanya mana yang berpolitik diantara dua lembaga negara ini, yang kedua tentang keraguan integritas lembaga negara yang kembali publik terbagi dua ada yang membela BPK dan ada yang membela KPK, tapi tentu saja porsinya didasarkan pada kepentingan masing-masing pihak.

Domino-effect-on-finances

BPK sebagai salah satu lembaga pemeriksa keuangan yang diakui oleh dunia yang Pada kenyataannya, Badan Tinggi Dunia IAEA  mengakui kevalidan atas kinerja BPK RI, sehingga BPK pun dipercaya Badan Energi Atom Dunia, mulai bulan mei 2016 ini, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) resmi mulai berkantor di markas PBB di Wina, Austria. Ini sebagai kelanjutan atas kepercayaan PBB memilih BPK sebagai eksternal auditor IAEA atau Badan Energi Atom Dunia. BPK berkantor di Wina hingga 2018, pun begitu suara miring tentang lembaga ini pula banyak tercipta yaitu tentang banyaknya jumlah setoran yang masuk ke lembaga ini ketika memeriksa satu kasus, ini sudah jadi rahasia umum

Begitupun yang terjadi pada KPK, kemuakan masyarakat pada perilaku pejabat tinggi negara yang melakukan tindak pidana korupsi membuat masyarakat percaya penuh dengan kredibilitas yang diemban oleh lembaga antirasuah ini, tetapi seiring kasus yang menimpa pimpinan kpk di periode kemarin sedikit menjadikan kepercayaan publik berkurang yang walaupun kasusnya dipolitisasi oleh oknum lain akan tetapi noda itu tetap saja belum bisa hilang sekaligus di mata publik.

Akan tetapi selain dua hal yang menyangkut politisasi kasus dan integritas yang publik juga masih bertanya-tanya lembaga mana yang bermain politik ada satu hal yang lupa kita waspadai, kesalahan BPK dimata KPK ini baru sekali ini terjadi dimana banyaknya kasus korupsi di berbagai lembaga yang ditangani KPK pun banyak yang berdasarkan hasil audit BPK yang kali ini mulai diragukan kredibilitasnya, efek domino kasus-kasus yang sudah incracht tetapi hasil audit yang menjadi dasar pemeriksaan kasus korupsi mereka diragukan kembali menjadi tanda tanya. Apakah terdakwa tersebut bisa mengajukan PK atas kasusnya karena dasar korupsi yang dikenakan kepadanya kredibilitasnya dipertanyakan.

Kekhawatiran lain yang akan muncul adalah ramainya keraguan atas pemeriksaan BPK akan semakin berkembang dikemudian hari, proses ini yang kemudian bisa saja dimanfaatkan oleh para pelaku korupsi sebagai celah yang bisa digunakan dalam melakukan pembelaan hukum, karena keraguan atas satu fakta bisa berdasarkan dari keraguan pada proses pemeriksaan yang lain.

Apapun itu perilaku elitis yang semakin dalam masuk area penegakan hukum sudah semakin mengkhawatirkan, politisasi kasus sudah semakin tampak nyata didepan mata dan publik dibiarkan untuk terbagi dua dan saling menyalahkan tanpa adanya kepastian.

Lebih dari itu semoga tidak ada politisasi di kasus korupsi lagi.

Menyoal warteg, puasa dan menjadi Islam yang cerdas

Kisah seorang penjual warteg yang digerebek di Serang dua hari kemarin karena tetap buka pada saat bulan Ramadhan sedikit menyentil , walaupun memang rada telat baca beritanya tapi karena banyaknya viral di media membuat hal ini tiba-tiba terpampang di semua sosial media bahkan sudah beberapa meme yang muncul karena peristiwa ini. Islam dianggap tidak toleran dan segala macam sebutan lain, mari kita simak dulu deh.

Setan-Setan-Pas-Puasa1+

Berpuasa itu ibarat berperang, jika orang yang berperang dengan melawan musuh yang lemah dan tidak punya kemampuan yang mumpuni maka kemampuannya akan selalu begitu-begitu saja, tidak akan ada peningkatan. Bandingkan dengan para petarung-petarung yang unggul di semua medan pertempuran yang mengalahkan musuh terkuat sekalipun, menang di gelanggang itu akan memudahkannya untuk menang lagi di pertarungan berikutnya.

Orang berpuasa ya seharusnya seperti itu, bahkan secara pribadi mungkin saya ingin bulan Ramadhan itu biasa saja dan sama dengan bulan lain, banyak penjual gorengan disudut jalan, banyak warung buka tanpa embel-embel tirai, dibiarkan saja karena esensi puasa itu adalah melawan hawa nafsu dan tergantung kita saja mau kalah atau menang.

Warteg buka dan tidak bukan ukuran itu bulan puasa atau bulan lain, biarkan saja orang berjualan sesuai dengan pekerjaannya dan biarkan juga orang yang islam tapi tidak berpuasa, karena puasa itu yang dipanggil bukan untuk orang muslim kok tapi untuk umat muslim yang beriman, Ya ayyuhal lazina amanu.

Beragama adalah bukan tentang tidak adanya godaan kemaksiatan tapi bagaimana kita menang dari segala kemaksiatan yang terjadi di sekeliling kita, mengapa seperti itu ? karena tingkat keimanan masing-masing manusia berbeda, setan yang ditugaskan untuk merayu manusia berbuat maksiat pun bertingkat-tingkat, karena gak mungkin setan yang bodoh bisa merayu manusia yang punya tingkat intelegensi yang tinggi, maka perlu diturunkan juga setan yang tingkat intelegensinya yang sama sehingga peluang tergodanya juga lebih besar.

Sama seperti ketika setan merayu Nabi Adam secara langsung dia tidak akan bisa berhasil, akan tetapi ketika setan tersebut menggunakan kepintarannya untuk merayu Siti Hawa maka berhasil dan Siti Hawa lah yang merayu Nabi Adam yang akhirnya memakan buah khuldi.

Sekarang apakah agama Islam yang menyuruh untuk warung itu tutup? ya tentu saja tidak, esensi beragama dan berpuasa jelas diterangkan oleh Islam, intinya bulan ini adalah bulan perjuangan dan layaknya orang yang berjuang pasti akan disediakan lawan tanding agar kemenangannya bermakna.

Orang Islam adalah bukan tentang orang yang bisa taat beragama karena bukan tidak adanya godaan tapi orang Islam itu adalah orang yang tetap taat beragama walaupun godaan silih berganti hadir di depan matanya.

Yuk menjadi Islam yang cerdas.

Kesalahan fatal non pendukung Ahok

Dalam beberapa hari belakangan pemberitaan tentang Ahok semakin tajam aja, apalagi ditambah dengan kondisi founder Teman Ahok yang dilarang masuk singapura karena dicurigai akan melakukan aktivitas politik, walaupun ini memang bukan dicurigai saja harusnya karena poster acaranya jelas adalah acara Teman Ahok sekaligus food festival yang hal ini sesuai dengan press release KBRI Singapura. Pemberitaan ini seperti melumpuhkan gerakan mereka, apalagi pernyataan twitter akun mereka yang mengancam akan mengerahkan masa di kedutaan Singapura, gerakan mereka sedikit melemah

CkLrzaXVAAAx6mH.jpg large

Tapi dalam dua hari ini mereka rebound lagi dengan fitnah akun facebook Zeng Wei Jian (akun facebooknya saya gak bisa buka, katanya sudah hilang linknya). Saya bukan pengen bahas Ahoknya tapi sepertinya ada kesalahan fatal yang dilakukan oleh orang-orang yang gak suka Ahok menjadi gubernur lagi.

Kalau dibilang kesalahan fatal, saya bisa bilang dua hal kesalahan fatal yang dilakukan akan tetapi merujuk pada satu ritme yang sama bahwa yang tidak mendukung Ahok ketinggalan satu langkah dibelakang sehingga kebawa arus permainan. Mari kita bahas satu-persatu

Mayoritas vs Minoritas

Sekarang ini mendukung yang mayoritas itu menyalahi HAM loh, Pribumi vs Cina dan Islam vs Non Islam, kartu itu yang digunakan secara terus menerus oleh pendukung Ahok untuk membela, sampai muncul tagline “Biar non muslim yang penting gak korupsi” dan anehnya orang yang ramai tidak mendukung Ahok pun masih koor pada isu-isu itu dan seperti tidak bisa move on dan mengkritisi kebijakan saja bukan fokus pada hal-hal yang sara. Gak enak banget memang jadi orang mayoritas di Jakarta, ngebelain orang yang seagama nanti takut dibilang rasis, cap itu sudah duluan ada, sehingga bisa dibilang mereka sudah maju selangkah sehingga gampang mendikte

Padahal isu sumberwaras kemarin itu sudah mengena karena fakta BPK tidak bisa diabaikan begitu saja walaupun BPK dihantam kiri kanan oleh pendukung Ahok juga, akan tetapi seperti tidak konsisten pendukung non ahok pun langsung terbelah ketika Sanusi ditangkap KPK karena kasus reklamasi seharusnya tidak diarahkan langsung ke Ahok. Bukti saja belum ada

Saran untuk yang gak mendukung Ahok : Berhenti bermain dengan isu agama dan suku deh, gak akan bisa menang orang mayoritas dengan cara itu, mending fokus pada kebijakan yang diambilnya, masih banyak yang bisa dibahas mulai dari proyek-proyek yang ada, serapan anggaran, reklamasi, penggusuran dan masih banyak hal lain yang bisa diangkat, STOP bermain SARA itu bukan mencegah Ahok jadi gubernur lagi tapi memudahkan jalannya untuk menjadi DKI 1 lagi.

Menyerang Personal

Ini pada ingat kasus obor rakyat yang menyerang Jokowi pas Pilpres kemarin sih ? bagaimana Jokowi dijelek-jelekan sama satu majalah gak jelas ternyata malah naik simpati masyarakat ? Tapi setelah terpilih ternyata Pemred Obor Rakyat ini oleh Jokowi diangkat menjadi salah satu komisaris di BUMN

Sekarang bagaimana Teman Ahok yang sudah mulai terkikis simpati masyarakat karena kasus Singapura tiba-tiba rebound dan tiba-tiba Singapura dilupakan karena tuduhan oleh satu akun abal-abal yang entah siapa dan dukung siapa menuduh Amalia Ayuningtyas menggunakan Hijab sebagai strategi yang  Silent Attack on Islamic Aqidah

Cara menyerang personal dengan berita hoax semacam berita di Obor Rakyat Jokowi yang mukanya medok gitu dibilang Cina gitu dan publik banyak yang langsung terbawa arus dan ikut-ikutan, dan hal hoax gitu dengan mudah di balas hanya dengan satu artikel di website mereka lupalah kita tentang blundernya mereka ke Singapura

Yang melempar isu gak jelas siapa, dibalas kiri kanan dan akhirnya pemenangnya Teman Ahok, kita harus sadar sedang bermain di arus yang mana.

Sama kayak bulan puasa, untuk orang-orang yang tidak ingin Ahok menjadi gubernur lagi harus menahan, ditahan untuk terbawa arus permainan, harus menciptakan ritme tersendiri.

Udah segitu aja dulu, puasa 😀

Surat terbuka untuk Saut Situmorang

Selamat Malam, Bapak Saut Situmorang.

Bapak memang gak kenal sama saya, tak mengapa pak saya juga tidak begitu mengenal bapak kalau sekarang tidak menjadi pimpinan KPK, tapi sebagai awalan saya ingin memperkenalkan diri dulu, nama saya Muh Hazairin, menjadi kader HMI sejak tahun 2005 dan karena saya lulus tahun 2010 maka 2 tahun kemudian di Februari 2012 maka saya bukan lagi kader tapi sudah menjadi alumni HMI.

20160408_112613
Saya Alumni HMI pak, gak pernah Korupsi, Kami mendampingi masyarakat langsung

Oh iya pak saya ingin sedikit memberitahu Bapak dalam surat ini mengingat pernyataan Bapak dalam talkshow di salah satu televisi nasional mengatakan “Mereka orang-orang cerdas ketika menjadi mahasiswa, kalau HMI minimal LK I. Tapi ketika menjadi pejabat, mereka korup dan sangat jahat.”itu terus terang sangat mendiskreditkan kami sebagai alumni HMI kalau jadi pejabat akan korupsi, apalagi bapak menyinggung tentang LK I kami seolah-olah kami LK di ajarin korupsi, maka dengan surat ini kami pengen menyampaikan sesuatu tentang HMI dan LK I biar bapak gak bodoh-bodoh banget jadi pejabat.

Saya LK I HMI di Wisma Nala Batu Malang tanggal 3-4 september 2005, sertifikatnya sampai sekarang masih saya simpan, dan materi kami sama sekali tidak ada tentang korupsi. Bapak bisa cek itu di manapun LK I HMI dimanapun di Indonesia materi dasarnya mirip, hanya ditambah dengan beberapa materi telaah kritis sesuai dengan fakultas dimana kami berada, karena kebetulan saya dari fakultas perikanan makanya ada materi tambahan tentang “Telaah Kritis Akar Kemiskinan Nelayan” di fakultas pertanian atau peternakan mungkin beda materi tambahannya tapi intinya sama, kami diajarkan untuk berpihak.

20160508_185550
Materi Kami gak ada tentang korupsi pak, kami diajarkan keberpihakan

Materi dasar kami mulai dari Sejarah HMI – Nilai Dasar Perjuangan (NDP), itu membahas sejak Lafran Pane mendirikan organisasi ini, HMI juga ikut berjuang ketika zaman merebut kemerdekaan sehingga Panglima Sudirman menyebut organisasi kami sebagai Harapan Masyarakat Indonesia, itu sekelas Panglima Besar TNI loh pak, bukan sekelas intel.

Materi NDP kami itu padat pak, berdasarkan pemikiran besar seorang Cak Nur. Bapak pernah lihat Cak Nur mengajarkan korupsi semasa hidupnya? bapak harus banyak baca kayaknya, NDP kami itu pak gak sama sekali mengajarkan tentang korupsi, materinya padat tentang ketuhanan, kemanusiaan sampai teknologi pak. kalau bapak perlu baca nanti saya kirimkan atau bolehlah ikut sama adek-adek kami yang mahasiswa baru di LK I

Saya cuma mau mengingatkan bapak kalau teori populer tentang korupsi ada tiga hal (saya lupa pernah baca dimana). Pertama, orang melakukan korupsi karena ia ditekan (oleh kekuasaan, masyarakat, keluarga, atasan, partai politik, dan lain-lain). Kedua, karena adanya kekuasaan. Ia memiliki kekuasaan untuk melakukan atau tidak melakukan, dan ketiga karena adanya kesempatan. Bila kesempatan terbuka dan ia tak memiliki moral tinggi maka ia mudah terseret oleh tindakan korupsi. ketiga aspek ini sekarang bapak tambahkan dengan niat jahat yang walaupun saya harus pertanyakan kembali bapak punya ukuran satuannya tentang niat jahat seseorang ? bapak bisa baca niat orang lain? kalau misal ada yang korupsi untuk membantu janda-janda yang tidak mampu itu jahat atau bukan? Bapak menciptakan model berpikir anti korupsi yang rancu dan sebelum itu jelas pun bapak kembali menghubungkan antara HMI, LK I, Pejabat dan Niat Jahat. Jadi kalau dia bukan HMI dia gak jahat? bapak mungkin harus mereset ulang otak bapak yang mungkin sudah mulai menua.
Bapak ada baiknya merefresh niat bapak dulu menjadi Pimpinan KPK itu mau ngapain? sebelum mau mengurusi organisasi kami yang mungkin sudah seusia dengan umur bapak, atau mungkin lebih tua, bapak besar bersama HMI yang lahir di tahun 1947, dan kami juga tidak menampik kalau ada yang dulunya kader HMI atau Kahmi ketangkap untuk kasus korupsi, tapi itu personal bukan tentang institusinya, Bapak yang lulusan Persada YAI kalau mengeluarkan statement bodoh apakah yang bodoh semua lulusan Persada YAI? kan enggak pak Saut. tapi kalau bapak ada niat tersendiri untuk menghancurkan institusi kami maka mungkin bapak harus siap-siap dengan segala bentuk argumentasi.

Alumni kami tersebar dari Sabang sampai Merauke pak, dari Wakil Presiden sampai yang cuma kayak saya jadi pendamping masyarakat supaya mandiri, memang ada yang korupsi tapi yang berprestasi lebih banyak lagi, mulai bupati sampai pengusaha, kami LK bukan untuk korupsi pak, kami LK hanya untuk mencari saudara, sehingga kami kalau masih mahasiswa terdampar di kota lain dan gak tahu arah hanya perlu datang ke komisariat HMI terdekat pasti kami akan disambut seperti saudara, gak perlu jadi pejabat tinggi kami dijamu hanya syarat pernah sama-sama LK dan punya bahan bacaan untuk berdebat dan beradu strategi, cuma sesederhana itu lagipula bagi kader HMI menjadi pejabat itu bukan tujuan cuma bonus saja.

Begitu saja pak, semoga diberikan jalan yang lurus atau minimal karirnya masih bertahan sampai akhir masa jabatan.

Salam
Muh Hazairin
(Alumni HMI)

Airlangga Hartarto ? Mengapa Tidak !

Sejujurnya saya gak mengenal secara utuh siapa sosok Airlangga Hartarto Soekardi, karena saling follow ditwitter sama Uda Indra Piliang dan berteman di kontak BBM aja makanya mulai berangsur-angsur mengenal. Bagaimana tidak, beberapa kali artikelnya di website pribadinya tentang Airlangga pun di broadcast atau di kultweetkan, akhirnya saya pun jadi bertanya kenapa harus Airlangga di pucuk beringin ini?

12932915_1029860933727905_3921485499552379744_n

Mengenal Golkar pun bukan hal baru di keluarga kami dan saya juga yakin itu pula yang terjadi dengan banyak keluarga miskin di bentaran negeri ini,  sejak kecil saya terbiasa untuk memamerkan dengan bangga kaus kuning baju kampanye yang dibagikan partai ini saban pemilu 5 tahunan, yang walaupun setelah dewasa kami paham itu hanyalah baju yang terbuat dari kain murahan, tapi tak mengapa saya tetap cinta partai ini.

Kecintaan kami atas partai ini mungkin bagian dari sugesti yang ditanam selama 3 dekade lebih mereka berkuasa dan kami terbiasa nyinyir kepada 2 partai lainnya, yang berlambang kabah dan banteng itu. Brainstorming reformasi pun tak serta merta meluluh lantahkan kepercayaan kami, kebencian yang dibangun para lawan politik dengan bermodalkan pembaharuan untuk meraih simpati pun tak kami perdulikan, apakah kecintaan itu langsung hilang? TIDAK, masih banyak yang setia bernaung di beringin tua walaupun daunnya mulai meranggas menahan penguapan yang mulai mendera lahan kekuasaannya.

Dengan akal sehat kami tergerak untuk mencoba mengkritik bahwa Golkar kehilangan daya nalar manusianya, kesalahan kepemimpinan yang tercoreng banyak kasus akan tetapi masih sangat dibela oleh kader-kadernya itulah puncak kelemahannya, Golkar kalah bukan tentang kemampuan berpolitik dan strateginya dalam pemilu akan tetapi mereka lemah memuaskan faksi-faksi politik yang mulai memecah membangun kekuatan, Ya mereka hancur oleh diri mereka sendiri.

Lantas mengapa Airlangga yang harus tampil dalam pusaran konflik tak berkesudahan itu?  maka apabila kita sependapat memilih Airlangga Hartarto tentu saja kita harus menganisis kepimpinan Golkar utuh.

Golkar sangat butuh sosok baru

Kepemimpinan Aburizal Bakrie selama satu periode ditambah masa konflik dualisme sebenarnya mengikisi habis suara Golkar di mata masyarakat terpelajar, kenapa saya memakai jenis masyarakat ini sebagai patokan karena di masyarakat awam Golkar masihlah punya tempat sesuai dengan sugesti yang mungkin sama dengan saya, maka tidak heran pilkada serentak tahun 2015 kemarin, Golkar masih bisa menang di beberapa kabupaten.

Akan tetapi dengan perkembangan zaman dan kecerdasan berpolitik rakyat yang semakin tinggi Golkar haruslah menempatkan posisi mereka aman dimata masyarakat terpelajar, yang memang sudah jengah dengan kepemimpinan golkar dibawah orang-orang lama dan akhirnya yang dibutuhkan adalah sosok yang betul-betul baru dan lepas dari ikatan konflik tersebut bahkan bisa dibilang jauh dari kilatan kamera kepemimpinan masa lalu, Airlangga Hartarto apakah bisa masuk dalam kategori itu? BISA, sangat bisa sekali walaupun dia bukan sosok yang benar-benar baru dengan 3 kali menjadi anggota DPR tapi sangatlah jauh dari lingkaran kekuasaan penguasa terdahulu.

Tidak terikat oleh satu kubu manapun di pusaran konflik

Kubu ARB dan AL yang bermain dalam pusaran konflik ini adalah sama-sama status quo, walaupun memang tokoh-tokoh mudanya banyak bermain di kaki Munas Ancol akan tetapi hal itu tidak serta merta membuat kubu AL adalah sebuah gerakan pembaharuan.

Lantas dimanakah posisi Airlangga dalam pusaran ini? jawabannya ya tidak dimana-mana, sosok ini bermain dalam dua lintasan kekuasaan tanpa berkubu, mengapa ini penting? karena kedepan pimpinan partai Golkar harus lepas dari ikatan-ikatan kubu dalam upaya menjaga kesolidan dan keberpihakan terhadap faksi yang berkonflik, Golkar perlu mainstream baru, saatnyalah yang memimpin  orang yang berkarir dari bawah di partai ini,  Airlangga Hartarto mungkin jawabannya

Visi-misi yang dibawanya bersifat taktis

Saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang Eka Sapta maupun Eka Trio, karena sudah secara gamblang membahas kebutuhan sebuah partai yang kalau saya bilang bukan saja tentang Golkar akan tetapi semua partai di Indonesia butuh hal itu, mungkin tinggal di buatin hak cipta lantas di perjualbelikan sebagai khasanah perubahan dalam partai politik yang saat ini sudah sangat kehilangan arah.

Lalu mengapa saya katakan TAKTIS sedangkan tidak membahas Eka Sapta dan Eka Trio? politik adalah tentang sebuah cara dan juga tentang kekuasaan, targetan Airlangga Hartarto dengan hanya menargetkan kembali memegang 14% suara di pemilu 2019 dan menjadi pemenang legislatif maupun eksekutif di 2024 itu merupakan visi yang jauh cemerlang dibandingkan hal lain karena pemahamannya tentang sebuah proses perkaderan dan satu hal yang saya pahami dalam perkaderan “bahwa tidak ada yang instan dalam sebuah proses” apalagi untuk sebuah kekuasaan.

Lantas kalau ada yang bertanya apakah cocok Airlangga Hartarto untuk #SaveGolkar ? MENGAPA TIDAK ?!

Tidak perlu takut ikut Pengadilan Tilang

Sepertinya dewi fortuna yang selalu menemani saya ketika ditilang dan bisa buat artikel tentang 7 Tips lolos dari pemalakan polisi dari razia kendaraan kemarin berakhir, saya kena TILANG, iya ditilang polisi karena sim saya sudah mati beberapa bulan yang lalu dan karena gak mau memperkaya petugas dijalanan saya tidak mau membayar dan akhirnya kena Tilang Pasal 281 serta dijadwalkan sidang hari Jumat tanggal 1 April kemarin, dan itu adalah pertama kalinya saya ikut pengadilan model ini dan semoga terakhir deh.

20160401_102314
Suasana depan ruang sidang

Tapi setelah mengikuti sidang tilang ini akhirnya saya paham, kita memang tidak seharusnya takut dengan pengadilan model seperti ini dikarenakan pasti akan lebih murah dibandingkan dengan pemalakan jalanan yang rutin diadakan polisi, karena saya sendiri denda yang tercantum dalam peraturan adalah minimal 100.000 – 1.750.000, dan mau dipalakin di jalan itu gak mau kurang dari 150.000, akan tetapi ternyata ketika selesai sidang saya cuma kena denda 70.000, jauh lebih murah dari denda minimal atau denda buat-buatan oknum polisi di jalanan.

20160401_095113
Suasana depan ruang sidang

Hanya saja memang proses ini terlalu repot untuk orang yang gak punya waktu banyak dikarenakan harus antri yang sangat lama dikarenakan yang disidang itu banyak akan tetapi prosesnya ketika sudah masuk ruang sidang itu sangat mudah kok, alurnya secara umum adalah seperti ini

Datang ke Pengadilan  —– Daftar dan memberikan Surat tilang yang kita pegang —- Antri menunggu panggilan —– Sidang —-Keputusan langsung —– Bayar denda (ada meja langsung depan hakim) —– Ambil STNK/SIM/BPKB yang ditahan —- Pulang

20160401_100601
Antri yang membuat orang malas menunggu
20160401_100225
Suasana  ruang sidang (candid)

Sesimple alur itu, bahkan ketika dipanggil depan hakim pun seperti formalitas saja dan denda yang diberikan ketika saya tanya ke beberapa orang kisaran dendanya antara 40ribu sampai 80ribu rupiah, dan proses sidangnya pun gak berbelit-belit kalau memang salah ya akuin salah, kalau benar tapi gak mau repot ya iya-iya aja tapi kalau ingin idealis dan merasa benar bisa melakukan banding seperti yang dilakukan pak Yusril sekitar tahun 1991 (lihat videonya disini) dan ketika proses banding bahkan bisa lebih lama karena pak yusril saja dikembalikan STNKnya dan diputus tidak bersalah itu 9 tahun kemudian seminggu sebelum beliau diangkat menjadi Menkumham zaman Presiden Gus Dur.

Jadi untuk apa merasa takut dengan pengadilan sidang? mari kita berikan langsung uangnya kepada negara daripada memperkaya para mafia jalanan yang berseragam polisi.