Review Novel Anak Rantau-A.Fuadi

Setelah Trilogi Negeri 5 Menara yang menjadi best seller beberapa tahun kemarin sepertinya A. Fuadi tidak ingin kehilangan keeksisan, Novel ke-4 nya akhirnya hadir tanpa mantra-mantra pesantren yang jamak kita baca di buku sebelumnya.

Hepi, seorang anak yang harus pindah dari Jakarta ke kampung Tanjung Durian di tanah Minang. Berontak namun di satu sisi ada yang membuat ia merasa bahwa di kampung dirinya menjadi lebih berguna. Alasan mengapa Hepi pindah sudah cukup jelas di depan. Alur yang maju memudahkan pembaca untuk memahami sebab musabab akan suatu peristiwa yang dialami oleh para tokohnya.

IMG_20171023_154813Judul : Anak Rantau
Pengarang : A. Fuadi
Penerbit : Falcon Publishing
Halaman : 357
Harga : 90.000

Adapun ayahnya Hepi adalah Martiaz, seorang putra asli Tanjung Durian, anak dari seorang Datuk bernama Datuk Marajo Labiah. Di novel ini Martiaz diceritakan hidup menduda sejak ditinggal mati istri yang sangat dicintainya, lalu membesarkan sepasang anaknya seorang diri. Hepi adalah anak keduanya, tapi sering bermasalah di sekolah. Saat Martiaz mengambil rapor anaknya di salah satu SMP di Jakarta, dia termenung. Nilai Hepi buruk. Ditambah lagi perangai anaknya itu tidak jelas, sering menghilang. Akhirnya, Martiaz membawa Hepi pulang kampung. Hepi yang heran ayahnya tidak marah, justru senang diajak pulang ke kampung ayahnya di Tanjung Durian.

Kisah itu perlahan mulai kaya dengan pengalaman Hepi pasca ditinggal ayahnya. Bagaimana ia dengan sabar mencari uang untuk membeli tiket pesawat ke Jakarta, lalu hidup dibawah didikan Datuk Marajo, bertemu Attar dan Zen, tinggal di surau, sampai menjadi sosok pahlawan Tanjung Durian dan terlibat dalam peristiwa kriminal yang hampir merenggut nyawanya. Novel ini mencapai titik klimaks ketika dia digantung hidup-hidup oleh komplotan pengedar narkoba.

Ahmad Fuadi mempunyai kekuatan untuk menuturkan kisah secara rapi dan runtut. Plotnya tersusun minim celah sehingga pembaca bisa mengikuti dengan nyaman. Tidak terburu-buru dan tidak juga dibuat mengantuk. Begitu pula dengan penokohannya yang masing-masing tokoh sentral memiliki latar belakang yang cukup kuat untuk dikembangkan. Meskipun begitu, cerita dalam novel ini mudah ditebak. Apalagi yang sebelumnya sudah membaca trilogi Negeri 5 Menara. Pembaca akan menemukan pola yang berulang.

Secara keseluruhan novel ini hanyalah bagian dari karya yang tanpa mantra, setelah mantra itu habis di 3 buku, yang selanjutnya sepertinya butuh mantra lain.

Iklan

Kategori:book

Tagged as: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s