Review Novel Eliana-Tere Liye

Setelah Amelia, Burlian dan Pukat, akhirnya tibalah kita pada part ke 4. Si sulung Eliana, anak pemberani Bapak dan Mamak akhirnya diceritakan. Dalam novel yang settingnya digambarkan di lembah bukit Provinsi Sumatra Selatan, sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan dan sungai, novel ini menggambarkan rasa ingin tahu, proses belajar, menyatu dengan kepolosan, kenakalan, hingga isengnya dunia anak-anak, petualangan hebat, ketika persahabatan, pengorbanan, dan pemahaman tentang kehidupan tumbuh dari wajah-wajah ceria  terus melekat sehingga mereka dewasa.

Kisah dalam novel ini dimulai ketika suatu hari Eliana diajak Bapak ke Kota Provinsi untuk sekedar melihat bagaimana perawakan kota besar. Namun, sesungguhnya Syahdan, nama Bapak, serta beberapa tokoh desa akan melaksanakan negosiasi dengan Johan, pemilik perusahaan tambang pasir yang ingin mengambil alih lahan kampung yang menjadi sasaran lokasi penambangan. Karakternya yang pemberani sudah muncul sejak awal-awal kisah, dimana dia berani membentak ‘para petinggi’ di sebuah forum resmi, “JANGAN HINA BAPAKKU!!”

IMG_20171023_153619Judul : Eliana
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Halaman : 513
Harga : 65.000

Kisah ini diceritakan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami dan penuh dengan pesan moral. Sekali membaca rasanya takkan mau untuk berhenti membaca. Dengan membaca kisah ini, kita akan belajar bagaimana untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi suatu masalah, selain itu seperti buku-buku serial sebelumnya tentang ketiga adiknya di buku ini kita juga akan mengerti bagaimana besarnya kasih sayang seorang ibu kepada kita dalam versi masalah yang lain.

Kisah Eliana di dalam novel ini, agaknya membuka mata kita bahwa anak perempuan kecil seperti Eliana saja mampu berpikir dewasa untuk melindungi warisan leluhur. Bukan sekedar memikirkan materi dunia, dengan mengambil habis warisan alam. Anak perempuan pemberani seperti Eliana ini patut sekali perangainya ditiru. Meski diawal sangat geram menjadi anak sulung karena selalu menjadi bodyguard dan alarm bangun pagi untuk adik-adiknya.

Sebenarnya saya berharap pada kisah Marhotap akan berakhir seperti Raju, setelah dengan gagah berani melemparkan balon berisi minyak tanah dan kemudian melemparkan api ke truk-truk pengangkut pasir yang menjajah desa mereka, Marhotap hilang, sama seperti Raju di buku Pukat yang hilang setelah banjir bandang, selalu saja ada yang hilang di serial anak mamak ini, Ahmad, Raju dan Marhotap, kisahnya apakah sama? bacalah setiap buku serial ini.

Pada  bab terakhir yang menyatakan bahwa Ely sudah dewasa dan menjadi seorang pengacara. Memang benar bahwa hal itu bagus sekali untuk diri Eliana sendiri bahkan untuk kampungnya, namun yang novel ini tidak jadi nuansa anak-anak secara keseluruhan

Bagi yang mau belajar tentang kebijaksanaan novel ini sangat direkomendasikan baik untuk orang tua, sebagai salah satu bekal mendidik anak dan sangat sesuai bagi anak-anak dan remaja untuk menumbuhkan pemahaman tentang kasih sayang, disiplin, dan setia kawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s