Review Novel Burlian-Tere Liye

Novel ini menceritakan bagaimana masa kecil Burlian. Cerita ini dimulai dengan cerita Mamak tentang hari kelahiran Burlian si anak spesial. Diceritakan bahwa seminggu sebelum Burlian lahir ada kejadian menakutkankan yang terjadi. Kejadian itu berhubungan dengan kuburan belakang rumah mereka yang angker.

Diberi julukan “Anak Istimewa oleh kedua orang tuanya”. Bandel dan kadang susah diatur. Suatu hari dia mengajak kakaknya yang bernama Pukat untuk bolos sekolah dan mencari belalang. Kejadian itu diketahui oleh Mamak sehingga beliau marah. Maka Burlian dan Pukat dihukum mencari kayu bakar naik turun gunug denan hanya berbekal nasi putih tanpa lauk. Hukuman itu membuat kedua anak itu tidak berani lagi membolos.

IMG_20171023_153611
Judul : Burlian
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Harga : 55.000

Ketika Burlian dan Pukat nekad bermain ke sungai larangan bersama Can. Mereka berniat untuk memburu ikan. Tanpa sengaja kaki Burlian terperosok sehingga kesarang buaya. Padahal disana terdapat buaya yang sangat dekat jaraknya dengan Burlian dan siap menerkam. Kak Pukat berteriak minta tolong, untung  Bapak dan Bakwo Dar datang secara tiba-tiba. Dengan senapan angin, Bapak menembak buaya tersebut. Mereka sedikit terkejut karena selama ini mereka tidak tahu Bapak dapat menggunakan senapan angin.

Sama dengan cerita Pukat dan Amelia, kisah Novel ini disisipkan tentang kasih sayang Mamak kepada Burlian tapi dengan ide yang sangat berbeda, dimana selain bersekolah, Burlian mengaji di tempat Nek Kiba. Bila telah khatam, Mamak berjanji akan membelikannya sepeda. Tetapi sampi hari H tiba, sepeda baru belum dibeli. Burlian membenci Mamak, Burklian menyangka Mamak tidak menepati janji. Padahal uang Mamak dipakai Ayuk Eli mendaftar sekolah di kota dan membantu pengobatan anaknya Wak Lihan yang sedang sakit keras. Tetapi Burlian belum mau mengerti.

Bapak dengan sabar menasehati Burlian, menceritakan tentang masa kecil Burlian dulu. Mamak telah berkorban besar untuknya,melindungi Burlian dari ribuan lebah. Memeluk Burlian erat-erat sehingga tak seekor lebah pun menyerangnya. Mamak lah yang disengat ribuan lebah sampai Mamak sakit berbulan-bulan.

Itu hanya sebagian kecil cerita menarik dalam novel ini, kiat akan mengharu biru ketika menceritakan tentang si keriting Ahmad, si Maradona dari desa Paduraksa, begitu juga perkenalan Burlian dengan Nakamura yang akhirnya membawanya untuk terus surat menyurat dengan Keiko, si Putri Nakamura.

Dan yang paling penting adalah bagaimana pengarang kemudian menghubungkan kecerdasan nenek moyang terdahulu untuk melindungi harta karun dalam yang tersembunyi di sumberdaya alam mereka, yang akhirnya pelan-pelan harus punah dengan modernisasi.

Alur cerita novel ini sangat mudah difahami dengan bahasa yang ringan dan menyenangkan. Pengarang dapat membawa kita seakan kita mengenal Burlian dan ikut terbawa setiap suasana, baik seang, haru, sedih dan sebagainya.Hal-hal sederhana dalam cerita novel ini mempunyai nilai tersendiri yang dapat dijadikan pelajaran. Mengajarkan tentang kesederhanaan,kejujuran, keikhlasan, kasih sayang dan kerja keras dalam hidup.

Kecerdikan pengarang dalam menggambarkan setiap adegan petualangan Burlian sang anak kaki gunung yang hidup di sebuah keluarga yang sederhana sehingga pembaca seakan terbawa dalam cerita tersebut. Bagaiman polosnya masa kecil yang mengalir seperti air. Bertindak tanpa perencanaan yang malah menumbuhkan rasa ragu. Tidak takut berpetualang karena rasa ingin tahu yang teramat besar.

Iklan

2 replies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s