Tari Rodad Si’iran yang ditampilkan pada Pembukaan Pawai Taaruf MTQ MN XV

Dari 15 kali penyenggaran MTQ Mahasiswa Nasional mungkin tahun ini UB dan UM patut berbangga hati, karena dalam rentang waktu pelaksanaan tersebut tahun ini adalah termasuk penyelenggaraan yang terbesar, di ikuti oleh 251 PTN dan PTS seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan jumlah yang mengikuti pun mencapai 3000 peserta, belum lagi 540 Official yang menyertai mereka.

Dalam lomba tahun ini 6 cabang akan diselenggarakan di UM dan 7 cabang akan diselenggarakan di UB, dalam pelepasan pawai taaruf pada hari Jum’at lalu ada hal yang menarik yaitu ditampilkankannya tari Rodad Si’iran yang merupakan tari khas daerah Banyuwangi sebagai salah satu pengisi acara, hal ini menarik untuk diapresiasi bahwa panitia dalam kesibukannya mengurus event nasional ini bisa berpikir detail tentang sebuah kreasi masyarakat dalam budaya keislaman. Tari Rodad Si’iran adalah salah satunya.

Rodad berasal dari kata Irodat, salah satu sifat Allah yang berarti berkehendak. Maksud pemberian nama itu adalah agar manusia selalu berkehendak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ada lagi yang mengatakan ia berasal dari kata raudah, yaitu taman nabi yang terletak di masjid Nabawi, Madinnah. Ada yang berpendapat ia berasal dari nama alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat musik tersebut berbentuk bundar yang dimainkan dengan cara dipukul yang disebutnya tar. Dengan demikian, maka rodat termasuk seni yang memiliki misi dakwah.

Pada zaman Jepang, kesenian rodad sangat berperan untuk menjaga persatuan di kalangan penduduk untuk bersama-sama melawan panjajah Jepang. Cara yang ditempuh antara lain dengan gerak dan lagu secara simbolis. Gerak yang ditampilkan adalah “konto”, yakni semacam pencak silat, sebagai lambang perlawanan dan pembelaan diri. Di bagian lain, lagu-lagu yang dikumandangkan adalah lagu-lagu bernuansa dakwah Islam, sebagai penguat iman dan jati diri penduduk setempat yang memang penganut Islam taat.

Seni rodad adalah perpaduan dari musik, tari, dan bela diri. Musik yang dimainkan terdiri atas peralatan berupa empat buah genjring/rebana besar, kendang, bas, kecrek dan jidur/bedug masing-masing satu buah. Alat-alat sederhana tersebut dipukul untuk mengiringi lagu, tari maupun konto. Anggota grup rodat selain terdiri atas para penabuh alat musik masih ditambah dengan 2 orang wiraswara, 8 orang penari, dan 2 orang pemain konto, dan juga 2 orang badut/santri.

Coba perhatikan lirik-lirik yang dinyanyikan dalam tarian ini, kita akan mengerti bagaimana islam dapat dekat dengan budaya setempat.

Iklan


Kategori:film, review

Tag:, , ,

1 reply

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: