Begini yang harus dilakukan jika menyerempet orang di Madura

Ceritanya dua minggu kemarin saya ke Sampang, ada pekerjaan yang harus dilakukan di kabupaten penghasil garam terbesar di Indonesia itu, kebetulan hal itu juga berhubungan dengan apa yang saya teliti dalam 4 hari mengelilingi mulai dari kecamatan Sampang, Camplong sampai kecamatan yang berdekatan dengan Bangkalan, Kecamatan Sreseh, tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Semua berjalan lancar sampai pagi kami akan berangkat pulang sekalian mengunjungi Sreseh, tempat penelitian terakhir yang kami tuju. Ketika melewati perbatasan Kota Sampang secara tidak sengaja kami menyerempet  motor yang ada dikiri mobil yang kami tumpangi, kejadiannya begitu cepat sampai kami tidak sempat mengelak karena baru sadar sepersekian detik dari  setir motor orang yang berkendara disamping kami menyenggol spion mobil.

Dikerubutin banyak orang kami biasa saja, karena tidak berniat lari. Langsung turun dari mobil, menghindari perdebatan kami langsung bawa korbannya ke puskemas terdekat sementara motornya kami titipkan di pos satpam terdekat dari tempat kejadian. Sampai di puskesmas kami langsung tanggap menyuruh petugasnya untuk segera merawat luka-luka mereka, mendaftar ke recepsionis dengan meminjam KTP mereka. Semua berjalan baik-baik saja karena menurut dokter yang mereka derita itu luka ringan semua dan hanya beset di kaki dan tangan, tidak ada yang parah.

Permasalahan mulai sedikit memanas ketika keluarga yang kami serempet datang gerudukan, mulai menanyai kami bagaimana penyelesaiannya. Kami menawarkan dengan membayar semua biaya pengobatan dan memberi uang untuk kontrol beberapa hari kedepan serta menanggung biaya kerusakan motor, akan tetapi biaya puskesmas itu kecil tidak sampai beberapa ratus karena memang lukanya kecil dan perawat hanya membersihkan luka serta menempelkan salep, melihat kenyataan itu kami tenang karena biaya yang kami hitung sesuai tapi ternyata pihak keluarga menginginkan negoisasi ulang. Kami langsung berpikir pasti ini ada kenaikan usulan.

Karena kebetulan yang supir adalah orang Sampang tapi tidak domisili didaerah tersebut maka kami akhirnya menelpon orang tua teman dan diberi saran sesuai dengan pengalaman yang “biasa terjadi” kalau orang luar yang terkena masalah biasanya larinya ke Kepala Desa, karena kebetulan pada saat urus administrasi kami jadi tahu alamat rumah mereka dimana, kebetulannya itu tetangga desa dari desanya orang tua teman yang orang Sampang itu dan sangat kenal dengan kepala desanya, disanalah akhirnya kami negoisasi dan didapat angka kesepakatan setelah alot berdebat dan ditengahi oleh kepala desa.

Berbekal pengalaman itu makanya saya ingin membagi cara menyelesaikan masalah apabila ada diantara kamu nanti mendapatkan permasalahan yang sama.

Langsung Tanggung Jawab.

Ada beberapa daerah yang langsung main hakim sendiri disana, hal itu kami dapatkan ketika berbincang dengan petugas-petugas yang membantu kami di TKP, tapi apapun yang terjadi tunjukan itikad baik dulu untuk menyelesaikan, karena ketika bertemu dengan daerah yang langsung main hakim sendiri, maka penolakan kita dianggap perlawanan. Seperti yang kami lakukan langsung membawa korbannya ke rumah sakit walaupun detil kejadiannya tidak kami sadari betul tapi yang terluka itu lebih baik diurus terlebih dahulu

Cari alamat rumah yang ditabrak.

Sebisa mungkin langsung bercengkrama dengan mereka kalau mereka dalam kondisi bisa diajak bicara, minta KTP mereka untuk mengurus administrasi sekaligus mencari tahu alamat rumah mereka.

Bila negoisasi dirasa rasional di TKP langsung selesaikan.

Untuk melakukan negoisasi korban tidak dilibatkan, yang menjadi juru bicara adalah anggota keluarga mereka yang tertua/yang dipercaya. Negoisasi selalu berupa uang tanggung jawab, jika jumlahnya dirasa mampu dan cukup rasional menurut kamu, langsung bayar saat itu juga dan langsung tinggalkan tempat, karena sesuai pengalaman yang sudah-sudah yang kami dapat dari salah satu perawat yang mengurus mereka, ada beberapa kali nilai kesepakatannya berubah karena yang menabrak masih ada ditempat dan keluarga berunding lagi dan merasa kurang, kalau kata kepala desa yang menjadi penengah kami ketika uang kesepakatan dibayar maka apabila korbannya meninggal sekalipun itu bukan tanggung jawab penabrak lagi.

Jika dirasa negoisasi memberatkan libatkan perangkat desa mereka.

Perangkat desa yang membantu kami merasionalkan nilai permintaan dari keluarga korban mulai dari yang sangat gak masuk akal sampai nilainya cukup tinggi tapi mentok yang bisa diperjuangkan kepala desa, itulah fungsinya mereka. jika kesepakatan alot maka harus ada yang mencari alamat kepala desa mereka dan berunding disana, melibatkan pihak berwajib juga percuma karena banyak kejadian menurut info dari kepala desa keluarganya suka melobi pihak kepolisian untuk mendapatkan kekuatan

Sekilas itulah yang bisa kamu lakukan kalau mendapat musibah, hal ini kami dapatkan dari pengalaman secara langsung.

Hati berkendara ya .

*Catatan: 

Tulisan ini bukan menggeneralisir semua orang di Madura seperti yang saya sajikan tapi hasil pengalaman kami dan cerita orang saat kami mengalami bahwa banyak yang mengalami kejadian serupa dan tulisan ini pula bukan pakem mutlak.

Iklan


Kategori:life

Tag:, , ,

17 replies

  1. Ngeri juga kalau mengalami kejadian kayak gt ya mas. Belum pernah berkendaraan pribadi ke daerah sana. Pernah ke Bangkalan tapi naik angkutan umum.

    Suka

  2. Saya setuju di bagian “segera tunjukkan itikat baik, tanggung jawab (bayar biaya2 yang dibutuhkan sesuai kerugian), setelah itu tinggalkan tempat.” Kalau berlama-lama, kita akan menghadapi “kerugian” lebih lanjut akibat usulan2 dan rundingan2 yang muncul belakangan. Pernah alami juga hal ini, dan akhirnya malah seperti dimanfaatkan 😀

    Suka

  3. Ngeri juga ya
    Di beberapa daerah saya sering dengar kejadian yang sama, dimana keluarga korban jatuhnya malah pemerasan terhadap orang luar yang tak sengaja nabrak
    Tapi memang benar, itikad baik untuk bertabggung jawab harus diutamakan
    Semoga kita semua dijauhkan dari hal2 buruk dalam perjalanan ya

    Suka

  4. akhirnya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan ya mbak.

    Suka

  5. dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, seprtinya benar kata pepatah ini. Alhamdulillah kalau masalah ini bisa diselesaikan dengan damai. Saya jadi nambah ilmu ternyata gak semua daerah punya penyelesaian permasalahan yang sama.

    Suka

  6. Kalau aku sedihnya, kadang kita-kita yang mengemudi sudah hati-hati. Tapi pengguna jalan lain yang ngawur. Jadi kita ikut terseret. Biasanya pengguna motor masih banyak yang ngawur (walau tidak semua, tapi masi banyak). Motong jalan belok tanpa lampu sen, belok belok aja, nyalip dari kiri, dll. Kalau kebetulan kita naik mobil, ada apa-apa, pasti kita yang disalahkan. Huhu capek deh. Makasih sharing nya, Mas.

    Suka

  7. syukurlah ya sudah bisa selesai secara damai. Kadang itu kita sudah minggir ada pengendara lain yang cara mengendara ngawur kita jadi ikut salah

    Suka

  8. Sebenarny dmnapun kejadiannya jika memungkinkan kita bantu korban. Meskipun kadang kita jd korban. Hehe… Sy pernah jd korban tabrak lari tp untung ad org lewat yg berbaik hati. Dan untungny bkn di madura. Hehe

    Suka

  9. Tidak hanya org Madura yg kyk gtu kyke ya mas, rata2 begono di Indonesia, yg punya mobil yg salah 😦
    Padahal belum tentu jg yg punya mobil yg salah.

    Suka

Trackbacks

  1. Kalau ke Sampang wajib mampir ke Kaldu Al-Ghazali – Komentarin.com
  2. Asyiknya Robusta Cafe di Bangkalan – Komentarin.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: