Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Novel tentang kamu yang sering bertanya tentang hidup yang tak adil.

“Mengapa kau harus menjalani masa kanak-kanak yang seharusnya indah justru di panti menyebalkan tersebut? Mengapa? karena kau menjadi sebab bagi garis kehidupan Diar. Kau menjadi sebab anak ringkih, lemah dan polos itu menjemput takdir hidup yang bagai seribu saputan dilangit saat kematiannya tiba. Kau menjadi sebab seribu malaikat takzim mengucap salam ketika menjemput Diar di penghujung umurnya yang sayangnya masih sangat muda”

Potongan percakapan dihalaman 57 di novel ini bagi saya adalah kata masterpiece dalam keseluruhan buku ini, bagaimana kisah Ray tergambar dengan jelas ketika membaca fragmen ini. Bagaimana tidak, dari situlah saya menangkap jelas apa yang dimau oleh sang penulis Tere Liye dalam keseluruhan buku ini, bahwa kehidupan itu adalah salah satu alur kehidupan, bahwa satu jejak nafasmu di dunia itu pasti ada sebabnya dan tentu saja akan ada akibatnya dimasa mendatang.

Ray yang besar di panti asuhan dengan pemilik yang sangat tamak, dia tumbuh dengan berbagai macam pertanyaan yang menggelayut di kepalanya, kenapa begini kenapa begitu dan seringkali menyalahkan nasib hidup yang buruk selalu menimpanya sekian kali, bahkan kadang kala secara beruntun.

Tere Liye dalam buku ini ingin menghadirkan bacaan yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang selalu kita tanyakan ketika mengalami kesusahan, siapa dari kita yang lahir di dunia tanpa pertanyaan tentang hidupnya akan seperti apa, apalagi ketika tertimpa musibah seluruh emosi kita turun menjadi satu pertanyaan, “mengapa ini terjadi padakau Tuhan” kita semua mau diakui atau tidak pernah mengalami momen itu.

Penulis juga ingin menghadirkan fakta tidak ada yang perlu kita sesali dalam hidup bahkan seburuk apapun hal yang kita alami, bahwa ketika hal buruk terjadi pada diri kita telah menunggu hal-hal baik yang menjadi akibat dari timpaan buruk yang kita terima sebelumnya.

Bagaimana kita memaknai kehilangan dan bagaiman mengartikan sebuah duka.

****

Buku setebal 426 halaman ini adalah buku kesekian salah satu penulis best seller Indonesia, Tere Liye. Terbagi dalam 37 Bab pendek yang dalam tiap babnya tidak terlalu banyak halaman akan tetapi sangat berisi dan mengundang penasaran untuk tetap lanjut ke halaman berikutnya, judul-judul babnya pun sangat berbeda dengan novel kebanyakan, seakan tidak peduli sepanjang buku sang penulis terus saja mengumbar pertanyaan kehidupan.

Baru beberapa memang saya membaca buku Tere Liye, mulai dari Rindu, Tentang Kamu, Negeri Para Bedebah (pernah saya bahasa di link ini) , Negeri di Ujung Tanduk, dan Rembulan Tenggelam diwajahmu. di 3 judul buku terakhir saya menangkap Tere Liye membentuk karakter tokoh utamanya yang hampir mirip, semisal Zulkarnain dan Sri Ningsih di Tentang Kamu, Tommy di Negeri para Bedebah dan Negeri di ujung Tanduk, sampai yang terakhir saya baca, sosok Ray di Rembulan Tenggelam diwajahmu.Sosoknya terlalu kuat untuk dilawan, untuk ukuran tokoh laki-laki super semacam Zul, Tommy dan Ray mungkin sudah sangat biasa, akan tetapi bagaimana dengan Sri Ningsih yang juga dibuat sangat perkasa dari Pulau Bungin sampai bisa sampai di kota London, sangat sejenis karakternya, bahkan kalau saya bilang adegan Zul dan Tommy yang bisa menghajar lawannya di akhir cerita terkesan sangat sejenis.

Kembali ke buku Rembulan Tenggelam diwajahmu ini, kata-kata filosofis seorang Tere Liye memang sangat teruji disini, makna demi makna yang hadir dalam kata-kata tokoh didalamnya atau fragmen cerita yang tersusun didalamnya bakal membuat kita tersentuh semakin dalam, gabungan dua hal inilah yang kemudian menjadi kekuatan buku ini, seolah menyindir tanpa belas kasihan akan tetapi beberapa kali juga menyentuh relung hati yang terdalam.

Satu hal yang saya pelajari dalam buku ini, bahwa memang kita hidup di dunia dengan serangkaian rencana, seperti Ray yang bertemu Diar untuk menyempurkan kematiannya, juga bagaimana efek domino Diar akhirnya menyadarkan sang pemilik panti, bahkan sampai bagaimana hal-hal yang tidak ketahui terjadi begitu ajaib dikehidupannya seperti munculnya Plee dan Koh Cheu, semua itu adalah jawaban-jawaban yang hadir ketika kita terus mempertanyakan sebenarnya kita didunia mau apa dan bakal seperti apa.

Semoga dengan buku ini kita bisa paham bahwa tidak ada akibat jika tidak ada sebab.

Selamat membaca.

Iklan


Kategori:book

Tag:, , , ,

3 replies

  1. Buku pertama Tere yang kubaca. Awalnya saya rasa de javu sama buku lain, setelah baca kedua ketiga saya rasa Tere ini terlalu ‘jiplak’.

    Suka

Trackbacks

  1. Review Novel Hujan- Tere Liye – Komentarin.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: