Ketika katak ingin menjadi lembu

Banyak orang yang bermimpi, banyak yang gagal tapi tidak sedikit pula yang berhasil membuktikan kata-katanya, sewaktu kecil kita juga punya impian yang besar entah itu terlihat gampang diraih ataupun sangat sulit bagi orang kebanyakan, respon orang pun bermacam-macam, ada yang mendukung serta tidak sedikit pula yang mencemoh, seumpama katak yang ingin menjadi lembu kata orang kebanyakan.

Peribahasa itu mungkin tepat menggambarkan diri saya pribadi, bagaimana tidak keputusan saya untuk pongah untuk masuk ke Universitas Brawijaya Malang sudah saya dengungkan sejak kelas 2 SMP, mengingat jaraknya Sulawesi Tenggara sangat jauh untuk kesana apalagi dengan kondisi orang tua yang hanya petani membuat banyak orang yang tidak percaya dengan kata-kata saya yang ingin masuk kesana walaupun secara akademis saya memang diatas rata-rata orang kebanyakan.

Alhasil di tahun terakhir SMP saya sudah dipanggil dengan nama si Braw, yang merupakan singkatan dari Brawijaya, saya cuek dan tidak peduli yang ketika SMA saya memilih untuk sekolah jauh dari tempat saya tinggal pun alasannya jelas, saya ingin mendapatkan akses yang lebih luas menuju Brawijaya, teman-teman SMP saya pun banyak yang tidak tahu, kalau beberapa tahun kemudian saya sampai ke kota Malang kemudian resmi menjadi mahasiswa Braw.

Tidak sedikit dari kita menganggap kecil sebuah impian, jujur saja dalam kehidupan kita sehari-hari walaupun sudah tahun 2016 kita masih menganggap dan menilai orang dari tampilan fisik atau apa yang mereka punya, perjuangan mereka belum jadi tolak ukur orang lain menganggap orang lain berharga, banyak yang tidak mau ngaku? saya yakin banyak yang bilang diri mereka fair tapi dalam keseharian secara tidak langsung seperti itu, BUKTI? banyak gak usah disebutkan satu persatu deh nanti kegeeran :D.

Tapi Seriously, banyak dari anak bangsa kita tidak berani bermimpi besar hanya karena anggapan dari kelemahan apa yang mereka punya, banyak yang menganggap kemampuan istimewa orang lain itu sangat baik akan tetepai ketika dia mengungkapkan impiannya langsung dijustifikasi dia tidak cocok untuk itu, oke saya ceritakan satu kisah nyata.

Daerah saya bernama Kambara, daerah yang berada diujung sepakan kaki K ulau sulawesi. Masyarakat disana sangat beragam bahkan kalau saya klaim sepihak Indonesia lengkap berada disana, mulai dari Aceh sampai Papua. Tapi itu bukan perhatian saya untuk peribahasa ini, akan tetapi saking banyaknya orang yang tidak berani bermimpi disana, saya punya teman sejak kelas 3 SD adalah saingat terberat saya, kami gantian menduduki posisi nomor 1 dikelas, bahkan ketika pemilihan murid teladan saya kalah telak oleh dia untung saja ketika lomba bidang studi dia IPA dan saya masuk IPS, kalau kita masuk dalam bidang yang sama mungkin saya gak akan bisa masuk lomba tingkat kabupaten saat itu.

SMP juga sama, sejak kelas 1 kami sekelas, rebutan juara saja kerjaannya sampai kelas dua walaupun akhirnya dikelas 3 dia harus kalah telak sampai masa kelulusan saya ambil juaranya, tapi tetap saja dia rival terberat saya dalam pencapaian masa sekolah akan tetapi sekarang dia jadi apa? ketika saya pulang kemarin tahun 2015, dia seorang petani dan juga pemabuk yang parah, saya sampai tertegun ngelihat dia beberapa kali dan sedang mengejar pesta miras dari desa ke desa, temanku yang pintar dan cerdas itu sudah hilang, dia tidak berani bermimpi jauh karena tekanan membuatnya harus seperti itu.

Yang kita tidak sadari bahwa tidak banyak anak yang mempunyai sifat katak ini, bahkan ribuan mungkin jutaan orang hidup hanya untuk membahagiakan orang tuanya, banyak yang bersekolah sesuai arahan ayahnya dan meninggalkan passionnya sebagai manusia lain yang bergairah ketika lahir dari rahim ibunya, kehidupan? telah membunuhnya perlahan bahwa secara umum sekeliling kita banyak yang hidup untuk menjustifikasi orang seperti apa dan harus kayak gimana? sementara banyak orang yang ingin menjadi lembu-lembu pilihan hidupnya sendiri. Di daerah saya, ratusan orang hidup sebagai petani karena sejak kecil sudah dijustifikasi miskin dan orang tuanya tidak punya uang untuk menyekolahkan dia di perguruan tinggi

Mereka tidak bisa nekat seperti katak yang ingin menjadi lembu di tahun 2004 menginjak kota Malang memegang uang 150.ooo yang hanya cukup satu kali tes SPMB.

Salam.

Iklan


Kategori:life

Tag:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: