Snapchat yang menolak facebook dan fokus untuk anggapan mobile sebagai masa depan

Pada November 2013 seorang anak muda yang bernama Evan Spiegel mengejutkan banyak orang dengan menolak akuisisi facebook senilai 3 miliar dolar, keputusan ini dianggap bodoh karena dengan pendapatan snapchat yang masih nol besar saat itu seharusnya nilai itu sudah dianggap sempurna. Tapi sejarah akhirnya membuktikan bahwa anak muda egois itu benar karena, Snap.Inc yang merupakan induk dari snapchat kabarnya akan melakukan initial public offering (IPO) setidaknya itu yang diberitakan oleh Wall street (beritanya disini)

Diluar masalah yang mengiringi keberhasilannya hari ini, Snapchat adalah sebuah fenomena, pada bulan juni 2016 setiap harinya, sebanyak 150 juta orang menggunakan layanan ephemeral messaging yang antara lain dikenal lewat aneka filter foto dan videonya ini, Pengguna aktif harian Snapchat pun sudah lebih banyak dibandingkan Twitter yang diperkirakan memiliki daily active user sebanyak 140 juta orang.

Aplikasi yang dibuat oleh Evan Spiegel, Bobby Murphy, dan Reggie Brown ketika masih berkuliah di Stanford University ini ternyata telah sukses mencuri perhatian publik. Bahkan pada bulan Februari lalu Pada konferensi Morgan Stanley Technology, Media & Telecom di San Fransisco, Amerika Serikat, CEO Snapchat yang dikenal sebagai anak muda kaya dan sombong ini mengumumkan bahwa jumlah video yang disaksikan di aplikasi Snapchat kini sudah menyaingi jumlah video yang disaksikan di Facebook yang katanya telah mencapai angka delapan miliar setiap harinya.

Hal ini membuktikan konsistensi yang dilakukan oleh Evan Spiegel, menolak akuisisi facebook dengan nilai selangit bahkan ketika banyak permintaan bahwa layanan Snapchat harusnya ada versi webnya tapi sampai hari ini dia masih konsisten beruca bahwa Snapchat selamanya hanya bisa diakses melalui mobile, Hal ini kemudian mengingatkan saya pada satu kisah kesuksesan facebook, bahwa ketika itu Mark Zuckerberg memecat seorang stafnya karena tidak memiliki visi masa depan bahwa facebook dimasa depan adalah sebuah layanan mobile. Akan tetapi lain cerita ketika layanan whatsapp dan Instagram yang full mobile dikuasai oleh Facebook,  kedua aplikasi tersebut juga akhirnya muncul dalam versi webnya.

Evan Spiegel melihat mobile sebagai satu masa depan bukanlah sebuah gambling, perkembangan smartphone yang semakin meningkat menunjukan hal yang sejalan dengan visinya bersama Snapchat, bagaimana sebuah layanan bisa tersambung langsung dengan ponsel adalah sebuah hal yang tidak akan terbantahkan di masa depan, bagaimana tidak jika dengan analogi youtube misalnya, orang banyak mensubscribe salah satu channel dan ketika ada update terbaru maka notifikasinya akan muncul dilayar smartphone masing-masing orang yang subscribe, begitu juga dengan aplikasi lain semacam email dan lain-lain serta bagaimana potensi tersebut dapat digunakan dalam banyak hal yang bertujuan komersil.

Dengan ide yang orisinal serta visi yang gemilang tidak akan terbantahkan lagi bahwa Snapchat kemudian akan menjadi aplikasi masa depan apalagi yang terbaru Snapchat hadir dengan fasilitas impermanen yang menjanjikan kenyamanan pengguna online dalam hal ketakutan pada konsekuensi yang meluas pada video dan foto yang dibagikan kepada teman dengan dapat hilang dalam beberapa detik. Inovasi memang segalanya.

Iklan


Kategori:tech

Tag:, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: