Pertarungan media dalam momen politik DKI #SemuakotabersihkarenaAhok

Banyak yang bilang kalau “Siapa yang menguasai media maka dialah yang menguasai dunia”, walaupun itu ternyata Hary Tanoe sampai sekarang dengan billboard yang menguasai sepanjang jalan dan iklan TV yang terus menerus di 2 stasiun TV miliknya tetap saja tidak sanggup mendongkrak partainya apalagi secara personalnya, gak tau nih bosnya si Irna Bonbon ngebet amat sik jadi Presiden :D.

Secara umum media Indonesia terbagi dalam beberapa grup besar, dimana ada Bakrie, MNC Media, Transcorp, Media Group, Kompas sampai yang terbaru milik Indika dengan slogan TV masa kininya, masing-masing grup tersebut tentu kita sudah tahu siapa yang berada dibelakangnya, belum lagi dengan media online yang dimiliki oleh setiap grup tersebut, pengaruhnya jelas besar. Salah satu media online Transcorp saja bisa menduduki peringkat 6 di rank website seindonesia dan posisi 227 untuk global rank tentu saja hal tersebut menunjukan eksistensi yang luar biasa dengan jumlah kunjungan per hari yang tidak sedikit.

Belum lagi dengan facebook dan google yang menjadi raksasa media, dengan facebook ads orang bisa menyentuh kalangan mana saja untuk dapat menerima iklan diberanda facebooknya bahkan tanpa protes dan menerima itu sebagai sebuah kewajaran yang terjadi setiap hari jadi menjadi kebiasaan. Google dengan adwordsnya dimana orang bisa iklan sesuai dengan kemampuan keuangan yang dimiliki dan range target sesuai dengan kemauan serta waktu disesuaikan dengan pembayarannya.

Bahkan hari ini ada yang sedikit menarik ketika secara gamblang Anies Baswedan salah seorang Calon Gubernur DKI dalam Pilkada 2017 menyampaikan statement bahwa “sungai Jakarta yang bersih adalah programnya Foke hanya dilanjutkan oleh Ahok”. Pernyataan tersebut akhirnya mengundang gelitik banyak orang, ada yang mengamini dan ada juga yang menghujat, akan tetapi sebenarnya pertarungan media online tidak hanya sebatas itu, yang terjadi kemudian adalah proses counter isu dengan menggunakan kekuatan media yang luar biasa.

Hari ini sesuai dengan saran seorang teman saya disuruh mencari sebuah keyword di google search dengan kata ” Bandung jadi bersih karena Foke” dan hasilnya sungguh diluar dugaan ternyata susunan kata tersebut disalahkan oleh Google dan disugestikan menjadi “Bandung jadi bersih karena Ahok”, padahal dibawah Ridwan Kamil Bandung sudah semakin baik walaupun sepi pemberitaan media, berikut screenshotnya:

14517350_1042304512556260_601048441077504499_n

Saya pun akhirnya tergelitik untuk mencari daerah lain diluar jakarta dengan iseng, saya pun mencari kata yang ada sungainya seperti “sungai gangga jadi bersih karena Foke” dan hasilnya pun tetap sama, semua diarahkan yang jadi bersih itu karena Ahok, 😀 berikut screenshotnya :

14479696_1083408888421547_5649161817135253502_n

Ini benar sungguh mencengangkan sebenarnya, bagaimana sebuah raksasa media bisa jadi alat untuk mensuggestikan sesuatu, tapi yang menjadi pertanyaan bayar ke google itu seberapa banyak untuk menangkap semua kata kunci sedetail itu untuk kemudian disuggestikan ke kalimat pencarian yang dipesan, saya pernah mau coba adwords untuk blog saya ini aja minimal 450 ribu loh bayarnya untuk iklan yang paling lama 5 hari dan saya tidak jadi pesan karena kemahalan 😀 berikut kumpulan hasil pencarian dengan nama kota yang berbeda dan semuanya disugestikan jadi bersih karena Ahok

Hal ini sebenarnya sebagai seorang yang kerjanya di media kayak begini, rada merinding juga melihat pertarungan SEO yang luar biasa gini, dan merasa diri kecil banget dihadapan media yang bisa melakukan pencitraan segala hal dengan kekuatan kapital yang dimiliki.

Saya jadi tergelitik dengan pernyataan Raditya Dika, seorang selebtweet dengan jumlah follower 14 juta dan akun youtube dengan subcriber sudah lebih 2 juta ketika di tanya di akun youtube milik Joshua Suherman kenapa tidak pernah ikut campur untuk ngomongin politik karena dengan pengaruh sosial media yang luar biasa tersebut tentu saja akan berdampak pada jumlah pemilih dan jawaban diplomatisnya adalah ” Gw dengan jumlah follower dan subscriber yang sebanyak itu memposisikan diri sebagai media dan media itu netral sedangkan jawaban jujurnya gw takut dengan pengaruhnya yang luar biasa akan membuat banyak orang ikut, ternyata yang dipilihnya itu salah dan gw tidak mau menjerumuskan orang ke pilihan yang salah” (videonya ada disini)

Apa akhirnya semua media tidak peduli dengan semua hasil pemilihan ya, yang penting mereka mendapatkan stok iklan dengan bayaran selangit, at least berpikiran seperti Raditya Dika itu aja sudah cukup kok.

Iklan


Kategori:film

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: