Ketika ludah harus dijilat lagi, Belajar dari pencalonan para Cagub DKI tahun ini

Publik banyak yang tidak mengira kalau akhirnya masyarakat Jakarta akan diberi pilihan sama baiknya dalam Pilgub DKI tahun 2017 nanti, komposisi yang hampir seragam namun berbeda dengan background pendukung saja yang kemudian menjadi bumbu lain dalam sebuah peristiwa politik.

57e62b3234c09-cagub-dan-cawagub-dki-foto-selfie-di-rsal-mintohardjo_663_382

Foto by : detik.com

Lihat saja bagaimana ketika seorang putra mahkota Cikeas ternyata diturunkan lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Nada nyinyir pun mulai banyak bertebaran walaupun memang sebagai bentuk tanda sayang sebuah karir militer dilepas untuk sebuah kekuasaan politik. Panglima TNI pun entah tersetting atau tidak mengungkapkan statement yang menjadi sedikit viral bahwa sang putra mahkota disiapkan untuk menjadi pemimpin TNI dimasa depan. Memang pilihan yang sulit dan akhirnya dijawab dengan gamblang oleh sang putra “Dari TNI lah saya belajar bahwa mengabdi pada negara tidak terbatas pada tempat dan kesatuan manapun”.

Lalu bagaimana dengan petahana? dimenit terakhir ternyata akhirnya sang Ibu memutuskan kembali mengusung duet ini, walaupun dari sejak awal gesture dan posisi politiknya jelas dari awal adalah sangat terlihat mendukung petahana walaupun yang didukung melakukan drama terlebih dahulu dengan mencoba peruntungan menjadi calon indepen dan ribut dengan sindiran mahar politik partai sangat mahal sehingga tidak mampu untuk membayar, ternyata ditengah membatalkan keputusan nyalon independen walaupun katanya KTP pendukungnya sudah 1 juta, bahkan mencalonkan lewat partai yang dulu diserang dan dikecam oleh kata-kata pedasnya.

Kemudian calon ketiga yang ramai dibicarakan bahwa duetnya cukup fenomenal, seorang menteri yang  terindikasi maju pada pemilihan presiden 2019 oleh presiden saat ini dan dipecat dengan alasan katanya ” kurang gila menjadi menteri” bahwa negara membutuhkan orang gila, Yang menarik lagi sebenarnya adalah ternyata sang mantan menteri dicalonkan oleh partai politik yang pada pilpres 2014 dikecamnya, bahkan secara sadar menyebut salah seorang yang dulu menjadi capres dan kini menjadi ketua umum partai yang ikhlas menariknya menjadi calon DKI-1 tanpa mahar apapun itu dengan punya beban HAM masa lalu.

Politik ya memang begitu, segala macam yang dilontarkan dimasa lalu dihitung sebagai kelemahan dan perlu kah kita bertanya berapa kali saya, kamu dan mereka ini menjilat ludah lagi ketika berhadapan dengan hal yang disebut politik.

Saya adalah pendukung salah satu pasangan cagub DKI di tahun 2012, bahkan kalau melihat rekam twitter saya pasti saya sungguh akan kelihatan bagaimana militannya saya pada pasangan ini dulu. Akan tetapi pemimpin yang saya bilang bagus itu akhirnya mengecewakan saya dengan loncatannya untuk menjadi presiden RI sampai saat ini. Apalagi ternyata kemudian wagubnya menjadi sangat arogan pasca memegang tampuk kepemimpinan pasca ditinggal sang presiden. Ludah itu saya harus jilat lagi. Pahit.

Begitu juga dengan peristiwa pilpres 2014 begitu membekas bagaimana para selebriti mengacungkan dua jarinya tanda akan memilih nomor itu pada saat hari pencoblosan, akan tetapi kemudian ketika orang yang dipilihnya menang dan ternyata banyak kekacauan yang terjadi sampai utang yang begitu menumpuk padahal katanya “uangnya ada” banyak orang akhirnya menjilat ludah mereka sendiri pula bahkan ketika presiden itu dibully mereka akhirnya dengan masgul berkata “jangan salahkan presiden, salahkan saja saya karena saya telah buta membelanya”.

Lalu ada seorang selebritis lagi menulis dengan gamblang akan memilih salah satu calon di pilgub DKI kali ini, akan tetapi mungkin akan banyak yang meremind ulang kata-katanya ketika menjelekkan salah satu capres yang ternyata hari ini, dan ternyata capres tersebut yang sudah jadi ketua umum dengan ikhlas mengambil salah satu jagoannya untuk bertarung di DKI-1, saya cuma bisa katakan ke orang tersebut ” selamat menjilat ludah kamu sendiri”

Dan masalah kita adalah terlalu cepat menjustifikasi sesuatu hal dalam politik, kita harus sadar bahwa secair itu konstelasi politik bekerja, bahkan untuk seorang musuh pun akhirnya harus berkawan.

Saya jadi teringat kembali salah satu salam dari salah satu suku didunia yang saya lupa lihat di film apa, ludah dikeluarkan ditangan dan dipakai bersalaman dengan orang lain yang menjadikan jabat tangan itu sebagai perjanjian keabadian sebuah persahabatan. Mungkin untuk politik kita harus seperti itu.. KITA HARUS ABADI MENJILAT LUDAH KITA KEMBALI.

Iklan


Kategori:birokrasi

Tag:, , , ,

3 replies

  1. wah, saya sudah berprasangka buruk ketika baca judulnya. saya pikir tulisan ini akan dilarikan ke pernyataan SBY tntang perwira jangan nyalon pemimpin daerah spt yg disebarkan pembenci SBY heheh….. maaf kalo gt. btw sejak gub dki sy gak respect sm presiden skrg 🙂 …. salam.

    Suka

  2. semoga saja ludah yang dijilat kembali tidak mengandung sianida. hahahahahaha…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: