Mengapa orang Indonesia terkenal tidak disiplin

Pertanyaan ini tentu saja menggelayut dihampir semua benak kita apabila berjanji sama orang ternyata tidak pernah tepat waktu, atau melakukan pekerjaan selalu saja banyak alasannya. Begitu juga saya yang kalau janjian dan ditakdirkan harus menunggu, ditanya lewat bbm lagi dimana dijawab “on the way” padahal aslinya dia masih dikamarnya baru bangun tidur, akhirnya kita hanya bisa berucap ” yahh maklum orang Indonesia”, ternyata sebabnya simpel banget yaitu letak geografis negara kita.

jual_buku_novel_fiksi_dan_non_fiksi_pram_roald_dahl_jared_diamond_dll_7101111_1448537261

Bagi yang pernah baca dua buku Jared Diamond yang berjudul ” Guns, Germs and Steel ” & ” The World Until Yesterday” pasti paham kenapa saya kemudian menyalahkan letak geografis kita yang menyebabkan kemudian manusianya hampir tidak disiplin.

Jared Diamond mengemukakan bahwa faktor terpenting dalam kemajuan suatu bangsa adalah pertanian, bermula pada kebiasaan hunting and gathering yang tentua saja semua suku yang ada di dunia pernah melewati fase itu, akan tetapi kebiasaan itu mempunyai efek negatif  yaitu kelelahan dan kematian, sehingga dalam upaya untuk mempertahankan hidup dimulailah fase pertanian dengan menanam satu jenis tanaman tertentu yang hasilnya dapat disimpan ketika musim paceklik. Begitu juga dengan kebiasaan berburu yang mulai dihilangkan dan mencoba merumahkan hewan menjadi ternak dan dapat berkembang biak.

Kelebihan pangan yang dialami setelah menerapkan masa pertanian, menimbulkan pola perdagangan yang didasari kebutuhan satu jenis tanaman yang tidak ditanamnya pada musim tanam, dengan pola simbiosis pada sistem barter itulah yang kemudian membuat sebuah ekonomi suatu bangsa yang akhirnya berjalan dan berkembang secara terus menerus sampai sekarang.

Disisi lain pada suatu ketika, pada saat menonton Discovery Chanel di entah tahun berapa saya lupa, ada satu tradisi di masyarakat Islandia dimana setiap anak tertua diharuskan untuk mencari hewan buruan disetiap menjelang musim dingin, dengan harapan hewan hasil perburuan tersebut dapat disimpan dan diawetkan yang kemudian menjadi bekal musim dingin mereka, dan tanggung jawab besar itu harus dipikul oleh anak tertua karena apabila dia tidak sanggup membawa hewan buruan maka sampai musim dingin tiba mereka sekeluarga harus merasakan tidak mempunyai daging.

Pola itulah yang kemudian menyadarkan saya bahwa letak geografis kita yang hanya mempunyai dua musim dingin menjadikan kita malas, bahkan mungkin itu terjadi sejak era purba pada saat hunting dan gathering masih berjalan, ketakutan nenek moyang negara-negara yang mempunyai 3-4 musim bahwa anak dan cucu mereka tidak akan bisa bertahan hidup ketika musim dingin tiba tidak dirasakan oleh nenek moyang kita bangsa Indonesia yang kemudian menjadi satu warisan kemalasan dan kebanyakan dimiliki oleh sebagian besar suku bangsa di nusantara ini.

Kita bisa melihat bagaimana negara-negara yang mempunyai musim dingin dinegaranya, Jepang, Korea, Islandia, Finlandia dan banyak negara lain yang mempunyai ciri keteraturan dan kedisiplinan yang kemudian membedakan mereka dengan orang yang berasal dari negara-negara tropis seperti Indonesia, bahkan sangat jauh tingkat kesadarannya.

Hal itu kemudian diamini oleh beberapa warga negara Indonesia yang mendapatkan kesempatan kuliah diluar negeri, dan saya melihat pendapat itu di chanel youtube Gita Savitri Devi yang kuliah di Jerman mereka secara umum mereka mau bilang bahwa Jerman bisa lebih rapi dari Indonesia karena disana mereka merasakan 4 musim dan di Indonesia cuma 2 musim, dan perilaku untuk menyikapi 4 musim yang ada disana itu yang membuat mereka berbuat agar terus bisa survive dan salah satunya kedisplinan yang menjadi ciri negara tersebut (videonya bisa dilihat disini). Menariknya budayawan Sudjiwo Tedjo pun mengamini hal tersebut secara gamblang di shownya Kiai Kanjengnya Cak Nun ( videonya ada disini)

Lantas apakah kita sepakat bahwa letal geografis kita menjadikan kita malas ?

Seperti kata Koes Plus “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” mudah sekali dinegeri ini sehingga itu mempengaruhi kultur kita.

Iklan


Kategori:book

Tag:, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: