Catatan dunia tentang rasa kehilangan

Sejarah banyak mencatat tentang bagaimana sebuah kehilangan menjadi sebuah sebab sebuah keterpurukan atau sebaliknya akan menciptakan lonjakan yang besar dalam hidup seseorang, kita pasti banyak mengingat tentang kisah Romeo dan Juliet yang sama-sama mati karena meminum racun kesedihan ditinggal kekasih tercintanya, atau tidak perlu jauh-jauh bagaimana cinta seorang Habibie pada Ainun yang membuatnya selalu mengirimkan bunga di kalibata, setiap jumat untuk menyembuhkan rasa kehilangan dilakukan dengan berdoa di pusaranya.

orang-duduk-sendirian-sore-hari

Bagaimana sang diktator negeri ini, sejak kehilangan sosok Ibu Tien publik banyak yang menilai cahaya hidup Soeharto seakan redup dari wajahnya dan ternyata cahaya kekuasaannya pun hilang beberapa tahun setelah kehilangan permaisurinya. Kita juga tentu menyadari bahwa kehilangan telah menjadi saksi sebuah kehidupan baik dulu sampai sekarang, Marah Rusli pun menggambarkan sosok Samsulbahri yang berubah menjadi Letnan Mas yang tidak mati-mati walaupun menerjang peluru tanpa pelindung, bukan karena keberanian tapi rasa kehilangan membuatnya ingin segera mati setelah Siti Nurbaya dinikahi Datuk Maringgih.

Tetapi apakah kemudian kehilangan menjadikan kita pantas untuk mati.

Akan tetapi sejatinya kehilangan dan duka yang mendalam membuat orang dapat menghentikan fungsi organnya, setidaknya ilmu kesehatan mencatat itu dengan disebut sindrom patah hati yang merupakan suatu kondisi hati sementara yang sering disebabkan oleh situasi stres, seperti kematian orang yang dicintai. Orang-orang dengan sindrom patah hati mungkin memiliki nyeri dada tiba-tiba atau berpikir bahwa mereka sedang mengalami serangan jantung. Dalam sindrom patah hati, ada gangguan sementara fungsi pemompaan jantung yang normal.

Lantas apakah kemudian wajar kita meratapi sebuah kehilangan, ternyata secara ilmu pengetahuan juga dapat menganalisis itu, atau mungkin itu hanya dianggap kesedihan karena orang yang dicintainya meninggal, bagaimana dengan orang yang mengalami patah hati karena ditolak atau diputuskan oleh orang yang dikasihinya, ada beberapa jurnal tentang syaraf yang mencoba membahas itu, bahwa ketika seorang patah hati entah itu diputuskan atau ditolak bagian otak tertentu bekerja merespons perpisahan itu dengan kebutuhan untuk terus bersama dan afeksi dan akhirnya ketika gagal dipenuhi, ia menimbulkan perasaan sedih dan menderita.

Dalam sejarah masyarakat tradisional pun tercatat bahwa kehilangan bisa menjadi salah satu alasan untuk melakukan ritual adat yang extrim, kita mungkin pernah menonton Denias ketika ibunya meninggal maka ayahnya akan memotong salah satu jari tangannya sebagai satu bentuk rasa kehilangan, atau yang paling extrim ada di suku Kaulong dengan ritual mencekik janda dimana ketika suaminya meninggal, maka sang janda tersebut memanggil seluruh saudaranya untuk mencekiknya sampai mati secara sadar.

Kehilangan itu tidak sesederhana yang kita bayangkan, setidaknya sejarah telah banyak membuktikan secara fiksi sampai masyarakat tradisional pun berbicara tentang dampak hal tersebut, tapi akhirnya yang kehilangan harus terbiasa untuk melakukan satu hal yaitu bertahan tanpa bayang kehilangannya, tidak lebih.

Iklan


Kategori:life

Tag:, , ,

2 replies

  1. Kehilangan memang pedih. Tapi hidup harus jalan terus. Hidup tidak bisa jalan ditempat. Kehilangan meskipun pedih namun dpt menjadi pelajaran penting dalam hidup. Pelajaran mengikhlaskan. Bukankah hidup itu pada intinya hanya tentang meninggalkan atau ditinggalkan?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: