Novel O, Tentang binatang, manusia dan segala kemustahilan

Membaca novel O ini sepertinya membuat saya pertama kalinya membaca alur maju mundur dengan berbagai sudut pandang dari segala karakter yang muncul, semuanya berpindah acak sesuai dengan kemauan penulis tanpa memperdulikan bagaimana perhatian kami pada akhir dari sebuah cerita yang dimulainya, dan novel ini secara kasar saya bilang dengan kurang ajarnya tanpa memperhatikan ending tapi secara bersamaan mengaduk-aduk emosi pembacanya.

60b116b4-6d8b-44f8-9b36-86cda2bbe113_169

Saya menyarankan untuk pembaca yang mudah bosan dan terbiasa berdetak menunggu kelanjutan satu kisah seseorang yang dianggap tokoh utama mending gak usah baca novel ini, karena kalian gak akan masuk dalam penjiwaan satu tokoh utama tapi bermacam-macam tokoh utama dari berbagai sudut pandang mulai dari monyet, revolver, manusia bahkan terpaksa masuk dalam tokoh ular dalam upaya memahami segala alur yang ada dikepala penulis ini.

Kisahnya bermula dari kisah seorang monyet yang bernama O dan kekasihnya Entang Kosasih lalu belum puas dengan segala penjabaran dunia kemonyetannya yang ingin menjadi manusia dengan menjadi anggota topeng monyet, si penulis pindah dengan sesuka hati masuk menjadi revolver yang punya hati, belum puas semua itu berjalan eh dengan sengaja lagi pindah ke Sobar sang polisi yang dan belum puas itu semua berjalan alur maju mundur muncul tokoh lain si Betalumur dengan O sudah menjadi anggota topeng monyet, berkenalan dengan sepasang pemulung yang diceritakan sekejap dengan menjadi Ma kungkung tapi belum selesai itu semua, semua berbalik lagi kembali entah itu dimasa lampau atau masa depan dengan Entang Kosasih si monyet sedang belajar memegang revolver hasil mencuri milik si Sobar yang terlena selepas menembak si Boboh, ular sanca yang hampir menelan dua orang anak beranak.

Belum selesai kebingungan itu semua kembali dengan si monyet O dengan temannya si Anjing yang bernama Kirik dan Betalumur yang terganggu dengan gangguan seekor kakatua yang tiba-tiba muncul di gedung rongsok mereka dengan kata-kata “Dirikan Shalat..Dirikan Shalat..”

Semua hal tersebut berpindah dengan alur yang tidak beraturan kadang fokus dari satu cerita kadang mundur ke belakang masuk ke ingatan sang tokoh dan kadang juga meluncur kedepan sangat jauh tapi di beberapa lembar berikutnya diceritakan ulang, semua itu terjadi pada semua tokoh, dari Entang Kosasih si monyet, si Monyet O, Polisi Sobar, Betalumur, Ma Kungkung sampai tokoh Kamelia yang muncul sekelebat hadir untuk menggoda iman si Kaisar Dangdut.

Eka kurniawan mungkin sosok penulis yang tidak peduli alur, atau bahkan mungkin terlalu teliti dengan alur sehingga bisa dengan teliti mengatur semua dengan pola maju mundurnya, pada awalnya memang akan cepat bosan dengan alur yang tidak jelas, bahkan perlu berapa kali saya menutup dan menandai novel ini dan kemudian melanjutkannya kembali beberapa jam kemudian bahkan keesokan harinya, dia hadir dengan tema yang menarik dengan gaya penceritaan yang tidak biasa.

Bagian menariknya adalah bagaimana idenya dengan brilian mengatur pertemuan Sobirin dengan Sri Astuti dengan suara ngaji, merayu Sri Astuti dengan surat Yusuf yang dibacakan hampir tiap malam, ketika diberi tahu siapa gadis yang tidak merona, saya membacanya pun sangat luar biasa, perpisahannya yang tragis karena adat perjodohan yang akhirnya bertemu lagi dengan bantuan surat-surat yang dibacakan setiap mengaji, begitu dalam banget si Eka mengatur proses itu semua,

Ide sederhana si Eka sebenarnya sederhana melawan semua kemustahilan dunia apabila orang semua berusaha, bagaimana kemustahilan seorang seorang Dara yang akhirnya mencintai Sobar yang berprofesi sebagai polisi, sosok yang dibencinya karena polisilah yang menembak pecah kepala ayahnya, bagaimana O  dan Entang Kosasih yang belajar untuk menjadi manusia karena cerita kejayaan si Armo gundul yang berhasil menjadi manusia karena mempelajarinya secara langsung pada manusia.

Kemustahilan ini adalah ide sederhana, sesederhana Eka membuka ruang pikir kita agar tidak terjebak dalam satu proses pemikiran cerita yang terurut dan sesekali memunculkan efek kejut, di buku ini dengan alurnya saja membuat orang terkejut dan sampai buku ini selesai saya hampir tidak mengerti bagaimana sebenarnya Eka membawa ceritanya ini, hanya kemustahilanlah juga yang membuat saya juga tetap membaca buku sampai akhir dan entah mengapa juga mengapa.

Tapi satu hal yang pasti, setelah membaca buku ini kamu bakal percaya untuk mengalahkan meustahilan serupa Entang Kosasih si monyet yang bisa menjadi manusia dengan cara mustahil tanpa belajar menjadi topeng monyet seperti Armo gundul pendahulunya, bagaimana Sobar dan Dara menjadi Ikan besar untuk menuju rasa cinta mereka, bagaimana juga Toni Bagong menjadi buaya karena kebuasan dalam hidupnya.

Apakah memang binatang yang hadir disekitar kita adalah miniatur kita?

Iklan


Kategori:book

Tag:, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: