Sehabis membaca Ayat-ayat cinta 2

Setelah suka banget di buku pertamanya maka kewajiban banget bagi saya untuk baca buku keduanya, walaupun gak begitu mengejar persis harus pada saat launchingnya tapi bulan kemarin akhirnya ada yang ngasih buku ini, katanya mau dikasih ke pacarnya tapi keburu putus yaudah makasih deh, akhirnya bisa baca 😀

531072_5bf30c71-f2e3-4231-aed6-daf61af51b9c

Source:republika

Cerita buku keduanya ini berkisah tentang Fahri di kota Edinburgh, Skotlandia dimana setelah kasusnya di Kairo di buku pertama, Fahri dan Aisha trauma dengan kejadian itu dan memutuskan pindah-pindah kota dari Jerman dan akhirnya menetap di kota itu, Fahri juga sudah mengajar University of Edinburgh sekaligus mengambil postdoc nya disana, dengan warisan kekayaan keluarga Aisha, Fahri pun bisa mendirikan butik dan supermarket ternama di Edinburgh.

Akan tetapi Aisha ternyata menghilang sejak kepergiannya ke Yerussalem untuk melakukan riset disana dan beberapa tahun hilang  tidak ditemukan kabarnya, Fahri yang setia akhirnya hanya bisa merasakan kehilangan yang mendalam tanpa mau menikah lagi walaupun sudah dilamar oleh beberapa wanita termasuk dijodohkan oleh sepupu Aisha.

Dibuku kedua ini Kang Abik terlihat lebih berani mengeksplore konfliknya antara Islam dan Yahudi serta pandangan eropa terhadap muslim, mendapati kenyataan bahwa keluarga disamping rumahnya pun sangat benci terhadap dia dan meneror rumahnya dengan kata-kata kasar akan tetapi Fahri juga sangat bersahabat dengan wanita tua yahudi yang tinggal depan rumahnya.

Buku ini juga sangat mengeksplore keindahan Edinburgh, walaupun hanya visualisasi kata-kata saya terasa nyaman sekali diceritakan bagaimana Edinburgh itu seolah kota itu hadir dihadapan saya langsung dan model penceritaan itu menjadi tanda bahwa eksplorasi kang Abik begitu mendalam pada kota itu sangat mendalam termasuk beberapa tempat makannya, islamic centernya, university of edinburghnya sampai pesona meloda bagpies dijalan-jalan utama kota Edinburgh, indah sekali penggambarannya.

Buku ini juga membimbing kita secara filologi dalam mempelajari runut sejarah islam dan Yahudi, bagaimana menjawab pandangan tersebut dan yang paling menarik adalah debatnya sangat berkelas dan menyusun debat kata-kata 3 orang dalam satu bagian itu terlihat sekali Kang Abik memahami seluk beluk kajiannya baik Yahudi, Atheis ataupun Islam itu sendiri.

Akan tetapi terus terang saya sangat gak nyaman dengan alur sinetron yang ada di dalam buku ini, apalagi ternyata pengemis buruk rupa yang dilihatnya dipinggir jalan dan diajak tinggal dirumahnya adalah Aisha, apalagi karena terbiasa dengan alur cerita kang Abik selama membaca buku-bukunya saya sudah menebak sejak awal ketika pengemis buruk rupa yang dikasih uang 100 euro itu adalah Aisha, apalagi ditambah dengan drama tangan pengemis itu terbakar tangannya sehingga tidak bisa diambil sidiknya, dan wanita mana yang rela lihat suaminya nikah lagi dan dia menjadi pembantunya walaupun disetting dia telah diperkosa oleh orang yahudi di Yerussalem sehingga merasa tidak pantas menjadi Aisha lagi padahal dia tahu karakter suaminya seperti apa, terkesan dramatis tapi ya gitu sinetron banget.

Buku ini diluar kelemahan drama sinetron yang ditampilkan untuk menghilangkan Aisha dan menjadi alasan konflik ketika menikah lagi dengan orang lain buku ini sangatlah baik, akan tetapi terus terang penggambaran sosok Hulya yang begitu mempesona membuat saya patah hati kenapa diakhir film dia harus mati.

Ditunggu buku selanjutnya Kang Abik, lebih nakal lagi donk 😀

Iklan


Kategori:book

Tag:, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: