Jalan tengah pro kontra full day school

Pro kontra adalah suatu hal yang biasa, perbedaan mindset dan pengalaman membuat setiap manusia punya tipikal sendiri dalam menyikapi satu hal, termasuk dengan dunia pendidikan  baru-baru ini gempar dengan wacana full day school yang dicanangkan oleh Prof Muhadjir,  Mendikbud yang baru dilantik seminggu yang lalu, mari kita simak secara seksama pendapat yang bersilangan belakangan ini.

full

Prof Muhadjir berpendapat bahwa :

“Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi ‘liar’ di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja,” kata Mendikbud

Menurut Muhadjir, dengan menambah waktu anak di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan mengaji sampai dijemput orang tuanya usai jam kerja. Dan, anak-anak bisa pulang bersama-sama orang tua mereka, sehingga ketika berada di rumah, mereka tetap dalam pengawasan, khususnya orang tua.

Menurut dia, sistem full day school banyak memberikan kesempatan kepada pihak sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik sesuai dengan program Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla ” (sumber berita di CNN Indonesia disini)

Sedangkan baru-baru ini melalui Change.org,  Deddy Mahyarto Kresnoputro mempetisi wacana tersebut dengan alasan berikut dibawah ini :

” Belum selesai kita membenahi masalah kurikulum yang kerap kali diacak2, sekarang muncul wacana untuk Anak Sekolah Sehari Penuh, dengan alasan pendidikan dasar saat ini tidak siap menghadapi perubahan jaman yang begitu pesat. Semoga bapak2 dan ibu2 tahu bahwa tren sekolah di negara2 maju saat ini adalah less school time, no homework, more about character building.

Alasan lain dari Mendikbud adalah untuk mencegah hal2 negatif yang bisa didapat oleh anak di luar sekolah, salah satunya adalah dengan memberi kelas agama, dibandingkan dengan belajar agama di luar sekolah yang mungkin bisa terjerumus ke arah ekstrimis. Terima kasih atas concernnya bapak, tapi kalau hal ini yang perlu belajar adalah orang tuanya, untuk mengarahkan anak agar tidak terjerumus ke hal-hal yang bersifat negatif.

Seseorang bernama Kang Hasan, katanya seorang guru, menulis di http://abdurakhman.com/sekolah-sehari-penuh-merampas-interaksi-anak-orang-tua/ menggambarkan keadaan ini seperti melepas tanggung jawab orang tua terhadap anak2nya ke sekolah, merenggut interaksi antara anak dengan orang tua.

Pemerhati pendidikan lain menganggap bahwa homeschooling menjadi pilihan yang paling tepat dibandingkan mengirimkan anak2 ke “pabrik” pendidikan yang bernama sekolah sehari penuh ” (sumber bisa dilihat disini )

Secara pribadi saya melihat tidak ada yang salah dalam dua pendapat tersebut dan tidak harus bersilang pendapat, karena pada dasarnya semua yang dituangkan oleh mereka sama benarnya yaitu bahwa pendidikan karakter itu intinya ada pada satu hal yaitu pada keluarga itu sendiri, orang tuanya. akan tetapi selama ini diakui atau tidak bahwa ada ruang kosong yang membayangi proses pendidikan karakter melalui orang tua tersebut mengingat perkembangan zaman yang semakin maju, gerakan emansipasi yang menuntut orang tua perempuan dan laki-laki saling berlomba untuk mengejar karir mau tidak mau ada kekosongan hal tersebut, sekali lagi mau diakui atau tidak, bebas saja menurut saya kalau memang mau membela diri.

Saya melihat langsung sample sistem yang dicanangkan oleh Prof Muhadjir ini pada seorang teman saya, salah seorang pendamping desa di Kabupaten Lamongan sebuah program pengentasan kemiskinan di Jawa Timur dimana saya mensupervisi, teman saya seorang guru dan suaminya juga guru di Kota Sidoarjo yang pulang hanya setiap seminggu sekali sabtu minggu. Kesibukan teman saya menjadi guru membuatnya pulang diatas jam 12 siang bahkan kalau ada kegiatan bisa sampai jam 4 sore.

Anaknya bersekolah di sebuah SD di Desa Sugio Kabupaten Lamongan, sebuah sekolah swasta yang setiap jam pulang sekolah siswanya tidak langsung pulang tapi langsung belajar mengaji dan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Setiap hari teman saya menjemput anaknya pulang sekolah setiap jam 4 sore, sesuai dengan jadwal kegiatannya juga dan kalau anaknya pulang rumahnya pun kosong karena suaminya jauh dikota lain dan dia juga bekerja, saya melihat hal tersebut positif sekali karena sekolah mengisi waktu lowong yang tidak sempat dilakukan oleh orang tuanya.

Petisi itupun tidaklah salah, karena banyak orang tua juga yang merasa mampu untuk mendidik anaknya sendiri tanpa bantuan sekolah, sehingga hal tersebut terasa terlalu berlebihan mengingat waktu mereka juga menjadi lebih sedikit dengan anaknya, oleh karena itu saya berpendapat harus ada jalan tengah untuk menyikapi dua hal yang terasa bersilang pendapat tapi sebenarnya mempunyai inti yang sama yaitu pendidikan karakter terbesar itu ada di KELUARGA.

Pertama, Peraturan ini tidak bisa disama ratakan kepada setiap anak mengingat tidak semua anak yang mempunyai orang tua dua-duanya bekerja, kalau misal ibunya tidak bekerja maka biarkan saja pendidikan karakternya lebih banyak diluangkan dirumah bukan disekolah.

Kedua, Peraturan ini lebih cocok diterapkan untuk anak yang orang tuanya dengan profesi sebagai PNS karena jam kerja mereka longgar dan selalu pulang tiap waktu sehingga sesuai antara jam pulang sekolah anak yang jam 4 atau jam 5, orang tuanya juga bisa menjemput karena sudah pulang dari kantor tanpa takut deadline sedangkan anak yang orang tuanya pekerja swasta bakal susah dengan kebijakan ini mengingat jam pulang kerjanya tidak pasti walaupun di peraturan tersebut pulangnya jam 5 tapi tetap saja deadline pekerjaan membuat mereka kadang harus lembur sehingga pasti tidak bisa menjemput anaknya tepat waktu.

Ketiga, Peraturan ini tidak diwajibkan secara menyeluruh dan hanya untuk orang tua yang setuju dengan peraturan ini karena pendidikan karakter tersebut kembali kepada orang tuanya, kalau orang tuanya tidak merasa cocok ya pasti ketika dirumah juga pasti bertentangan sehingga ujung-ujungnya anak malah akan merasa bingung dengan apa yang diterimanya.

Intinya bagi saya tidak ada yang salah dengan kedua pendapat ini, karena saya melihat langsung model yang dicanangkan oleh Bapak Mendikbud kita ini pada contoh nyata yang saya alami dalam beberapa bulan ini, kemudian saya juga paham dengan kekhawatiran orang tua kepada anaknya adalah sebuah bentuk kasih sayang, dan kasih sayang yang baik juga adalah modal awal pembentukan karakter yang baik.

Semoga pendidikan Indonesia semakin maju.

Iklan


Kategori:Education

Tag:, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: