Menyoal warteg, puasa dan menjadi Islam yang cerdas

Kisah seorang penjual warteg yang digerebek di Serang dua hari kemarin karena tetap buka pada saat bulan Ramadhan sedikit menyentil , walaupun memang rada telat baca beritanya tapi karena banyaknya viral di media membuat hal ini tiba-tiba terpampang di semua sosial media bahkan sudah beberapa meme yang muncul karena peristiwa ini. Islam dianggap tidak toleran dan segala macam sebutan lain, mari kita simak dulu deh.

Setan-Setan-Pas-Puasa1+

Berpuasa itu ibarat berperang, jika orang yang berperang dengan melawan musuh yang lemah dan tidak punya kemampuan yang mumpuni maka kemampuannya akan selalu begitu-begitu saja, tidak akan ada peningkatan. Bandingkan dengan para petarung-petarung yang unggul di semua medan pertempuran yang mengalahkan musuh terkuat sekalipun, menang di gelanggang itu akan memudahkannya untuk menang lagi di pertarungan berikutnya.

Orang berpuasa ya seharusnya seperti itu, bahkan secara pribadi mungkin saya ingin bulan Ramadhan itu biasa saja dan sama dengan bulan lain, banyak penjual gorengan disudut jalan, banyak warung buka tanpa embel-embel tirai, dibiarkan saja karena esensi puasa itu adalah melawan hawa nafsu dan tergantung kita saja mau kalah atau menang.

Warteg buka dan tidak bukan ukuran itu bulan puasa atau bulan lain, biarkan saja orang berjualan sesuai dengan pekerjaannya dan biarkan juga orang yang islam tapi tidak berpuasa, karena puasa itu yang dipanggil bukan untuk orang muslim kok tapi untuk umat muslim yang beriman, Ya ayyuhal lazina amanu.

Beragama adalah bukan tentang tidak adanya godaan kemaksiatan tapi bagaimana kita menang dari segala kemaksiatan yang terjadi di sekeliling kita, mengapa seperti itu ? karena tingkat keimanan masing-masing manusia berbeda, setan yang ditugaskan untuk merayu manusia berbuat maksiat pun bertingkat-tingkat, karena gak mungkin setan yang bodoh bisa merayu manusia yang punya tingkat intelegensi yang tinggi, maka perlu diturunkan juga setan yang tingkat intelegensinya yang sama sehingga peluang tergodanya juga lebih besar.

Sama seperti ketika setan merayu Nabi Adam secara langsung dia tidak akan bisa berhasil, akan tetapi ketika setan tersebut menggunakan kepintarannya untuk merayu Siti Hawa maka berhasil dan Siti Hawa lah yang merayu Nabi Adam yang akhirnya memakan buah khuldi.

Sekarang apakah agama Islam yang menyuruh untuk warung itu tutup? ya tentu saja tidak, esensi beragama dan berpuasa jelas diterangkan oleh Islam, intinya bulan ini adalah bulan perjuangan dan layaknya orang yang berjuang pasti akan disediakan lawan tanding agar kemenangannya bermakna.

Orang Islam adalah bukan tentang orang yang bisa taat beragama karena bukan tidak adanya godaan tapi orang Islam itu adalah orang yang tetap taat beragama walaupun godaan silih berganti hadir di depan matanya.

Yuk menjadi Islam yang cerdas.

Iklan


Kategori:birokrasi

Tag:, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: