Feminis dalam lipatan kekuasaan

petani_perempuan12

Hari itu Balai Desa  gempar, Lek Tarmi bersitegang dengan Cak Polo kepala dusunnya. Janda beranak tiga itu geram dengan statement perangkat desa yang meremehkan mereka para wanita calon penerima bantuan pemerintah propinsi, pendamping  dari kabupaten pun terdiam seribu bahasa kaget melihat tensi perdebatan itu. Awalnya hanya persoalan sepele, soal bantuan kepada para janda-janda dari pemerintah ini oleh kepala dusun ingin diseragamkan dengan maksud bantuan tersebut dapat langsung kelihatan dan gampang untuk diawasi oleh pendamping ataupun tim dari kabupaten, tapi Lek Tarmi menolak karena ingin membesarkan usaha pembuatan gerabah yang sudah lama dirintisnya.

“Ora iso diatur !!!, panjenengan sedoyo iki iso nerimo bantuan karena perangkat desa juga jangan disepelekan saran kami” sengit tiba-tiba Cak Polo nyeletuk ditengah rapat.

“Bukan tidak bisa menerima pak kasun” kata Lek Tarmi menimpali “ usulan usaha yang dibiayai haruslah sesuai dengan apa yang kamu inginkan” janda ini mencoba memancing nalar para hadirin peserta rapat.

“Tapi apakah bisa ibu-ibu yang hampir semuanya sudah berusia lanjut ini bertanggung jawab?, jangan sampai nanti dikasih bantuan hanya untuk dihabiskan dan nanti kami perangkat desa susah untuk melaporkan kalau diperiksa pemerintah” seru Carik yang tadi diam mencoba membela Cak Polo karena tak ingin koleganya malu.

Perdebatan sengit terus berjalan sepanjang sore dan tidak mencapai titik temu, akhirnya pendamping kabupaten pun mengambil alih.

” Untuk sementara kita anggap permasalahan ini selesai dulu, dianggap Lek Tarmi usahanya sesuai dengan apa yang di inginkan, nanti pendamping desa dan saya juga akan mencoba mengklarifikasi ulang ” kata pendamping yang bukan orang jawa itu. Lek Tarmi yang berada di belakang pun akhirnya tersenyum, sedikit puas.

” Tapi begini pak pendamping kabupaten ” tiba-tiba kades yang sedari tadi diam langsung angkat bicara.

“Persoalan desa adalah persoalan kami dan perangkat, warga kami ini yang urus perangkat, kami bakal selalu ada disini dan apabila ada masalah kami yang bertanggung jawab,  panjenengan yang asli luar jawa habis program ya kalau gak pindah program bisa pindah kota dan macam-macam” jelas pak kades dengan sarkastik dengan wajah yang sedikit gusar.

Pendamping kabupaten itu tersenyum, pengalaman organisasinya selama kuliah dan kerja di BUMN 5 tahun membuatnya sedikit paham bakal ada gejolak disini.

“Saya paham panjenengan semua ingin yang terbaik buat warganya dan sekaligus nyaman untuk pihak desa, tapi ini masuk ke notulen saya dan masuk ke dalam berita acara rembug, dan pasti akan saya laporkan termasuk apabila ada sanggahan peserta rapat ” kata pendamping kabupaten itu sehalus mungkin sambil memperlihatkan draft notulensi yang sedari tadi didiktekan kepada salah seorang pendamping yang diberinya tugas.

“Karena saya paham itulah makanya saya ingin hal ini tidak menjadi konsumsi notulensi, cukup hanya menjadi klarifikasi personal antar pendamping dengan warga, tidak ada notulensi dan pendamping desanya juga adalah warga bapak, bukan teman saya” terangnya lagi berdialektika sambil tersenyum.

Pendamping kabupaten itu paham, sebagai orang yang sangat dipercaya oleh bupati daerah itu, kadesnya pasti mengerti apa yang diinginkannya. Karena sebagai pengatur strategi kemenangan bupati tahun kemarin pasti mengerti apa yang disampaikan pendamping itu adalah bagian dari strataknya untuk menekan tanpa mempermalukan.

“Ok, mungkin sementara sambil menunggu rembug lagi minta tolong mbak putri dan mbak yuni sebagai pendamping desa yang perangkat tunjuk untuk mendampingi ulang dan mendata kembali keinginan para warga semoga bisa diarahkan lebih baik “

Mendengar pak kades berbicara seperti itu para perangkat yang lain terdiam, mereka gak nyangka kades mereka tiba-tiba melunak ditekan oleh pendamping kabupaten yang dianggap mereka masih bau kencur itu. Cak polo yang merupakan Kasun paling kritis sekaligus bawel selama ini mau menyergah tapi di beri kode oleh pak kades untuk diam. Rembug sore itu berakhir hening

****

“Gak bisa kayak gini, gimana kita bisa dapat keuntungan kalau usahanya beda-beda, ribet ngature pak ” kata seseorang di ruangan itu.

“Makanya pak carik itu minta kumpul malam ini, bagi tugas dulu ” Kata seseorang yang lain. Akhirnya yang lain terdiam dan siap menerima titah.

Malam itu mereka berkumpul dan membicarakan dengan baik bagaimana cara mereka mengkondisikan para warga agar semuanya mau seragam, bersilang pendapat dan menelpon sana-sini mereka lakukan hingga tengah malam

****

Pendamping kabupaten itu terdiam disudut mesjid setelah sholah dhuhur, kisah kemarin sore menyiratkan satu masalah besar yang akan dihadapinya, dilain sisi hak warga untuk berusaha sesuai keinginannya bisa terbelenggu dan di pihak lain ketika dia memaksakan keinginannya maka proses yang masih akan berjalan sekitar 8 bulan lagi ini bisa saja tersendat karena dua sisi pendampingan adalah tentang bagaimana warga dan juga tentang komunikasi dengan pihak perangkat desa, keduanya harus sejalan tidak bisa timpang.

Hari ini rencananya dia akan berkeliling ke rumah warga yang menerima bantuan untuk berdiskusi secara langsung, sambil memikirkan bagaimana celah yang bisa dipergunakan sembari melindungi minimal beberapa keluarga yang mempunyai keinginan usaha selain ternak seperti yang diusulkan para perangkat desa.

Ditemani para pendamping desa mereka berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, dari satu dusun ke dusun lain, hingga menjelang sore mereka mendata dan melihat satu persatu hasilnya, pendamping kabupaten itu makin bingung sepertinya sekarang malah semuanya tidak ingin berlama-lama berdiskusi dengan pendamping, mereka semacam koor ingin dibelikan kambing dua ekor, satu indukan dan satu anakan untuk mereka pelihara hasil dari bantuan ini. 26 kepala rumah tangga dan semuanya ternak kambing. Lek tarmi yang kemarin tegas menantang pun sepertinya sudah tak berani memandang mata kami lagi

“Nanti dari hasilnya ternak kambing baru saya jadikan modal untuk usaha gerabah saya pak” katanya tadi sore ketika disamperin dirumahnya.

“Loh bukannya Lek Tarmi kemarin tegas gitu, kok sekarang melunak ?” Kata pendamping kabupaten itu menyelidik.

Dia hanya diam, bahkan ketika para pendamping pamit dan menanyakan ulang kembali apa keinginannya, tetap tegas dijawab “TERNAK KAMBING”

****

Lama sebelum pendamping kabupaten itu memutuskan untuk turun dari motor mio kesayangannya, di depannya adalah rumah kades yang dulu menyambutnya dengan ramah ketika membawa surat tugas dan sk tentang bantuan untuk janda di desanya, bahkan ketika dia bilang bahwa akan membuat buku tentang pengalaman pendampingannya selama 9 bulan dan akan di beri judul “feminis-feminis desa” orang nomor satu di desa itu sumringah bahkan memberikan banyak saran tentang buku itu

Tapi hari ini dia ingin membantah untuk memberikan kesempatan kepada para feminis itu memilih jalannya sendiri dan bagaimana usaha mereka dijalankan.

“Asalam Alaikum “

“Pak kadesnya ada bu ?” tanyanya kepada perempuan yang keluar menghampirinya ketika mendengar salam

“Oh iya ada, sebentar saya panggilkan ” kata perempuan itu sambil bergegas masuk kembali ke dalam ruangan

“Ooh mas pendamping to yang datang , monggo pinara mas ” kata pak kades ketika melihat pendamping itu yang datang.

“Ada apa ini kok tumben main lagi kerumah ” lanjut pak kades ketika mereka sudah duduk di sofa rumah itu

“Ini pak kades, mau silaturahmi sekaligus ada yang mau diomongin” kata pendamping itu kaku dan mungkin bingung mau mulai darimana untuk membicarakannya.

” Ya silahkan mas, gimana hasil klarifikasinya, apakah sudah ada hasil? ” kata pak kades sambil bertanya.

“Nah itu pak, sudah kami datangi satu persatu dan hasilnya mengarah kepada satu jenis usaha yaitu Ternak Kambing ” kata pendamping itu dingin

Pak kades tersenyum kecil mendengar jawaban pendamping itu, mengambil rokok dan menghisapnya dengan dalam

“Saya baru 3 tahun jadi kades disini mas, banyak yang saya belum pahami dari konstelasi politik disini walaupun perangkat saya banyak yang nurut” katanya pelan tiba-tiba bercerita

“Pak carik saya sudah lama menghandle perangkat dibawahnya, sejak 4 kepala desa sebelumnya dia sudah jadi perangkat, konflik ada tapi banyak bisa saya menangkan dan kebetulan pak bupati berpihak penuh pada saya” lanjutnya lagi

“Kenapa pak bupati sering kesini, kerumah saya karena saya minta secara pribadi untuk show off kepada penduduk sekaligus perangkat kalau saya gak bisa disepelekan walauun pemerintahan dihandle pak carik”

“Peristiwa kemarin membuat saya terhenyak mas, ada gejolak yang ternyata disembunyikan oleh warga, ternyata banyak yang tidak setuju dengan perlakuan aparat padahal saya sudah percaya diri penuh bahwa desa ini sudah aman ditangan saya”

“Saya paham  omongan sampean pada saat rembug kemarin, dan terus terang saya juga dapat bisikan dari pak carik sebelum kita rembug kemarin makanya saya sedikit terbawa dengan pola yang ada. Tapi penegasan jenengan membuat saya ingin mengetahui lebih dalam ini sebenarnya ada apa ” lanjutnya lagi sambil menghela nafas agak dalam

“Jadi maksud pak kades? ” kata pendamping itu bimbang

“Nanti saya samperin rumah-rumah calon penerima itu sendiri, nanti malam saya keliling dan besok kita rembug lagi ” kata pak kades dengan tetap menghisap rokoknya dengan dalam

“Yang harus sampean paham, saya masih orang yang sama waktu memberikan sampean pemahaman bagaimana konsepsi janda di masyarakat kami, tapi saya minta tolong jangan mengusik kewibawaan saya di desa ini, saya paham apa yang harus saya lakukan ” katanya lagi.

Pendamping itu tak berapa lama pamit dan pulang dengan masih tetap bingung, konsepsi raja-raja kecil dan penasehat raja yang lalim mungkin masih sedikit banyak mempengaruhi daerah ini, wajar saja pembangunan di negeri ini lama dan tersendat karena mereka yang ada dibawah paham apa yang harus dilakukan tapi mereka lebih mementingkan tangan kekuasaan untuk mengeruk keuntungan pribadi dibanding menjalankan amanahnya.

****

Rembug di desa itu berjalan lagi keesokan harinya, tanpa kesengitan seperti kemarin dan konflik sepertinya terjadi tapi seperti bersembunyi, penguasa desa seperti saling mengadu ilmu dalam tawa-tawa palsu mereka, sementara pendamping desa dan pendamping kabupaten hanya bisa pasrah apapun hasilnya, karena memang dalam listnya dari 26 kepala keluarga yang maksimal bisa dipakai untuk usaha sendiri ya 4-7 kepala keluarga yang lainnya biarlah sesuai dengan keinginan perangkat desa. Tapi semoga waktu berkata lain, karena sejarah bukan tentang apa yang ditulis tapi apa yang ingin kita lakukan.

Iklan


Kategori:cerpen

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: