Pagi untuk Afni

Kayu berukuran lengan itu pecah ditubuhnya, sedari subuh kemarahan ayahnya memuncak setelah malam tadi mereka bersenda gurau.  Pagi dan malam bagi mereka memang seperti bumi dan langit dalam 5 tahun ini, ayahnya berubah dari sosok yang begitu lembut di malam hari dan menjadi beringas di pagi hari, entah mengapa perangai itu muncul.

tirai-kabut-fajar-pagi1

Afni pergi kampus dengan badan yang remuk serta pipi sedikit membiru, teman-teman yang mengenalnya sudah tahu mengapa dia seperti itu, sementara yang lain hanya bisa bertanya-tanya dalam hati walaupun memang banyak juga yang menggunjingnya. Bagi Afni hal itu sudah biasa, sejak kelas 2 SMA memang wajahnya yang cantik berubah bentuk menjadi si buruk rupa

“Kamu gak bisa kayak gini terus Fni, kita sudah hampir lulus kuliah dan kondisimu tiap pagi seperti ini”

Aldo berkata seperti itu sambil menahan emosi, dia bersahabat dengan gadis itu memang sejak lama, bersama dengan Vita, Puput dan Zila yang mereka berdua kenal pada saat orientasi mahasiswa mereka bersahabat sangat dekat. Karena persahabatan yang dekat itu pula mereka sangat tahu masalah apa yang dialami Afni, sahabat mereka.

Vita dan Puput bahkan pernah dengan sengaja menginap di rumah Afni yang harapannya di pagi hari ketika mereka akan berangkat kuliah sahabat mereka tak dipukuli oleh ayahnya, memang akhirnya sampai mereka berangkat ke kampus keesokan harinya Afni aman-aman saja, akan tetapi ternyata ketika dia kembali rumahnya sudah menjadi seperti neraka, ayahnya mengamuk. Afni tak kuliah hampir 2 mingggu.

Beda lagi dengan Zila yang lugu tapi pernah nekat mengancam akan melaporkan ayah Afni ke kantor polisi melalui telepon, dengan memakai nomor yang baru dibelinya dia berhasil membuat takut ayah Afni beberapa hari, tapi karena tidak ada polisi yang mendatangi rumahnya dalam beberapa hari ayahnya akhirnya paham dia sedang dikerjai, Afni disiksa berhari-hari dan nomor yang dipakai Zila menelpon itu diteror dan diancam akan dipukuli oleh ayah Afni. Zila sejak itu tak berani bertemu ayah sahabatnya.

Afni sebenarnya tau apa yang harus dilakukan untuk menjadikan ayahnya kembali seperti 5 tahun yang lalu dan kuncinya itu disahabatnya, Aldo.

 ****

 “Hah? Ayahmu mau kamu menikah dengan Aldo ? “ Teriak Vita dan Puput bersamaan karena kagetnya mendengar penjelasan Afni.

“Berarti kalo kamu sudah nikah sama Aldo baru kamu berhenti dipukuli?” tambah Zila seolah tidak senang dengan apa yang didengarnya barusan

Afni pun menceritakan bahwa Aldo pernah main ke rumahnya beberapa kali, Ayahnya sangat senang menerima Aldo, beda sekali sambutannya dibandingkan kepada 3 sahabat Afni yang lain. Aldo sangat disegani dan bahkan ayahnya teramat sangat memuji Aldo.

“Kamu harus menikah dengan temanmu yang itu Fni, ayah mau dia menjadi menantuku” jelas kata ayahnya sepulangnya Aldo dari rumahnya.

“Ayah adalah orang yang sangat berselera tinggi, dan Aldo adalah selera ayah untuk kamu, kalau kamu tidak mau Ayah pukuli seumur hidup” kata ayahnya dengan nada mengancam.

Terdiam tiga sahabatnya mendengar cerita Afni, mereka sebenarnya tidak heran apabila banyak yang menyukai Aldo, sosok sahabat laki-laki mereka satu-satunya itu memang punya semua hal untuk disukai, ganteng, perawakannya yang gagah dan keluarganya bukan dari keluarga main-main di kota mereka.

“Tapi kita kan sudah sahabatan lama, masak harus ada yang saling menikahi sih, trus bagaimana dengan Aldo, suka gak sama kamu? “ Puput dengan bijak mencoba mencari jalan keluar.

“Tapi Aku gak suka sama Aldo !!!”

Tiga sahabatnya yang lain melongo, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Afni barusan, dengan kedekatan yang mereka lalui selama ini seharusnya tidak heran bila ada yang suka sama Aldo, dan diantara mereka memang saling menutupi untuk hal yang ini ketika mereka saling menggoda, persahabatan lebih mereka utamakan dibanding cinta, walaupun memang banyak yang uring-uringan ketika Aldo menggandeng cewek dari fakultas lain, rekannya sesama asisten dosen beberapa kali dan kembali senang ketika Aldo akhirnya masih jomblo sampai sekarang.

“Jadi kamu akan dipukuli selama hidup kamu donk Fni “ berkaca-kaca mata Zila dan dua sahabatnya yang lain pun terdiam, mereka berpikir dengan keras bagaimana caranya agar sahabat mereka bisa menikmati pagi seperti apa yang mereka rasakan.

****

Aldo menutup catatan paginya dengan gusar, Line dari Vita semalam membuatnya benar-benar senang sekaligus gundah. Dia sudah lama menaruh hati pada sahabatnya, bahkan sejak mereka di SMA yang sama, keputusannya untuk masuk Fakultas Teknik Unair pun karena Afni diterima di Jurusan Arsitektur melalui jalur siswa berprestasi sehingga dikejarnya jurusan itu melalui SNMPTN walaupun nilai rapor SMAnya dinyatakan lolos masuk  Hubungan Internasional UI, cita-citanya cuma satu, bisa bersama dengan Afni.

Tapi mendengar cerita Vita lengkap semalam membuat dirinya hampir sedikit gak percaya kalau kebersamaannya dengan Afni tak membuat gadis pujaannya itu menyukainya, bahkan kata Vita pula bahwa wajah Afni benar serius menyatakan tidak ada perasaan kepadanya. Usahanya selama ini berarti telah sia-sia, akan tetapi mendengar nasib Afni membuatnya harus segera bertindak mengingat ternyata hanya dialah yang bisa menolong, tak mengapalah kalau benar dia bisa menikahi Afni dengan persetujuan ayahnya, cinta akan datang bersama dengan waktu kebersamaan mereka pikir Aldo.

Dengan  menguatkan hati, Malam harinya Aldo datang ke rumah Afni yang memang benar disambut ayah Afni dengan gembira, apalagi setelah mengutarakan niatnya untuk menyunting Afni secepatnya, tidak ada jawaban yang ruwet dan yang hadir adalah langsung pelukan hangat, Ibu dan seluruh saudara Afni dipanggil berkumpul, diceritakan dengan riang oleh sang Ayah pujaan hatinya. Afni tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dia hanya diam. Ayahnya telah menerima lamaran sahabatnya, dan orang tuanya ditunggu minggu depan untuk lamaran resmi. Semuanya senang malam itu, Ayah Afni terbahak-bahak dan bahkan ketika Afni keesokan harinya ke kampus dengan muka yang bersih tak ada bekas pukulan apapun, ketiga sahabat ceweknya yang sudah mendengar cerita dari Aldo semalam pun langsung memeluk sahabatnya sambil mengucapkan selamat dan menggodanya. Afni hanya bisa diam dan tersenyum mendengar godaan dari sahabat-sahabatnya itu. Akhirnya pagi seorang Afni menjadi indah karena pukulan ayahnya sudah membeku oleh lamaran Aldo.

****

Malam minggu ini sangat berbeda, Aldo memakai pakaian terbaiknya bersama keluarganya sudah ada di rumah Afni sesuai dengan apa yang mereka rencanakan, hari ini adalah lamaran resmi Aldo bersama dengan keluarganya, seluruh orang yang ada di ruang tamu itu wajahnya berseri, dan tiga sahabat Aldo dan Afni pun tidak henti-hentinya tertawa untuk kebahagiaan temannya. Malam itu sangat berbeda

Ketika acara berlangsung pun masih ada yang tertawa gembira, Ayah Afni yang biasanya sangat garang pun hari ini sumringah sekali, sehingga sampai pada saat Ayah Aldo yang berbicara mengutarakan niatnya pun senyumnya tak berhenti

“Mengenai lamaran nak Aldo kepada putri kami, sekeluarga kami sangat senang dengan itikad baik ini, tapi sebagai ayah yang baik kami menyerahkan keputusan ini pada putri kami sendiri, Afni yang akan menjalani, toh dia juga sudah mengenal lama dengan Aldo”

Semua mata akhirnya tertuju pada sosok Afni yang begitu cantik, wajah eloknya yang selama ini disembunyikan oleh pipi lebamnya malam ini begitu mempesona, semua tersenyum menunggu jawaban sang calon pengtin tapi yang terdengar berikutnya seperti tak diharapkan oleh semua orang yang hadir.

“Saya hanya ingin menjadi sahabat bagi Aldo, tidak lebih “

Seluruh yang hadir terkesiap, Ayah Aldo yang merupakan seorang pengusaha ternama di kota ini pun merah padam, betapa malunya dia mendengar jawaban itu, seperti dilempari kotoran di wajahnya. Dia seakan tidak menerima penghinaan ini, apalagi malam ini dengan sengaja dia membawa rekan-rekan bisnisnya untuk menyaksikan lamaran putra tercintanya. Tapi yang terjadi.

Vita, Puput dan Zila pun tak menyangka jawaban yang muncul itu adalah dari seorang sahabatnya, yang dengan tulus mereka carikan jalan keluar untuk pagi-pagi sendunya bersama pukulan keberingasan ayahnya, mereka juga tak habis pikir bagaimana lukanya hati Aldo yang mereka tidak sangka ternyata sudah lama menaruh hati pada Afni.

Ayah Afni dengan muka yang menahan malu karena kelakuan putrinya pun akhirnya meminta maaf pada keluarga Aldo, dia juga tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini, sementara putrinya saat ini sudah mengunci diri di dalam kamar. Dengan muka sedikit memerah, diantarnya keluarga Aldo ke mobil, sebelum Ayah Aldo masuk mobil dipeluknya sekali lagi

“Sepertinya kita impas, lima tahun yang lalu kamu hancurkan perusahaanku sekarang aku hancurkan harga dirimu, aku tidak ada dendam lagi “

Dengan senyum sinis yang disembunyikan dari banyak orang Ayah Afni menatap mantan calon besannya itu, Ayah Aldo langsung terkesiap. Dia baru sadar akan satu hal, satu dosa di masa lalunya.

 ***

Nada line berbunyi berkali-kali, Afni mengacuhkannya sejak semalam, tiga sahabatnya menelpon, chat berkali-kali sementara dia seperti tidak siap menerima caci.

Dibacanya chat teman-temannya itu, dia mengerti kekecewaan mereka, tapi paginya memang benar-benar telah kembali. Tidak ada lagi pukulan kayu di pagi hari, lima tahun ayahnya menyimpan rahasia besar dendamnya pada keluarga Aldo, lima tahun pula ayahnya memancing Aldo untuk menjadi dewa penolong. Akhirnya minggu lalu, binatang buruan ayahnya benar-benar masuk perangkap. Melalui dirinya, sudah coba dia menahan Aldo dengan berpura-pura tidak menyukainya selama ini, tapi nasib memang menakdirkan Aldo dan keluarganya menebus dosa kerakusan ayahnya dimasa lalu.

“Aku juga suka sama Aldo, aku juga sudah tahu bakal kayak gini akhirnya, makanya aku bilang tidak suka sama dia, menjadi pahlawan itu gak enak”

Kata-kata itu dikirimnya bersamaan kepada semua sahabatnya, Dia sudah ikhlas dan sudah mengerti apa yang akan terjadi untuk menebus paginya yang kembali indah. Tapi paginya yang indah memang tak lagi sama.

Pagi memang tak pernah berhenti membenci matahari,
Walau sinarnya memisahkan embun dari rerumputan,
Tapi dengan itu pulalah mereka mengerti,
Bahwa harga pertemuan hadir dari perpisahan.

Iklan


Kategori:cerpen

Tag:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: