Cinta adalah kadang tentang menunggu

Kata Kata Menunggu Cinta

Kami bertengkar lagi sore ini, tentang hal yang sama. Komitmen untuk hubungan kami yang sudah 9 tahun tak menemui ujung, Salman pacarku kembali tak mampu memberikan jawaban yang pasti tentang akhir hubungan ini akan seperti apa. Hari ini sudah dititik puncak penantian ketegasann dari dirinya dan juga tekanan keluarga, rekan yang menggunjingku tiada habis tentang perawan tua.

“Aku belum siap, menikah itu bukan hanya tentang ijab kabulnya tapi setelahnya”

Alasan itu sudah sering aku dengar bahkan apologetic sesudahnya pun sudah kuhafal diluar kepala bahkan sampai titik dan komanya, lebih sewindu aku menunggu dia berlutut dan mengatakan “Will you marry me” aku kadang tak peduli yang diberikannya beneran sebuah cincin emas ataupun cuma cincin dari mur besi tua seperti yang Shia La Bouf ambil di tubuh robot Bumble Bee untuk diberikan pada Rossie Hutington di akhir film Transformer 3 : Dark Side of Moon. Aku benar sudah tak peduli, aku hanya ingin dia menikahiku.

Kuhabiskan pizza semalam yang kubeli di Kalibata Plaza sepulang dari kantor, kuhabiskan malam ini hanya dengan menonton film yang ku download tadi siang sebelum pertemuanku dengan Salman, cerita di film How To be Single tentang gadis-gadis amerika yang memilih menjadi single daripada ribet tentang hubungan pasti dengan seorang pria. Mereka bebas berkencan dengan siapa saja, menikah kapan saja ataupun memilih mempunyai anak dengan system bayi tabung tanpa takut omongan orang sekitar, ahhh.. andai aku hidup di amerika mungkin kegalauanku yang parah ini sudah membawaku tidur dengan 3 pria sekaligus malam ini pikirku. Aku ternyata sudah sangat se desperated itu.

Nada hapeku berbunyi terdengar dari satu sudut di pinggir tempat tidurku, siapa lagi yang telpon malam-malam begini, kataku dalam hati. Ku usap lembut layar hapeku, ternyata Salman, ketika tersambung dia langsung to the point.

“Besok nonton AADC2 yuk, aku belum nonton”

“Ahh malas, lagi gak pengen keluar “ sahutku ogah-ogahan

“Hayo dong, masih marah ya, aku jemput deh ya” Kata Salman mulai merayu

“Tauk deh, liat besok ya “ masih malas aku menanggapi.

“Besok aku jemput jam 3 ya, on time”. Klik, telepon mati

Begitulah Salman pacarku, dia tidak pernah mau marahan lebih dari beberapa jam, padahal dia tau kita baru bertengkar kurang dari setengah hari yang yang lalu dan dia sudah menganggapnya tak ada yang terjadi padahal belum ada pembicaraan damai. Hufft, mungkin hubungan ini sudah gak seimbang, aku terlalu memikirkan sedangkan dia biasa saja menanggapinya sementara hubungan dan umur kami sudah sama tuanya.

 ****

“Mbaknya mau wawancara juga ya” Kata cowok di sampingku dengan logat yang belum pernah aku dengar sebelumnya.

“Gak mas, saya disini mau sarapan. Ya iyalah kan kita disini semua lagi nunggu dipanggil sahutku agak ketus.

“Hehe, maaf mbak habisnya saya bingung mau mulai dari mana, tapi mbaknya apa gak salah ngelamar ditempat yang biasa ini? “ tanyanya lagi

Aku diam sambil memperhatikan perawakan cowok disampingku, agak kurus, gak tinggi dan rambutnya ikal. Dia langsung melengos ketika beradu pandang denganku.

“Saya ganteng ya mbak, jangan diliatin terus gak enak sama yang lain” katanya dingin sambil berlagak membaca majalah lama yang ada di meja ruang tunggu itu

Menahan tawa aku dengan reflex memukul pelan pundaknya. Ucapannya itu bagai ice breaking kekakuan sedari tadi dan kami pun lanjut ngobrol sambil menunggu antrian interview sebuah BUMN yang terbilang masih kecil mengingat ruangan tunggunya tidak mewah seperti wawancara lain yang kudatangi sebelumnya, bahkan ketika Dia sudah duluan dipanggil dia masih menemaniku yang kebetulan dipanggil terakhir.

“Eh iya kita dari tadi belum kenalan, namaku Mitha “ Kataku sebelum kami berpisah jalur di Halte Harmoni

“Saya Salman, dari desa nun jauh disana tapi masih di Indonesia” katanya lagi sambil senyum. Kami pun saling bertukar nomor telepon dan saling berjanji mengabarkan ketika sampai dirumah.

Itu adalah awal perkenalanku dengan Salman, yang akhirnya Dia diterima di kantor tersebut, sedangkan aku tidak, aku menolak untuk datang ke wawancara selanjutnya setelah melihat kondisi kantornya. Sedangkan Salman dengan segala kesederhanaanya menerima semua proses kecil dan gaji kecil di sebuah perusahaan yang bernama BUMN itu, aku pun akhirnya ternyata diterima sebuah Bank swasta yang kantornya tidak jauh dari tempat Salman bekerja, dan sering sekali kami janji untuk bertemu di Halte Harmoni walaupun hanya sekedar menyantap batagor dipinggir jalan sebelum naik halte itu ataupun sesekali kami kalau habis gajian biasanya makan malam malam di cafe dekat kantorku, begitu terus.

Suatu hari dia tiba-tiba datang dengan motor maticnya di depan kantorku, membawa dua helm dia langsung mengajak aku jalan, karena hari Jum’at gak papalah aku pikir pulang ke rumah agak telat. Ketika aku tanya mau kemana dia hanya jawab, nanti juga tau sendiri. Aku cuek saja tapi yang terjadi kemudian adalah di luar dugaanku, ketika kamu masuk lahan parkir tempat yang kami tuju ada tulisan besar dimana-mana “Java Jazz festival : Bringing the world Indonesia” aku terkesiap senang banget, karena kesibukan yang luar biasa banget aku gak sempat beli tiketnya dan ternyata, Salman membawaku kesini, aku benar-benar gak nyangka dia tahu detil tentang aku sampai kesukaanku pada music jazz

“Kok gak bilang mau kesini, kan aku bisa persiapan dari rumah tadi pagi” kataku protes tapi senang

“Ya gak papa, aku juga dadakan juga kok kesininya. Kebetulan tiketnya baru dikasih teman tadi siang jadi ya dadakan “ katanya beralasan.

“Tapi kan aku mau nonton Glenn, gak main kan dia hari ini, kok gak bilang sihh mau nonton kan aku bisa request” masih tetap protes aku sambil berjalan ke arena festival musik itu dan registrasi sejenak, kami sudah ada di dalam.

“Yaudah pulang kalo gak mau “ katanya pelan mencoba menarik tanganku balik ke pintu keluar

“ Eh enggak ihhh, becanda…Ayo yuk, kamu mau nonton siapa sih kesini “ kataku sambil senyum lihat wajah merajuk sok coolnya.

Dia menunjuk seorang perempuan yang sedang bernyanyi di panggung, namanya Lalah Hathaway, agak aneh aku mendengarnya, sambil beringsut merobek kerumunan orang kami mencari posisi yang paling enak dan akhirnya bisa agak ditengah menontonnya. Musiknya easy banget, sebagai penyuka jazz aku sangat suka nada-nada seperti ini, hingga akhirnya sampai di suatu lagu tiba-tiba Salman ikutan bernyanyi dengan cukup fasih

“Kamu hafal ? “ tanyaku sambil berbisik ditelinganya

Dia hanya mengangguk dan tersenyum memandangku, hingga sampai pada satu chorus dia mendekatkan bibirnya ditelingaku sambil bernyanyi

 My hearts belongs to you got it
Tell it’s gone
But this love keeps going on and on
Can’t even remember  my before
My heart belongs to you for forever more
I am just a reflection of your love
My heart skip a beat
When you smiling at me
So babe I must tell you
You are the one (you are the one)

 “You are the one Mitha, I must tell you,  coz I Love you” kata Salman lirih ditelingaku. Dia berdiri dibelakangku dengan tangan kanannya terbuka didepanku meminta ku raih dan kembali berbisik

“Kamu mau gak jadi pacarku, Be the one in my heart “ katanya lagi dengan pelan. Aku kaget dan  benar-benar speechless, ku berbalik, menatap wajahnya lama dan tersenyum. Ku letakan jari jemari tangan kananku disela jari tangan kanannya, tak perlu banyak kata-kata, remasan hangatku ditangannnya sudah menjadi jawaban pasti atas pertanyaannya, aku merasa menjadi gadis paling bahagia malam itu. Dia tersenyum dan  memelukku dari belakang, kembali bernyanyi.

You are my everything
So don’t you ket nobody try to pull us apart
Cuz you are my everything
From evening to evening
And all that is in between
You are my everything

 ****

“Kok diam ? “ suara Salman mengagetkanku ketika dia kembali dari Starbuck yang ada di depan metropole.  Dia membawa minuman kesukaan kami Avocado Coffee, sambil menunggu teater tempat film yang kami ingin nonton diputar. AADC2 adalah sekuel dari film boming 14 tahun lalu ketika aku masih duduk di bangku SMA. Salman yang sangat suka dengan Dian Sastrowardoyo pasti memang tidak akan melewatkan film ini, sebelumnya juga di tahun lalu dia dengan semangat banget pengen nonton 7/24 yang merupakan film Dian Sastro setelah lama vakum dari dunia perfilman habis nikahnya. Selayaknya film 7/24 yang pernah kami nonton sepertinya hubungan ini memang juga perlu direview lagi, ada bom waktu yang menunggu dihubungan ini walaupun film itu tentang orang yang sudah menikah.

”Ini awal settingnya gak pas menurut aku, seharusnya adegan Rangga yang di Broklyn dan puisi tiada lagi  New York sebagai pembuka, bukan adegan Cinta dan teman-temannya di Galery kata-kata itu”

Salman memang sangat detil kalau melihat film, baginya pembuka satu film itu penentu bahwa film itu akan ditonton sampai habis dengan riang atau hanya menghabiskan jatah tidur 124 menit di dalam bioskop, di blognya banyak membahas tentang film yang hampir semuanya tentang drama dan biografinya serta kesemuanya disarikan dalam satu alur kehidupan.

Adegan yang mengalir sepanjang film terus saja dikomentari Salman, kalau aku mood aku tanggapin kalau tidak aku hanya diam saja, aku mulai menikmati film ini.

“Rangga yang ninggalin Cinta tanpa alasan itu memang kejam, tapi apa bedanya dengan kamu ya, 9 tahun tahun usia hubungan kita juga kamu seperti tak tidak ada alasan untuk menikah, kamu lebih kejam” tiba-tiba aku nyeletuk dengan tak sadar. Salman tiba-tiba menoleh

“Kok larinya kesitu” Salman mencoba memegang tanganku tapi kutepis dengan mata yang mulai berkaca-kaca

“Apa kamu harus jadi seperti Rangga, berusaha menikahiku setelah ada cowok lain melamarku” kataku mulai dengan dingin.

“Loh gak gitu, ini tentang masa depan kita yang gak akan lebih dari 9 tahun itu”

“Udah cukup ngomongnya, aku hafal kata-katamu setelah itu, sudah lama terpatri disini “ sergahku kasar sambil menunjuk kepalaku

Adegan Rangga Jahat di cafe itu memulai pertengkaran kami sore itu, lagi. Film pun terus mengalir, Rangga ternyata dibisikin oleh ayahnya Cinta ketika pertemuan mereka di New York. Kemapanan adalah musuh lelaki paling pertama ternyata, bukan tentang godaan mahluk lain.

“Sadar nggak, kalau aku belum mapan” ucap Salman padaku pelan ketika adegan Rangga dan Cinta menonton sebuah pertunjukan wayang.

“Aku tau, tapi untuk hidup kita berdua itu sementara cukup” kataku lagi dengan emosional

“Iya kamu dapat menganggap aku kayak gitu, bagaimana dengan keluargamu apakah punya pandangan yang sama seperti kamu “ Salman bertutur sambil mencoba meraih tanganku kembali. Aku biarkan meremas tanganku.

“Kamu menilai keluargaku sejelek itu tau nggak, kamu berpendapat tanpa minta pandangan aku “ kataku lagi sementara layar didepan kami menampilkan Rangga dan Cinta sedang berkejaran menuruni bukit yang mereka pakai untuk melihat dari kejauhan pucuk gereja ayam yang sedari tadi mereka pakai ngobrol tentang perjalanan mereka.

“Ya aku minta maaf, tapi laki-laki punya dua dilema besar dan mereka harus bersiap tentang hal terburuknya” kata Salman menatap mataku yang masih merah karena air mata

“Memangnya apa dilemamu” kataku bertanya

“ya seperti yang kamu lihat, di film ini adalah tentang dilema perempuan yang masih terkait sama masa lalu, dan itu pasti tidak terjadi dengan kamu, sedangkan yang satunya adalah dilemaku, yaitu ketika kemapanan membuat kami ragu mengajak menikah orang yang sesempurna kamu dan Cinta” jelas Salman lagi hati-hati

“Dilema yang lain apa ?” tanyaku menepis kediamanku atas jawaban Salman barusan

“Ya apabila ada laki-laki lain atau cinta di masa lalu wanitanya yang lebih baik,  dia pasti akan tau diri, banyak laki-laki seperti itu, tapi kamu enggak kan” kata Salman sambil bertanya

Aku terdiam.

“aku gak tau lagi gimana hubungan kita, apa aku masih sanggup menunggu aku gak tau” kataku

Ketika itu adegan film Cinta yang berada di kedai kopi Rangga, ternyata setelah satu purnama pertemuan mereka di Jogja, Cinta akhirnya mengejar Rangga ke Brooklyn dan mereka benar-benar dipersatukan.

“ Ini Trian kemana ? “ kataku setelah melihat ending film yang happy kayak gini

“Yang gak ditampilkan dalam film tadi pastilah ada sosok Trian yang merasakan dilema para cowok yang kedua, dia merelakan orang yang dicintainya untuk bahagia pada orang yang dipilihnya” Kata Salman dingin

Aku terkesiap dan diam sejenak.

Kita keluar teater dengan langkah yang sama-sama diam, pertengkaran kami kembali memanas akan tetapi hatiku sedikit mempunyai ada jawaban, bahwa sosok Salman yang saat ini menjadi kekasihku memang ingin menjadi sosok terbaik, dia sibuk memantaskan dirinya seperti Rangga yang tidak ingin ketemu Cinta pada saat dia terpuruk. Laki-laki baik memang selalu begitu.

Aku tersenyum dan menggamit lengan kiri Salman dan bersandar dibahunya. Kami berjalan menuju tempar parkir motornya.

“Kamu tau nggak kira-kira kenapa Cinta masih setia menunggu Rangga walaupun sudah 9 tahun “ tanyaku sambil menatap kekasihku itu.

“Cinta mati paling” Salman menjawab dengan ragu-ragu, mimiknya masih agak bingung melihatku tiba-tiba berubah.

“Bukan, bahkan pada saat 9 tahun tidak bertemu pun, Rangga masih sosok yang sama, dingin, jutek dan tetap unpredictable” kataku

“Dan kamu juga begitu” sambungku sebelum dipotong oleh Salman.

“Jadi Kamu ? “ tanya Salman menatapku. Aku tersenyum, Dia tersenyum dan kamipun tersenyum sementara cahaya malam sudah mulai menutupi pelataran hutan kecil yang dijadikan lahan parkir itu.

Cinta adalah kadang tentang menunggu, karena laki-laki pilihanmu atau yang sedang disiapkan untukmu memang sedang berusaha memantaskan dirinya padamu.

Iklan


Kategori:cerpen

Tag:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: