Film Pele : Ginga dan Kepercayaan Diri

Edison Nascimento yang akrab dipanggil Dico lahir dengan kondisi ibunya adalah seorang pembantu dan ayahnya adalah buruh di sebuah klinik di Bauru, kondisi ekonomi keluarganya memaksa dia dan beberapa rekannya menyemir sepatu seusai sekolah, hidup ditengah kemiskinan dan kegilaannya pada bola serta piala dunia adalah keseharian mereka. Bermain dengan bola yang terbuat dari kumpulan baju yang diambil dari jemuran tetangga mereka. C_29_articolo_1093793_upiImgPrincipaleVert

Ketika memukau suatu pencarian bakat klub sepakbola Santos, Dico tak serta merta diizinkan oleh ibunya untuk masuk klub sepakbola walaupun kartu nama legenda brazil yang mengajaknya sudah ditangan mereka. Ibunya memaksa Dico untuk ikut ayahnya bekerja di klinik yang ternyata ayahnya seorang mantan pemain bola yang cedera malah mengajarkan banyak hal tentang bola ketika mereka break bekerja, latihannya sangat brilian yaitu dengan bagaimana jugling mangga tanpa membuat mangga yang sudah matang itu pecah.

Ginga adalah roh permainan sepakbola Brazil, dekat dengan olahraga kapoera yang juga milik bangsa Brazil, yang dimana kekalahan di piala dunia 1950 serta tragedi tahun 1954 membuat publik menganggap remeh ginga untuk dapat digunakan sebagai pola permainan tim sebelas orang ini. Tapi Dico yang kemudian lebih dikenal dengan nama Pele karena dia sangat mengidoladakan kiper Vasco da Gama.

Ketika belajar dengan ayahnya itulah Pele kemudian diberi wejangan tentang kepercayaan diri yang ada dalam teknik Ginga, satu pesan ayahnya ” Ketika kamu menggunakan ginga dengan keraguan maka akibatnya sangat berbahaya”

Di film ini kita belajar tentang bagaimana Brazil membangun sepakbola mereka dengan ciri khas yang mereka punyai, Ginga yang dibenci menjadi satu magnet yang sangat kuat, antara ginga dan kepercayaan diri itulah kuncinya, bagaimana potensi yang terbesar dari seorang manusia akan muncul ketika percaya pada kemampuan dirinya, lihat saja striker-striker yang buasa sejak dulu adalah orang yang mempunyai tingkat kepercayaan diri sangat tinggi, begitulah Pele harmonisasi antara bola dan ginga nya bisa bertahan karena kepercayaan dirinya.

Satu hal lagi yang kita patut pelajari, bahwa di piala dunia 1958 Brazil sangat berusaha untuk mempunyai gaya eropa dan menganggap gaya ginga adalah gaya yang primitif dan tidak pantas untuk dipertontonkan, ketika mereka memainkan gaya eropa memang bisa menang tapi yang bisa membuat mereka menjadi juara justru mereka kembali pada jati diri bangsanya, bahwa sejarah sepakbola mereka dibangun dari ginga yang menciptakan keindahan sepakbola yang luar biasa.

Nah, Bagaimana dengan Indonesia ?

Iklan


Kategori:film

Tag:, , , , , , ,

7 replies

  1. Wah mantap tuh film punya link download nya gan?

    Suka

  2. waduh haha kaya nya seru banget penuh makna

    Suka

  3. Keren film nya ,, sangat menginspirasi…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: