Tato mawar Luna

Taksi meluncur dengan cepat melintasi perempatan Jalan Pemuda yang lampunya sedang hijau untuk masuk daerah Embong Kenongo dimana Aku memesan online di kereta tadi siang dalam perjalanan dengan Kereta Taksaka. Karena terlambat memesan kereta akhirnya perjalanan ke Malang untuk liburan harus melewati Surabaya dulu lalu besok paginya disambung dengan bus dari Bungurasih, tidak terlalu lama sampailah di hotel yang dituju sebuah hotel kelas tiga hitungannya tapi cukup nyaman kalau dilihat dari tampilan websitenya tadi sekilas aku lihat melaui ipad.

Foto Tatto Bunga Mawar Di Bahu, Pundak, Lengan, Paha, Dada (18)

 Setelah registrasi sebentar dan mendapatkan kunci dari resepsionis, aku lihat kamarnya no. 248, lantai dua berarti akhirnya walaupun ada lift Aku cepat menaiki tangga yang ada di sudut kiri hotel itu, sambil olahraga pikirku, ketika aku naik dengan cepat karena badan yang sudah sangat lelah tidak sengaja aku menabrak satu pasangan yang kebetulan lagi turun.

“Sorry mas, gak lihat tadi “ kataku sambil dengan cepat mengambil dompet dan beberapa kantong plastik yang jatuh karena tabrakan denganku.

“Matane digae mas, guduk dalanmu dewe iki” kata si cowok dengan bersungut-sungut khas suroboyan. Sementara si cewek hanya diam dan menerima barangnya yang jatuh dariku.

“Iya mas, maaf sekali lagi” kataku sambil mengerling si cewek yang jadi pasangannya, dahiku langsung mengernyit seakan pernah lihat dengan wajah itu, tapi lupa entah dimana. Masih bersungut-sungut si cowok ketika mereka berdua turun dan hilang dibelokan tangga melingkar hotel itu, sepintas gaun malam dengan baku terbuka yang dipakai cewek itu menampakan sebuah gambar dibelakang bahu sebelah kirinya. Aku masih diam dan mencoba mengingat tapi karena badan sudah sangat teramat lelah 18 jam di kereta membuatku langsung tepat ketika masuk kamar dan bertemu bantal.

 ***

Mata masih perih ketika alarm membangunkanku sekitar jam 8 pagi, janji ketemuan dengan sang pujaan hati siang di Malang membuatku terpaksa mengatur alarm sebelum tepar semalam, kuraih handphone terus mematikan alarm sambil mengecek notifikasi yang masuk, ada 6 panggilan tak terjawab dari pacarku, ku tekan tombol dial dan tersambung ke nomornya, langsung terdengar teriakan yang membuatku otomatis menjauhkan handphone dari telinga.

“kemanaaaa aja sih yaaangg, aku telponin dari pagi lo “ kata Tari pacarku dengan gak sabar

“Ketiduran dari semalam pas terakhir ngabarin kamu semalam tuh, sabar napa “ timpalku sambil ngegodain dengan suara lucu

“Aku tunggu di Malang jam 1 loh ya, gak ada di Arjosari jam segitu tak tinggal pulang “ katanya dengan nada merajuk

“Iya iki loh tak mandi dulu, sarapan trus langsung ke Bungur, sabar yaa “ mencoba merayu walaupun aku tau ngerajuknya pasti pura-pura, begitulah perempuan maunya ditinggikan mulu.

Perlahan ngerajuknya memang benar menghilang, kita berbicara sebentar selanjutnya aku pamit mandi dan siap-siap. Bergegas Aku mandi, pakaian  dan setelah siap semua jam masih menunjukan pukul setengah sembilan, masih cukuplah buat sarapan dulu pikirku, aku langsung menuju lantai 4 hotel itu sesuai info semalam yang aktu terima dari resepsionis hotel ini memang menyediakan sarapan paginya dilantai tersebut. Setelah sampai disana mengambil beberapa makanan untuk pengisi perut aku lihat tempat agak penuh karena semua tamu hotel memang lagi sarapan dan cuma ada satu kursi kosong di dekat sudut pengambilan minuman. Aku permisi pada orang yang duduk sebelumnya dan ternyata memang kosong, ketika aku duduk ternyata cewek dengan gambar bunga dipunggung itu yang ada di depanku, kita saling bertatapan sejenak dan kulirik teman cowoknya bukan yang semalam marah-marah Karen kutabrak, otakku mulai berpikir aneh.

Tiba-tiba segerombolan cewek empat orang bergeruduk datang dimejaku dan memeluk si cewek itu dan dua teman lelakinya yang ada di depan dan disampingku, bisik-bisik aku dengar percakapan yang membuatku semakin mikir “ gimana sama Luna semalam om, memuaskan ya “ kata seorang cewek yang baru datang itu, yang disapa om itu hanya senyum-senyum sambil bilang “masih kurang lah, lanjut sampai makan siang lagi abis ini” sambil menyeringai dengan buruknya. Si cewek yang disebut Luna itu hanya diam, mukanya memerah tapi masih mencoba mengunyah makanannya dengan tak berselera, kita saling melirik hati-hati takut ketahuan cowok disampingnya. Kusudahi sarapanku secepat mungkin dan langsung turun check out, langsung minta dipanggilkan taksi.

***

Wajah Luna memerah menahan rasa sakit yang dalam, pinggul mulusnya diraba sampai ke bawah paha dan rasanya ada cairan masuk begitu dalam tubuhnya dalam beberapa hentakan dan ukiran lelaki yang ada diatas tubuhnya, rasa yang sebenarnya tidak terlalu sakit dibandingkan noda yang hadir setelah persentuhan itu, dia resmi menjadi gadis malam kelas atas dengan hasil ukiran bunga mawar disekitar pinggul yang baru jadi beberapa detik lalu sebagai tanda dia peliharaan resmi Mami Lendra

Luna tak pernah mengerti hidupnya berlalu secepat itu, ketika bertemu Jawy di restoran hotel pagi tadi dia baru tersadar satu hal sosok yang sejak semalam menganggu pikirannya adalah orang yang pernah menjadi asdos di mata kuliah yang pernah diikutinya sebelum amburadul seperti sekarang, beberapa kali smsan tapi tak berujung penembakan dan hilang ditelan bumi membuat dia tak sempat lama memikirkan sosok itu, tapi tadi Dia menangkap wajah terkejutnya mendengar celetukan beberapa teman sepermainannya.

Belantara Surabaya sudah merubah Luna yang dulu, seorang anak desa di Turen, Malang yang miskin bahkan membeli sepatupun tak mampu membuatnya hidup beringas untuk bertahan dari cacian dan cibiran teman-teman sebayanya, gaya hidup dan gadget telah membawanya masuk kedunia yang begitu dalam dengan mencoba peruntungan sebagai purel karaoke ternama terlebih dahulu, merasa bahwa tanpa harus ternoda secara kelamin dan mudah mendapatkan rupiah dalam semalam membuatnya betah dengan pekerjaan itu, bahkan ada satu dosen yang ingin menikahinya dengan resmi walaupun tahu profesinya dia pun bergeming karena dosen itu hanya naik vespa butut ketika menghabiskan sebagian besar gajinya sebagai pengajar di universitas swasta demi untuk membooking Luna beberapa jam dan berupaya menyadarkannya.

Harta dan tahta memang telah merubah seseorang menjadi budak hawa nafsu, tapi seyogyanya kita yang hidup normal pun telah ikut bersalah karena membiarkan stigma harta dan tahta itu menguasai relung pemikiran tentang nilai-nilai sosial yang disandangnya, dunia pun ikut bersalah.

***

“Aku di Malang ketemu sama Melia, jadi tahu tentang ceritamu lengkap dari dia “ ucap Jawy membuka percakapan ketika lama mereka saling berdiam dan hanya berpandangan sambil mengaduk gelas minuman masing-masing.

“Kamu apa kabar mas, dulu kok menghilang gitu aja“ kata Luna mencoba mengalihkan pembahasan Jawy yang sudah tau akan bakal kemana.

“Kabarku baik, aku yang menghilang karena sudah lulus dan harus melanjutkan hidup” balas Jawy dengan hati-hati.

“Kenapa gak pamit mas dan kenapa pula sampai nanya Melia tentang Aku”

Luna mulai menyerocos banyak tentang harapannya dulu untuk kenal lebih dekat dengan Jawy sebagai sosok kakak tingkat dan asdos yang baik dimata teman seangkatannya, tapi hilang begitu saja tanpa kabar ketika dia sudah merasa nyaman. Jawy mendengarkannya dengan sabar tanpa membantah dan sesekali tersenyum masygul.

Pilihan Jawy untuk menemui Luna sebelum balik ke Jakarta memang mendadak, sesaat ketika dia pamit dari pacarnya di Stasiun Kota Baru Malang untuk naik Gajayana,  Dia tiba-tiba memutar arah dengan memanggil taksi dan menuju Terminal, berbekal tiket utangan dari travel langganan kantor yang bisa dibayar pas gajian Dia nekat memilih naik pesawat ke Jakarta besok pagi.

“Mas mau menghakimi aku dengan keadaanku yang kayak sekarang?” cetus Luna membuyarkan tatapan diam Jawy.

“Kamu jangan berpikiran aneh-aneh dulu, aku hanya pengen ketemu kamu dan pertemuan kita di hotel waktu itu membuatku kepikiran, 5 tahun kita pisah aku gak ngenalin kamu sama sekali dengan dandanan gitu “ jelas Jawy dengan terang

“Ini kisah hidupmu, kalau misal kamu masih bisa bangkit dan berubah ya itu untuk kamu sendiri “ tambah Jawy hati-hati

“Aku berubah juga buat apa mas, sampean mau ta nanggung hidup dan nikahin aku ketika tau aku kayak gini? “ panas suara Luna sedikit keras membuat Jawy sedikit berpaling ke orang sekitar yang ada di restoran itu, untungnya semua terlihat sibuk sendiri.

“Ya gak gitu juga, berubah ya buat hidup kamu loh “ tandas Jawy dengan tegas

“Kalau sampean mau nikahin aku setelah tau aku gini aku tobat mas, kalau enggak yasudah nasehat sampean simpan untuk orang lain saja, ini hidup mas gak gampang, gajiku waktu kerja jadi CS bank dulu gak cukup walaupun buat beli bedak aja” kata Luna dengan sedikit sengit.

Jawy terdiam dan tidak tau harus berkata apa, andaikan dia belum berhubungan dengan Tari, pilihan untuk mendapatkan barokah dengan menyadarkan orang yang pernah diliriknya beberapa tahun silam pasti diambilnya, tapi sekarang tidak semudah itu apalagi keluarga besar Tari sudah dikenalnya kemarin siang dan mulai menanyakan keseriusan kapan orang tuanya main kerumah, Dia saat itu hanya tersenyum dan pun saat ini cuma bisa tersenyum, cinta dan kenyamanan memang selalu bertolak belakang, yang akhirnya cinta pun banyak mengalah demi hidupnya.

Jawy melangkah gontai kembali ke hotelnya, ada sedikit perasaan menyesal Dia membuang tiket kereta tadi sore, dan hasilnya Zoonk !!!, dia memang tidak berharap banyak memang awalnya tapi ada sedikit luka di hatinya mengingat sebuah kecantikan harus dijual untuk kenyamanan hidup dan itu dilakukan oleh orang yang dikenalnya diputuskan malam ini kembali hotel dan mandi lantas bersantai dan bangun subuh untuk mengejar pesawat pagi, tak diperdulikan beberapa temannya yang sedari tadi bbm menanyakan posisi. Jawy sedang terluka jiwanya.

Setelah mandi dan mencoba berbaring, melihat chanel tv kesukaan membuatnya larut sejenak walaupun masih berharap Luna datang ke hotelnya dan sekedar berbincang-bincang mengenang masa lalu dan memilih untuk pergi dari dunia pelacuran yang digelutinya, sampai terlelap Luna yang sudah diberi tahu kamar hotelnya sebelum mereka berpisah pun tak datang.

TING TONG !!! . Terdengar bel kamar dipencet, Jawy tersentak dan langsung tersadar, Luna pikirnya, dengan cepat Dia membuka pintu dengan muka riang, ketika pintu terbuka wajah riangnya meredup, sosok wanita cantik dengan rambut terurai indah berdiri dihadapannya dengan gaun malam yang menggoda. Wajah perempuan itu lebih terkejut dan langsung lari turun melewati tangga

“Tariiiiiii “ Jawy berteriak,  dengan kencang dia berlari menuruni tangga mengejar perempuan itu, ketika sampai di lantai bawah dan mengejar ke depan hotel terlihat Tari bergegas menaiki Honda Brio putih dengan airbrush mawar merah memanjang di body samping kanannya yang mesin sudah menyala dan melaju kencang meninggalkan hotel.

Jawy diam,  wajah perempuan itu menghiasai hari liburannya dua hari kemarin di Malang. Wajah syahdu dengan jilbab pink kesukaannya begitu teduh  dipandangnya. Baru beberapa jam yang lalu dia menasihati orang yang dikenalnya untuk tidak hidup dijalan yang dipilihnya hanya karena kenyamanan duniawi tapi ternyata Perempuan yang dianggapnya kekasih pun telah pergi dibawa kenyamanan hidup yang dipilihnya.

Iklan


Kategori:cerpen

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: