Kepentingan yang memihak

Berbaju putih hitam Dia masuk ruangan itu, menyerahkan sejumlah berkas kepada orang yang disebut Sekretaris Dekan, wajahnya wanita sekretaris itu Dia kenal sejak dulu walaupun setelah 5 tahun tak masuk kampus ini lagi. Dia mendapati banyak yang berubah termasuk Dekan yang sekarang ini adalah perempuan yang mengajarinya menghitung jumlah sirip dari seekor ikan di sebuah lab gedung C kampus ini.

senior

Diruang tunggu ruangan itu Dia mendapati Anam adik tingkatnya yang ternyata juga menyerahkan berkas yang sama, Dia orang yang kukenal kukuh dengan pendiriannya walaupun memang ada yang menyimpang tapi hari ini dia menyerahkan nyawanya karena pernikahannya sebentar lagi mendorong untuk menjadi manusia yang realistis.

“Mas Syamsul mau daftar asdos juga? “ Anam membuka percakapan setelah mereka saling berjabat tangan.

“Iya, udah lama pengen balik kampus tapi baru sekarang ada kesempatannya” jawab Syamsul pelan sambil merapikan tas di pangkuannya.

“Sampean wes S2 ta mas “ tanya Anam lagi

“Belum Nam, tapi aku dihubungin Pak Leo Dosen pembimbingku untuk segera ngadep karena dosen sosial memang lagi kurang” jelas Syamsul sambil memainkan handphone ditangan bermain social media yang dipunyainya.

“Tapi kan syarate harus S2 mas “ tanya Anam dengan sedikit menyelidik

“Siapa bilang asdos harus S2 Nam, wong Aku tadi lihat Untung anaknya Pak Hary dibawah tercatat sebagai dosen kok, dia kan masih SE, ngajar mata kuliah sosek juga gak nyambung tapi bisa kan” Kata Syamsul tapi dengan nada yang agak ragu. Anam dengan sedikit senyum akhirnya mengiyakan walaupun memang juga ikut ragu

Syamsul memang sedikit ragu, konflik lamanya dengan para senior yang ditentangnya karena dualisme kepemimpinan organisasi tempat aktifnya saat mahasiswa masih sedikit menghantui, itulah sebabnya dia mendekat kepada Pak Leo yang notabene adalah dosen beraliran merah tapi dirinya punya kedekatan karena skripsi sosialnya begitu disukai oleh Pak Leo yang menjadi pembimbing utamanya. Sebagai orang sosiologi Pak Leo waktu itu kaget ketika Dia menghadap dan mengajak diskusi kelas sosial marxis serta ingin membahasnya dalam satu model skripsi sosial, Pak Leo sangat senang karena diangkatan Syamsul hanya dia yang berani mengambil skripsi sosial dan menantang langsung dirinya menjadi pembimbing utama.

Syamsul memang sangat doyan sosiologi, ketertarikannya pada ilmu filsafat membawanya doyan untuk bermain pada teori-teori ideologi besar dunia, pun sebab itu Syamsul pernah dua tahun menjadi atheis yang walaupun akhirnya kembali karena Dia memaksa memahami bukunya Imam Ghazali tentang Filsafat Islam. Diskusi filsafat, buruh, kapitalisme dan sosialisme begitu mewarnai dunia organisasinya ketika Dia menjadi Kabid salah satu bidang tentang itu, mengetahui hal itu karena ketika beberapa tahun kemudian masih ada perbincangan tentang sosok Syamsul dan dikulik beberapa kepengurusan yang dulu memang sempat dikader Syamsul secara langsung. Termasuk isu dualismenya yang menantang seorang ketua umum agar tidak tunduk secara mutlak pada titah-titah senioritas yang memang masih ada di organisasinya sampai sekarang.

Menurut kabar yang beredar pula ketika momen organisasi di sebuah BLK di Lawang, para pengurus waktu itu Syamsul dan seangkatannya kaget karena banyak sekali senior yang datang bahkan yang sudah sangat tua sekali dan bisa dibilang menyidang seorang Syamsul secara langsung dan diperhadapkan antar pengurus.

“Tidak nurut sama kami gak papa, tapi perlu diketahui tanda tangan dan rekomendasi kami sangat diperlukan untuk Dosen dan Beasiswa nantinya “ Kata seorang senior yang kini aktif menjadi pengusaha lele dan pakan ikan.

“Permasalahan nurut atau tidak itu relatif mas, secara pribadi saya tidak ada niat menantang panjenengan semua tapi hanya ingin pada zaman kami jangan terlalu disuap dengan ketika di instruksikan A harus menjadi A, bolehlah kami modifikasi menjadi B atau bisa jadi C karena pemikiran tiap zaman berbeda” jelas Syamsul menanggapi dengan dingin.

Semua terdiam waktu itu dan para senior dengan sedikit agak marah menganggap kata-kata Syamsul waktu itu menjadi sebuah bentuk pembangkangan yang puncaknya ketika diakhir kepengurusan laporan pertanggungjawaban kepengurusan bidang Syamsul, semua senior beranjak keluar dan tidak menghadiri arena musyawarah. Syamsul senang sekaligus sedih, senang karena LPJ nya tidak terlalu lama, sedih karena kerja kerasnya semasa kepengurusan tidak dikritisi dengan begitu berarti tapi diujungnya dia mendapat nilai D+, dan yang mendapat nilai B hanyalah Ketua Umum.

***

Perjuangan melawan primordialisme juga dihadapi Anam ketika masanya menjadi pengurus 3 periode setelah Syamsul pergi, keputusannya untuk mengajarkan adik-adiknya kritis pada sebuah biaya penyelenggaraan kepanitian Kuliah Kerja Nyata di kampus membawanya pada satu masalah serius, dibenci sebuah patron politik yang selama ini menjadi puncak senioritas, bahkan Naim yang memimpin aksi protes tersebut pun masih ikut terkena getahnya beberapa tahun setelahnya, yang walaupun akhirnya termaafkan oleh sebuah patron politik lain yang membersihkan namanya. Sementara Anam yang tak termaafkan akhirnya memilih bergerilya dibelahan patron politik lain yang ada di dunia kampus besar ini, dan menjejakan kakinya di posisi “nyantrik” pada sosok senior eksentrik yang suka melawan arus patron politik tapi punya kedigdayaan mumpuni.

Tapi nasib berkata lain, ketika beberapa tahun kemudian sosok eksentrik itu harus menyerah pada liver yang menggerogoti tubuhnya dan pergi meninggalkan kejayaan sebelum mengatur mahkota penerusnya. Anam turut hilang setelah itu, kejayaan yang selama ini diaturnya hanyalah seperti kancil yang berjalan bersama Sang Harimau, penduduk hutan ikut takut pada kancil karena sosok disampingnya bukan sosok asli ragawinya sebagai kancil.

Peristiwa itu akhirnya mengantarkan Anam berdiri disamping Syamsul dua hari setelah pertemuan mereka didepan ruang dekanat, menatap nanar sebuah papan putih pengumuman yang berada disudut gedung kampus itu, mereka berdua berharap nama mereka masuk sebagai asisten dosen yang diumumkan hari itu itu. Tapi nasib sepertinya berkata lain, nama mereka tidak ada walaupun diulang berkali-kali dibaca dari atas sampai bawah papan pengumuman, sementara di ruang sebelah para pegawai tata usaha sorak sorai menyambut Bayu yang berada didalam rangkulan Pak Hary, nama Bayu ada di kertas pengumuman ini dan Dia adalah keponakan Pak Hary, seorang mantan PDI, PD II kampus ini berikut gelar teman terdekat patron politik kampus yang memusuhi Anam karena peristiwa lalu.

“Sampean seh mas, nakal pas dadi mahasiswa “ sambil tergelak Anam mencoba menggoda Syamsul yang masih diam. Syamsul cuma bisa tersenyum kecut

“Tapi Bayu itu masih S1 kan ya, kok dia bisa diterima ya, kamu kan S2 Nam, kalah awakmu ambek dee” balas Syamsul menggoda.

Akhirnya mereka berdua cuma bisa tertawa dengan nasib mereka yang walaupun aslinya mereka bingung dengan masa depannya masing-masing, sampai Pak Leo lewat dengan membawa payung khasnya dan mengajak Syamsul menemani perjalanannya.

“Saya minta maaf, janji saya kepada kamu tidak bisa ditepati, rekomendasi yang saya berikan kepada Ketua Jurusan dan juga diterima Dekan dengan mengandalkan teman seangkatan mentok di Ketua Prodi dan beberapa dosen yang akhirnya Ketua Jurusan mengalah tidak mau melawan arus” jelas Pak Leo sambil menepuk pundak Syamsul

“Tidak masalah pak, saya sudah tahu jalan ceritanya sejak bapak posting nama saya di grup whatsapp dosen jurusan banyak yang beriak pak, saya hanya gak nyangka pengalaman saya 5 tahun di perusahan perikanan negara tidak jadi portfolio yang cukup mengajarkan tentang perikanan secara aplikatif” sahut Syamsul dengan mencoba tenang

“Kamu ada masalah dengan para seniormu?” tembak Pak Leo langsung. Pengalamannya di organisasi sejenis dimasa mudanya membuat Pak Leo mampu membaca proses tidak wajar yang terjadi menjelang rapat jurusan yang ingin dijadikannya ruang perkenalan Syamsul yang dianggapnya kompeten.

“Tepatnya mungkin bukan masalah pak, saya dianggap variable tidak penting sehingga ijazah S1 saya dijadikan ganjalan” kata Syamsul lagi dengan benar-benar tenang.

“Tapi tidak usah dibahas lagi pak, mungkin saya tidak rejeki dikampus ini” Syamsul menambahkan dan mencoba mengalihkan pembahasan. Pak Leo akhirnya hanya bisa mengangguk dan mulai berdiskusi tentang buku Jared Newton yang baru, mereka larut sampai sore berdiskusi tentang posisi geografi yang membuat orang berpindah-pindah dan akhirnya menciptakan budaya yang lebih tinggi karena kekurangan geografisnya. Mereka akhirnya lupa pada masalah mereka karena ilmu yang seimbang dan perlakuan antar manusia yang seimbang menciptakan sebuah ketenangan.

***

Primordialisme selalu ada dalam tiap sistem kehidupan manusia, dan “pembangkangan” Anam dan Syamsul dianggap lunas dan jelas hari ini, tanda tangan sakti sang senior tidak didapatkan akhirnya menghambat laju perjalanan hidup yang bergairah ingin mereka jalani, pada akhirnya mereka memilih jalan-jalan sunyi untuk membangun mimpi jauh dari keramaian dan semoga keramaian yang akhirnya menemukan mereka.

Iklan


Kategori:cerpen

Tag:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: