Surat untuk Dewi – Bagian 1

Pagi belum terlalu menyengat kala itu, hujan yang turun semalam pun mendinginkan cuaca yang sudah lama panas disapu kemarau, tidak beda jauh dengan yang terjadi di rumah mungil di desa itu, penghuninya masih belum semua bangun walaupun si Ibu sudah sedari subuh sibuk sendiri di dapur untuk persiapan anak dan cucunya yang berangkat bekerja dan sekolah.

Surat Cinta untuk Kakak Kelas

Di satu kamar sebenarnya ada mata yang sejak semalam tak bisa tertutup, pikirannya menerawang sambil memegang sebuah surat yang tiba kemarin sore, Pak Pos langganannya yang saban dua minggu sekali mengantar pesanan benangnya dari toko online memberikannya dengan senyum, sudah banyak smartphone masih ada yang main surat-suratan ucapnya kemarin, Dewi cuma bisa tersenyum.

Dewi tidak bisa membuka surat itu karena itu berasal dari seseorang dimasa lalunya, orang yang kerap mewarnai hari-harinya 4-5 tahun yang lalu, Kebencian yang dirasakannya membuat semua hal yang terkait dengan orang itu dibencinya, baju-baju yang dulu masih disimpan dilemari dibuangnya, begitu pula dengan blackberry pertamanya pun kena sial dibenci hanya karena dibelikan oleh orang itu. Sebegitu bencinya.

Ibunya sebenarnya sudah berkali-kali mengingatkan untuk tidak membenci orang lain, karena biar bagaimanapun Dia punya hal yang baik dimasa lalu, gak melulu hal yang jahat.

            “Gimana aku gak benci Bu, dia memperlakukan aku segitu jahatnya “ Dewi beralasan ketika diajak bicara Ibunya”

            “Kamu memang tidak pernah berbuat jahat sama dia ? “ timpal Ibunya dengan kalem

            “Pernah juga Bu, malahan sering tapi aku pokoknya benci sama Dia, Ibu gak usah belain” kata Dewi lagi dengan muka cemberut.

Ibunya cuma tersenyum, Dia mengenal betul watak anak perempuan keduanya ini. Sejak SMK memang Dewi sudah menghadapi hidup yang keras dan mandiri walaupun begitu, sosoknya ceria sehingga mempunyai banyak teman yang akrab sampai sekarang, tapi memang satu sifat yang susah diubahnya adalah kalau sudah benci susah untuk baik lagi. Pun mengenai surat ini, Dia tahu surat itu berasal dari siapa, karena sangat mengenal nama itu. Dia Eza mantan calon menantunya.

***

            “Kamu berbohong, katanya sudah mampu untuk nikah “ Dewi berkata dengan keras kepada Eza yang berada di ujung telepon

            “Kamu ngertiin aku dong, kita nikah biasa saja yang penting halal kan, kamu sayang sama aku atau gak “ Eza dengan tenang menjelaskan duduk perkaranya.

            “Aku hanya punya uang 10 juta sekarang, uang aku sendiri dan gak pake minta duit orang tuaku, hasil kerja kerasku sendiri, selama ini juga aku kan yang hidupin kamu walaupun pas-pasan” kata Eza menambahkan.

            “Gimana dengan seserahanku, aku masak gak dapat apa-apa dari kamu?, ranjang baru, persiapan rumah tangga kan dibeli buat kita juga” kata Dewi dengan nada tinggi

            “Kan bisa kita beli pelan-pelan, toh selama ini siapa sih yang ngelengkapin kebutuhan kamu, ditengah gajiku yang masih pas-pasan kita masih bisa hidup cukup kan, kamu maunya apa sih “ teriak Eza mulai gak sabar menjelaskan

            “Aku gak mau nikah kalau gak ada seserahan yang aku mau, nanti keluargaku jadi omongan tetangga, aku GAK MAU !!!” teriak Dewi dengan kasar.

            “Jadi kamu gak mau nikah kalau gak beliin barang kemauan kamu? kamu mentingin harga diri kamu dan keluargamu dibandingin usaha aku selama ini?”

            “Iya aku gak mau nikah sama kamu ? aku gak mau sama-sama kamu lagi !!!” lantang Dewi bersuara

            “ Oke, kita putus !!!” Eza dengan penuh emosi menutup telponnya.

Mata Dewi basah mengingat kembali kejadian itu, sebulan sebelum pernikahan mereka yang akhirnya memang kandas, kata-kata yang keluar dari mulutnya saat emosi kala itu memang tidak terkontrol, Dia sangat takut membayangkan pernikahannya yang sederhana akan dicemooh tetangganya, harapannya bahwa emosinya akan kembali dihibur oleh Eza seperti yang sering terjadi dihubungan mereka tidak terjadi malam itu, Eza benar-benar marah dengan caciannya, seingatnya mantannya itu tidak pernah marah selama mereka berhubungan setahun lebih itu, hanya marah sekali setelah itu tidak ada lagi, hilang lenyap ditelan bumi.

Eza memang berbeda dibandingkan dengan mantan-mantan Dewi terdahulu, sosoknya pendiam dan lebih banyak berpikir tapi cerdas memang, Dia tidak perlu meyakinkan diri berapa kali kalau dia menyukai Eza sejak pertemuan pertama mereka, dan sejak saat itu Eza tidak pernah berhenti untuk berusaha meyakinkan bahwa dia sosok yang baik di mata Dewi, bahkan Dia masih ingat betul bagaimana nekatnya Eza yang takut membuatnya kecewa, ketika mereka tiga minggu tidak bertemu karena Eza sibuk dengan pekerjaannya sampai malam minggu ke-empat ketika Dewi ngambek karena tiba-tiba Eza batalin janjinya datang kerumahnya, dengan matiin HP saja, keesokan harinya Eza sudah ada didepan rumahnya membawa motor. Perjalanan Jakarta-Tegal langsung dikebutnya dengan motor begitu mengetahui Dewi ngambek.

Eza juga dengan serius membantu keuangannya ketika Dewi kekurangan, ketika dia masih bekerja disalah satu toko seluler di pusat perbelanjaan yang jaraknya sangat jauh dari rumahnya, Eza menyicilkannya motor, walaupun gajinya tidak besar dan selalu telat membayar tagihan motor akan tetapi dia tidak pernah mengeluh bahkan selalu mengaku ada ketika ditanya masih punya uang atau tidak, sosok Eza memang begitu bahkan marahnya dia pun hanya karena cemburu Dewi mention-mentionan dengan cowok di twitter, Cuma sebatas itu.

 ***

Keesokan paginya Dewi menemui sahabatnya Yana, hubungannya yang dekat dengan Eza dulu membuat sahabatnya satu itu paham semua tentang kejadian dari awal sampai akhir hubungan cintanya, dengan membawa surat kiriman dari Eza yang sudah 2 hari tak dibukanya, Dewi ingin mendapatkan dukungan setidaknya untuk membuang surat itu dan menganggapnya tak pernah diterima saja, selain itu hubungannya dengan Udi saat ini seperti mendadak goyah hanya dengan surat ini, sudah dua hari juga BBM, telpon dari pacarnya itu diabaikannya, hari ini harus berakhir tekad Dewi ketika berangkat.

Yana hanya tersenyum melihat kebimbangan sahabatnya, Dia maklum waktu yang lama pun tidak akan bisa begitu saja menghapus sosok Eza di hidup Dewi, karena selama dia berteman sejak SMK hanya Eza yang menyentuh kehidupan keluarga Dewi secara langsung, begitupun dengan keponakan dan adik-adik Dewi, dia tahu betul.

            “Kalau menurut aku dibuka saja, toh cuma surat saja kan, belum tentu ada hal yang lain, mungkin permintaan maaf atau apa” jelas Yana dengan pasti sambil tersenyum.

            “Tapi gitu Na, aku masih benci sekali sama dia“ kata Dewi

           “ Ya bagus donk, kalau begitu kamu gak ada beban apa-apa, dibaca aja suratnya karena kalau kamu benci isinya juga tetap kamu benci kan?” tanya Yana sedikit menyelidik

Dewi tertegun, tiba-tiba terdiam dengan pertanyaan Yana, temboknya seperti runtuh menahan segala sesak didadanya, airmatanya mengalir deras dan mulai terdengar isakan. Yana kaget dengan perubahan kondisi sahabatnya. Dipeluknya sahabatnya dengan lembut

            “Aku benci banget sama dia, aku benci sama diriku sendiri yang tidak bisa menahan emosi waktu itu Yan, tapi Aku  juga masih sangat sayang sama Dia, sampai detik ini “ kata Dewi dalam isakannya, akhirnya keluarlah kata-kata Dewi yang dipendamnya selama ini, hampir 5 tahun dia berlagak membenci mantannya itu.

            “Aku ngerti Wi, sangat mengerti apa yang kamu rasain. Aku juga tahu selama ini kamu hanya berlagak membenci Dia “ kata Yana sambil mengelus kepala sahabatnya

            “Aku tahu rupamu yang sangat bahagia sejak kenal Eza, kisah kalian yang romantis dan kadang lucu juga membuat aku ingin seperti kalian” kenang Yana lagi.

            “ Masih ingat gak waktu kamu ngerjain dia harus naik becak dari terminal dan mencari alamat rumahmu waktu itu, lantas ketika sampai depan rumahmu Dia kamu kejar-kejar dan diteriakin maling” Yana tersenyum sambil bertanya

Dewi hanya terdiam dipangkuan sahabatnya sambil menangis, kejadian itu memang momen-momen terindahnya bersama Eza,

            “Tapi kalau dia ngajak aku balikan gimana?, Aku masih sayang Dia trus aku harus ngomong apa sama Udi? “ beruntun tanya Dewi dengan masih terisak.

            “Jujur sama hati kamu Wi, siapapun bisa berubah dalam beberapa menit, hanya Allah yang bisa bolak balik hati manusia” terang Yana dengan bijak

            “Lagipula kamu sama Udi gak cocok-cocok juga kan? Kamu hanya jadikan dia pelarian saja kayanya, iya gak “ tandas Yana dengan pasti mencoba meraih kesadaran sahabatnya.

Dewi terdiam, hatinya yang benci memang cuma permukaannya saja dan selama ini sikapnya yang memaki mantannya di socmed miliknya cumalah sandiwaranya saja, jauh dilubuk hatinya dia masih berharap Eza kembali dan melanjutkan hubungan mereka lagi, Dewi seperti sudah menemukan jawaban kegundahannya, dia ingin semuanya kembali seperti 5 tahun yang lalu saat bersama dengan Eza. Diusapnya air matanya, sambil mulai tersenyum dia mulai yakin dengan jalan yang dipilihnya.

Dewi mengambil handphoneny yang dari tadi bergetar, tercatat ada 70 panggilan tak terjawab dilayarnya. Udi pacarnya sejak semalam memang menghubunginya, dia terlampau galau untuk menjawab semua perhatian orang yang dipacarnya dua tahun belakangan ini. Dewi langsung sibuk dengan gadgetnya sambil tersenyum. Yana yang melihatnya dari tadi jadi bingung tapi tidak bertanya lebih lanjut,bahkan ketika sahabatnya tiba-tiba pamit dia pun hanya mengiyakan sambil mencoba tersenyum bingung.

***

Nada Whistle terdengar dari Handphone diatas meja, ada pesan masuk semoga dari Dewi pikirnya ternyata benar, tapi bunyi smsnya sangat singkat ‘Ketemu di Bakso Sutimin, Jam 3 Sore ya, aku tunggu disana”. Biasanya mereka ketika kemana-mana selalu minta dijemput, hari ini mendadak ketemu ditempat makan yang gak mau pacarnya kunjungin selama pacaran. Sudah setengah 3, Dia pun bergegas memacu kendaraannya kearah Tegal, biasanya Dewi selalu marah kalau dia telat dan suka badmood sepanjang jalan, dengan dua hari sms, telon,bbm, linenya tidak digubris, Dia gak pengen semuanya berantakan lagi.

Ketika sampai di Bakso Sutimin sore itu masih tampak ramai, tempat ini memang terkenal sudah lama dan letaknya juga strategis didekat perbatasan Kota dan Kabupaten Tegal jadi memang sampai sore antrian masih belum berhenti. Ketika sampai Dewi sudah duduk manis di meja yang dekat dengan Pak Timin mengambil baksonya, dia telat 15 menit tapi pacarnya tidak marah, aman pikirnya.

            “Kamu mau tau gak kenapa aku gak pernah mau diajak makan disini” tanya Dewi memulai percakapan sambil mengunyah baksonya

            “Nggak tau, bukannya karena gak enak? “ Jawab Udi polos

            “Ini tempat favorite aku sama mantanku dulu, kita selalu makan disini kalau dia pulang ke Tegal, tempat yang kamu dudukin sekarang itu bangkunya Dia” cerita Dewi perlahan mengalir.  Udi hanya mendengarkan saja dari tadi, ada rasa cemburu di dadanya tapi dia tahan, toh itu adalah masa lalu pikirnya.

            “Trus kenapa kamu hari ini ngajak aku makan disini?” Udi menyelidik dengan perasaan yang mulai gak karuan.

            “Aku pengen ngulang kembali masa-masa itu” jawab Dewi dengan hati-hati sambil melihat reaksi Udi

            “Maksudnya ? “ tanya Udi ke Dewi yang kelihatan mulai berkemas dan mengeluarkan uang dari dompetnya

            “Kita putus saja ya, aku gak bisa sama kamu. aku masih sayang banget sama dia, ini bayaran baksoku” kata Dewi sambil menaruh uang dua puluh ribuan dan berjalan meninggalkan tempat makan itu. Udi yang tidak menyangka langsung terdiam, mau teriak dia malu banyak orang, dia hanya bisa terdiam melihat langkah orang yang disayanginya semakin menjauh, hatinya mendadak kosong

***

Dewi dengan cepat memasuki rumah dengan wajah ceria, Ibunya yang melihat kedatangan anaknya bingung, seingatnya anaknya meninggalkan rumah tadi siang dengan muka suntuk galau dan bingung, sore ini kok mendadak sumringah, dibiarkan saja anaknya langsung masuk kamar dan terdengar bunyi kunci pintu.

Dewi dengan tidak sabar membuka lipatan surat yang sudah dua hari membuatnya galau, dia bertekad untuk kembali kepada orang yang benar-benar dia cintai, Eza, orang yang dulu begitu berarti tapi karena keegoisan yang membuat mereka berpisah begitu lama, dia tidak ingin kehilangan momen yang lebih lama lagi. Mulai dibaca suratnya perlahan, dari awal dan senyumnya pun mulai menghilang ketika surat itu mendekati akhir.

Tidak terasa air matanya jatuh semakin deras, hatinya sakit, Dewi kembali terluka.

BERSAMBUNG……..

Iklan


Kategori:surat untuk dewi

Tag:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: