Membahas fenomena ‘gap year’ untuk seorang pelajar

Baru-baru ini sangat santer diberitakan bagaimana tanggapan beberapa orang di Amerika tentang sebuah keputusan yang diambil oleh putri Presiden Obama, Mala Obama yang memutuskan untuk menunda waktu kuliahnya selama setahun atau banyak dikenal dengan sebutan gap year padahal putri sulung dari presiden Amerika ini sudah diterima di Universitas Harvard tahun ini tapi sesuai dengan pengumuman resmi gedung putih bahwa Mala Obama akan berkuliah nanti di tahun 2017

gap-year

gap year adalah sebuah keputusan menunda kuliah selama setahun, fenomena ini memang bukan hal baru, gaya ini sudah sangat tenar di Australia dan beberapa negara di Eropa, dimana aktivitas ini sebenarnya bukanlah menganggur, mereka bisa mengisi kegiatanya dengan magang, kerja sosial, relawan di luar negeri dan hal-hal lain mulai dari hal yang gratis, dibayar ataupun sampai merogoh kocek mereka sendiri, dan Amerika Serikat memang tergolong baru sehingga wajar banyak terjadi pertentangan.

Tapi memang banyak psikolog yang mendukung langkah ini, bahkan Harvard sendiri di situsnya, mereka membuat rekomendasi khusus yang menyatakan bahwa: “Kampus Harvard mendorong para mahasiswa yang sudah diterima untuk menunda pendaftaran setahun dan melakukan perjalanan, mengerjakan proyek atau aktivitas, bekerja, atau menghabiskan waktu dengan cara yang bermanfaat,”. Untuk ukuran kampus Harvard yang terbuka dengan ide ini berarti mereka memang menganggap banyak manfaat dari hal ini, (pengumumannya bisa dilihat disini)

Sebagai orang yang tidak langsung kuliah saat lulus kuliah, walaupun memang tidak sengaja melakukannya saya menganggap jeda setahun membuat kita akan berpikir bagaimana sebuah masa depan itu berjalan dan akhirnya keputusan untuk hidup kedepannya juga menjadi lebih bijak, tidak salah memang banyak yang menganjurkan setelah SD 6 tahun, SMP 3 Tahun, dan SMA 3 tahun yang total habis 12 tahun belajar terus menerus sejak senin-sabtu dan kadang minggu juga gak libur yang diisi dengan membantu orang tua atau les bahasa membuat kita sampai pada titik kejenuhan yang luar biasa, jeda sedikit akan membuat kita berpikir jernih.

Akhirnya mungkin kita harus mulai mengadopsi sistem seperti ini dalam sistem pembelajaran di Indonesia, bahkan mungkin perlu di strukturisasi menjadi satu kesatuan sehingga orang kuliah gak 4 tahun tapi 5 tahun plus gap year. 3 Benua besar dan terkenal dengan pendidikannya pun sudah terbukti melakukannya, dan kita yang ada di negara Indonesia seharusnya melihat ini sebagai sebuah sistem yang membangun, toh jeda setahun tidak dihabiskan dengan menganggur tapi tetap padat dengan penuh kegiatan yang sesuai dengan passionnya sehingga saat kuliah mereka menemukan dunia yang benar-benar mereka inginkan.

Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan harvard sendiri menilai ada peningkatan nilai sebanyak 33 persen bagi mereka yang melakukan ‘gap year’ sebelum masuk kuliah dan Forbes juga mencatat sebuah studi yang dilakukan oleh University of Sydney, program gap year membantu calon mahasiswa untuk menambah kemampuan kerja, nilai akademik. Bahkan ada sebuah studi yang melaporkan, mahasiswa yang sempat melakukan gap year, maka setelah lulus akan lebih bahagia dengan kariernya (Baca: Tulisan Frances Bridges : Shoul you take a gap year?)

Lantas menurut kamu bagaimana?

Iklan


Kategori:life

Tag:, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: