Manusia dan ketakutannya

“Manusia menciptakan sesuatu untuk mewakili ketakutannya”
(Ultron di Film Avenger : Age of Ultron)

Manusia lahir dengan membawa banyak rahasia, rahasia yang  terjadi ketika menandatangani perjanjiannya dengan Tuhan saat roh ditiupkan kedalam raga di kandungan ibunya, membawa semua hal tentang tujuan hidupnya didunia termasuk kehidupan, ketakutan serta kematiannya, ketika lahir menjadi peretas amnesia dan melupakan segala tujuannya yang harus diingatnya kembali bersama bantuan infiltran dan menghadapi cobaan para sarvara.

ketakutan

Di antara banyak tujuan hidup yang harus di ingatnya kembali manusia juga menyimpan banyak ketakutan tentang dunia yang dihadapinya, bahkan banyak orang pun takut sekedar bermimpi karena tak ingin tidur selamanya di dunia yang bukan ditempatinya saat ini. Kita yang berada diruang sadar sebenarnya bisa saja hanya teringat pada tujuan awal kita diciptakan dan itu kadang muncul lewat harapan, mimpi dan juga ketakutan, ruang dan rongga itu kadang bersatu membentuk satu garis dejavu sekedar mengulang apa yang ingin kita lakukan dan direncanakan di rahim ibu.

Harapan dan mimpi adalah dua kutub magnet yang bersamaan, tapi berbeda dengan ketakutan mereka hadir untuk meluluhkan segala bentuk kondisi yang secara nyata telah menghabisi harapan dan mimpi yang sejenak telah pulih dalam alam sadarnya.

Ketakutan yang kita bawa kadang juga menghancurkan harapan yang kalau saja kita paham ketakutan diciptakan untuk menguji dan menyadarkan, menguji seberapa besar keraguan apakah menjadi sebuah kegagalan dan menyadarkan sebagai bentuk autoproteksi yang kita ciptakan sendiri dalam genggaman tangan perjanjian bersama Tuhan semesta alam. Tergantung kita akan memilih yang mana dan ketakutan tidak akan bisa menghapus harapan karena dia infiltrant yang hidup dan mati berkali-kali untuk melindungi peretas yang amnesia.

Ketakutan akan selalu menjadi pendamping harapan dan mimpi, ketiganya hadir sebagai fase-fase yang kita ciptakan sendiri dalam ruang kecil di otak kita untuk menggapai tujuan, kita hanya perlu memilih harapan dan mimpi mana yang layak dipilih sedangkan ketakutan tak akan pernah berganti muka menjadi pendukung harapan atau mimpi tetapi sejatinya akan selalu mendukung tujuan untuk menjadi manusia yang paripurna.

Iklan


Kategori:life

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: