Airlangga Hartarto ? Mengapa Tidak !

Sejujurnya saya gak mengenal secara utuh siapa sosok Airlangga Hartarto Soekardi, karena saling follow ditwitter sama Uda Indra Piliang dan berteman di kontak BBM aja makanya mulai berangsur-angsur mengenal. Bagaimana tidak, beberapa kali artikelnya di website pribadinya tentang Airlangga pun di broadcast atau di kultweetkan, akhirnya saya pun jadi bertanya kenapa harus Airlangga di pucuk beringin ini?

12932915_1029860933727905_3921485499552379744_n

Mengenal Golkar pun bukan hal baru di keluarga kami dan saya juga yakin itu pula yang terjadi dengan banyak keluarga miskin di bentaran negeri ini,  sejak kecil saya terbiasa untuk memamerkan dengan bangga kaus kuning baju kampanye yang dibagikan partai ini saban pemilu 5 tahunan, yang walaupun setelah dewasa kami paham itu hanyalah baju yang terbuat dari kain murahan, tapi tak mengapa saya tetap cinta partai ini.

Kecintaan kami atas partai ini mungkin bagian dari sugesti yang ditanam selama 3 dekade lebih mereka berkuasa dan kami terbiasa nyinyir kepada 2 partai lainnya, yang berlambang kabah dan banteng itu. Brainstorming reformasi pun tak serta merta meluluh lantahkan kepercayaan kami, kebencian yang dibangun para lawan politik dengan bermodalkan pembaharuan untuk meraih simpati pun tak kami perdulikan, apakah kecintaan itu langsung hilang? TIDAK, masih banyak yang setia bernaung di beringin tua walaupun daunnya mulai meranggas menahan penguapan yang mulai mendera lahan kekuasaannya.

Dengan akal sehat kami tergerak untuk mencoba mengkritik bahwa Golkar kehilangan daya nalar manusianya, kesalahan kepemimpinan yang tercoreng banyak kasus akan tetapi masih sangat dibela oleh kader-kadernya itulah puncak kelemahannya, Golkar kalah bukan tentang kemampuan berpolitik dan strateginya dalam pemilu akan tetapi mereka lemah memuaskan faksi-faksi politik yang mulai memecah membangun kekuatan, Ya mereka hancur oleh diri mereka sendiri.

Lantas mengapa Airlangga yang harus tampil dalam pusaran konflik tak berkesudahan itu?  maka apabila kita sependapat memilih Airlangga Hartarto tentu saja kita harus menganisis kepimpinan Golkar utuh.

Golkar sangat butuh sosok baru

Kepemimpinan Aburizal Bakrie selama satu periode ditambah masa konflik dualisme sebenarnya mengikisi habis suara Golkar di mata masyarakat terpelajar, kenapa saya memakai jenis masyarakat ini sebagai patokan karena di masyarakat awam Golkar masihlah punya tempat sesuai dengan sugesti yang mungkin sama dengan saya, maka tidak heran pilkada serentak tahun 2015 kemarin, Golkar masih bisa menang di beberapa kabupaten.

Akan tetapi dengan perkembangan zaman dan kecerdasan berpolitik rakyat yang semakin tinggi Golkar haruslah menempatkan posisi mereka aman dimata masyarakat terpelajar, yang memang sudah jengah dengan kepemimpinan golkar dibawah orang-orang lama dan akhirnya yang dibutuhkan adalah sosok yang betul-betul baru dan lepas dari ikatan konflik tersebut bahkan bisa dibilang jauh dari kilatan kamera kepemimpinan masa lalu, Airlangga Hartarto apakah bisa masuk dalam kategori itu? BISA, sangat bisa sekali walaupun dia bukan sosok yang benar-benar baru dengan 3 kali menjadi anggota DPR tapi sangatlah jauh dari lingkaran kekuasaan penguasa terdahulu.

Tidak terikat oleh satu kubu manapun di pusaran konflik

Kubu ARB dan AL yang bermain dalam pusaran konflik ini adalah sama-sama status quo, walaupun memang tokoh-tokoh mudanya banyak bermain di kaki Munas Ancol akan tetapi hal itu tidak serta merta membuat kubu AL adalah sebuah gerakan pembaharuan.

Lantas dimanakah posisi Airlangga dalam pusaran ini? jawabannya ya tidak dimana-mana, sosok ini bermain dalam dua lintasan kekuasaan tanpa berkubu, mengapa ini penting? karena kedepan pimpinan partai Golkar harus lepas dari ikatan-ikatan kubu dalam upaya menjaga kesolidan dan keberpihakan terhadap faksi yang berkonflik, Golkar perlu mainstream baru, saatnyalah yang memimpin  orang yang berkarir dari bawah di partai ini,  Airlangga Hartarto mungkin jawabannya

Visi-misi yang dibawanya bersifat taktis

Saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang Eka Sapta maupun Eka Trio, karena sudah secara gamblang membahas kebutuhan sebuah partai yang kalau saya bilang bukan saja tentang Golkar akan tetapi semua partai di Indonesia butuh hal itu, mungkin tinggal di buatin hak cipta lantas di perjualbelikan sebagai khasanah perubahan dalam partai politik yang saat ini sudah sangat kehilangan arah.

Lalu mengapa saya katakan TAKTIS sedangkan tidak membahas Eka Sapta dan Eka Trio? politik adalah tentang sebuah cara dan juga tentang kekuasaan, targetan Airlangga Hartarto dengan hanya menargetkan kembali memegang 14% suara di pemilu 2019 dan menjadi pemenang legislatif maupun eksekutif di 2024 itu merupakan visi yang jauh cemerlang dibandingkan hal lain karena pemahamannya tentang sebuah proses perkaderan dan satu hal yang saya pahami dalam perkaderan “bahwa tidak ada yang instan dalam sebuah proses” apalagi untuk sebuah kekuasaan.

Lantas kalau ada yang bertanya apakah cocok Airlangga Hartarto untuk #SaveGolkar ? MENGAPA TIDAK ?!

Iklan


Kategori:birokrasi

Tag:, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: