Dari Ibu Negara-Novelis, Ini 7 Kartini Indonesia yang pantas difilmkan

Saya termasuk pecinta film biografi, gak hanya biografi orang terkenal akan tetapi sosok-sosok unik yang difilmkan menjadi perhatian tersendiri dalam resensi film saya, termasuk ketidaksabaran untuk menunggu rilisnya film Kartini yang katanya sedang dibuat oleh Hanung Bramantyo, Filmnya Rudi Habibie yang bakal rilis sebentar lagi, akan tetapi karena ini bulan April yang lekat dengan hari kelahiran Ibu Kita Kartini di tanggal 21 April saya tertarik untuk membahas kira-kira siapa saja sosok perempuan Indonesia yang cukup menginspirasi dan pantas untuk difilmkan selain Kartini, Butet Manurung dan Cut Nyak Dien (filmnya pernah ada di tahun 1988 bahkan menang Piala Citra juga), ini pendapat pribadi tapi kira-kira kamu setuju gak?

7 KARTINI

Ibu Fatmawati

Siapa yang gak kenal dengan Ibu Fatmawati, perempuan Bengkulu ini adalah ibu dari mantan presiden kita ibu Megawati Soekarno Putri, yang dikenal Soekarno semasa menjalani masa buangan di Bengkulu, serta kita kenal sebagai orang yang menjahit bendera pusaka Indonesia, kisahnya pasti akan sangat menarik karena dekat dengan kisah presiden pertama kita serta bagaimana membesarkan anak-anaknya yang saat ini menjadi tokoh-tokoh bangsa.

Kisah perkenalan dan percintaannya pun pasti akan menjadi bumbu yang menarik dari sebuah film (walaupun telah diceritakan sedikit di Film Soekarno), bagaimana pernikahannya dan bagaimana bertahan ditengah kondisi perang kemerdekaan pun akan menjadi pelajaran yang sangat penting bagi penerus bangsa ini.

HR Rasuna Said

Awalnya saya gak tau siapa sosok ini, saya baru baca hari ini tentang Ibu yang namanya jadi salah satu nama Jalan Protokoler yang terkenal dengan mahalnya di Jakarta, HR Rasuna Said namanya. Kisah perjuangannya pun mirip dengan sepak terjang Kartini yang sama-sama memperjuangkan persamaan pria dan wanita.

Rasuna Said sangatlah memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita, ia sempat mengajar di Diniyah Putri sebagai guru. Namun pada tahun 1930, Rasuna Said berhenti mengajar karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tapi harus disertai perjuangan politik, dan bagi saya setelah membaca dengan ringkas kisah hidupnya saya berasumsi mungkin inilah role model awal tokoh perpolitikan perempuan di negeri ini, kompleksnya perjalanan hidup dan pandangan-pandangannya pasti akan menggugah anak bangsa saat ini jika melihat filmnya.

Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu bertempur melawan Belanda demi mempertahankan tanah Maluku yang kaya hasil bumi. Dia dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, kawan baik dari Thomas Mattulessi atau Kapitan Pattimura. Pada usia ke-17 tahun, dia ikut dalam pertempuran melawan Belanda di Desa Ouw, Ullath, Pulau Saparua, hanya dengan bekal bambu runcing dan ikat kepala, betapa menggelorakan semangat.

Kisah Gerilyanya sampai ditangkap dan dibuang ke Pulau Jawa, akhirnya jasadnya dimakamkan di Laut Banda akan menggores ingatan penonton tentang keberaniannya, kematiannya yang disebabkan mogok makan selama perjalanan pengasingan pun menggambarkan keteguhan tekadnya untuk melawan penjajah.

Raden Dewi Sartika

Kalau Kartini menjadi penerang bagi kaumnya di Jepara, beda lagi dengan sosok yang lahir di Cicalengka Jawa Barat ini. di waktu senggangnya dihabiskan untuk mengajar baca tulis anak-anak di lingkungan kepatihan, Dia lalu mendirikan sekolah khusus bagi kaum perempuan yang diberi nama Sekolah Istri pada 1904. Saat didirikan, sekolah itu baru berisi dua kelas dengan jumlah murid pertamanya sekitar 20 orang. Di sana para murid perempuan diajari baca-tulis, berhitung, menjahit, merenda, menyulam, dan pelajaran agama.

Kisah perkawinannya dengan orang yang sevisi dengannya serta bagaimana mereka menghidupi sekolah mereka agar bertahan ditengah penjajahan sampai lahirnya Sekolah Keutamaan Istri saat itu. kira-kira kalau difilmkan akan bagaimana dan siapa yang memainkan ya, sosoknya begitu inspiratif.

Susi Susanti

Siapa yang gak kenal sosok ini? Lucia Francisca Susi Susanti atau yang lebih dikenal dengan nama Susi Susanti adalah salah satu pemain bulu tangkis putri terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. bisa dibilang setelah dia gantung raket, hampir tidak ada lagi prestasi bulu tangkis Putri Indonesia di tingkat dunia, hanya beberapa saja yang bisa juara atau paling mentok semifinal dan kalah dari China,

Perempuan kelahiran Tasikmalaya ini menyukai permainan bulu tangkis sejak duduk di bangku SD. Karena dukungan orang tuanya, ia pun memulai karier bulu tangkis di klub milik pamannya, PB Tunas Tasikmalaya. Setelah berlatih selama 7 tahun di sana dan memenangkan kejuaraan bulu tangkis tingkat junior, pada tahun 1985 ketika Susi menginjak kelas 2 SMP, ia pindah ke Jakarta untuk lebih serius menjalani dunia bulu tangkis.

Kisah percintaannya dengan Alan Budikusuma yang merupakan salah satu peraih emas olimpiade dari cabang bulu tangkis pun menjadi kisah tersendiri, saya menunggu banget kisah pengantin olimpiade ini.

Yayuk Basuki

Yayuk Basuki lahir dengan nama Sri Rahayu Basuki adalah pemain tenis Indonesia dan terkenal pada era tahun 1990-an. Peringkat tertinggi yang pernah dicapainya adalah posisi ke-19 untuk kelas tunggal dan ke-9 untuk kelas ganda, Sepanjang kariernya, Yayuk berhasil memperoleh enam gelar tunggal Tur WTA dan sembilan gelar dari ganda. Prestasi terbaiknya dalam turnamen Grand Slam adalah mencapai babak perempat final Wimbledon pada tahun 1997.

Ketika Yayuk melangkah masuk delapan besar Wimbledon, ia mencatatkan diri sebagai wanita Indonesia pertama yang masuk Eight Club, lembaga yang menampung para alumni delapan besar turnamen akbar tersebut. Kisah ditengah tidak adanya prestasi yang begitu signifikan dari petenis Indonesia pun perlu dimunculkan kembali dengan film tentang profil kebanggaan Indonesia ini.

NH. Dini

Pertama membaca kisah seorang Sri pada buku  “Pada Sebuah Kapal” disudut sempit Blok W Malang di tahun 2009 saya kagum banget akan karya itu, belum lagi buku “Dari Parangakik ke Kampuchea ” yang ternyata lahirnya bahkan lebih muda dari buku Pada sebuah Kapal yang ditulis tahun 70an, saya terperangah dengan karyanya dan puluhan tahun kemudian masih mampu menginspirasi, begitu luar luar biasa.

Belum lagi kisah hidupnya yang saat ini dihabiskan disebuah panti wreda, Banyumanik Jawa Tengah, tinggal disana pun atas kemauannya sendiri karena kalau masalah keuangan tentu saja bukan masalah, salah seorang anaknya adalah sutradara film “Minions” yang terkenal itu, dan kisah hidup yang mandiri tersebut menjadi sosok yang nyata bagaimana seorang Kartini tak menggantungkan hidupnya ada seorang lelaki, bahkan saya pernah membaca ditengah kesibukannya pun seperti seminar-seminar dan acara lain pun diurusnya sendiri.

Masih banyak lagi sebenarnya sosok-sosok perempuan lain yang menginspirasi kita semua, baik dengan karya mereka secara langsung ataupun kehadiran mereka menginspirasi lahirnya sosok lain semisal Ibu Ainun yang dengan kekuatan dan kesabarannya mampu menemani seorang BJ Habibie berprestasi dan kisahnya pun sudah difilmkan bersama dalam film Habibie dan Ainun atau juga sosok Ibu Tien Suharto yang dengan tangan dinginnya mampu menjadi kekuatan bagi seorang Presiden ke-2 Indonesia, yang dengan kepergiannya ternyata juga mampu meruntuhkan kekuatan seorang penguasa orde baru 32 tahun (tapi memfilmkannya mungkin susah), tapi bagi saya pribadi 7 film ini datang menyusul setelah kehadirannya film Kartini pasti akan sangat menakjubkan dan dapat menginspirasi banyak orang, apalagi ternyata ada yang pengen membuat ulang film Cut Nyak Dien, teknologi film tahun 1988 dibandingkan saat ini pasti udah jauh dan hasilnya pasti lebih keren.

Yang pasti dengan kekuatan sineas-sineas mudah saat ini serta besarnya kecintaan publik pada sosok pahlawan saya yakin bakal mendatangkan animo luar biasa, dan kita tunggu bagaimana para production house atau sutradara dalam menyikapi film-film tokoh seperti ini, semoga artikelku dibaca kalau gitu.

*Diambil dari berbagai sumber

Iklan


Kategori:film

Tag:, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: