Filosofi Pion, Raja dan Benteng di film Wazir

Sebuah aksi baku tembak antara polisi dan teroris sontak mengubah jalan hidup Daanish dan Ruhana, anak mereka Noorie mati tertembak ketika Daanish secara teledor membawanya untuk membuntuti seorang gembong teroris, Ruhana menyalahkannya atas kejadian itu, rasa sedih kehilangan putri sekaligus dibenci istri sendiri membuatnya beringas dan akhirnya membunuh sendiri teroris yang merenggut nyawa putrinya. Akan tetapi keberhasilannya pun tidak memuaskannya yang akhirnya memutuskan untuk menembak tenggorokannya sendiri di depan makam putrinya yang tanahnya masih merah.

Wazir-poster

Disaat itulah mengantarkan Daanish bertemu dengan Omkar Nath yang akrab dipanggil Panditji, ternyata mendiang putrinya sering belajar catur kepadanya, dan akhirnya catur mampu membawanya kepada ketenangan, mulai dari dikalahkan oleh anak-anak kecil sampai kemudian dia mampu menjadi partner bermain sang Guru, Panditji.

Dalam film ini banyak sekali filosofi catur yang diajarkan, mulai dari ketenangan benteng yang mampu menahan diri selama masih ada pion kecil didepannya, sampai pihak lawan memakan pion kecil didepannya maka sang benteng akan terus mengamuk tanpa bisa ditahan.

Juga dalam catur kita bisa mengulang langkah yang sama untuk mencapai kemenangan, sedangkan dalam kehidupan sekali kesalahan akan berdampak pada langkah selanjutnya dan hanya mampu diperbaiki di langkah berikutnya.

Filosofi Pion, Raja dan Benteng sangatlah mendominasi film ini, bagaimana seorang rakyat biasa dilambangkan sebagai Pion dan disakiti oleh Raja, maka Pion apabila mampu berjalan setapak demi setapak akan sampai di ujung bidak dan mampu menjadi Perdana Menteri (Wazir), akan tetapi untuk melakukan semuanya itu maka dibutuhkan pertemanannya dengan Benteng yang akan menemaninya lurus kedepan sampai ke ujung bidak, akan tetapi apabila ternyata kenyataan tidak memungkinkan, maka Pion harus mengorbankan dirinya untuk memberikan jalan sang Benteng mengamuk untuk menghabisi Sang Raja.

Begitulah film ini, Pion diperankan oleh Panditji, Benteng oleh Daanish dan Raja yang jahat pada sosok seorang menteri yang bernama Yazad Qureshi, apakah yang menghubungkan mereka? nonton aja ya biar jelas sendiri, yang pasti dengan skor imdb mencapai 7,4 film ini jelas bukan film jelek, apalagi aktor India legendaris memerankan salah satu tokoh tersebut, dan disepanjang film Amitha Bachan pada masa tuanya hampir semuanya mengandung filosofi hidup yang dalam.

Iklan


Kategori:film

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: