Fenomena Trump dan Ahok dalam sebuah anomali politik

Politik hanyalah sebuah kata, sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara atau secara defenisi umum adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara (sumber :wikipedia) sedangkan menurut teori klasik Aristoteles sendiri adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain: politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Secara pribadi dalam melihat hal tersebut lebih sepakat pada defenisi yang dilahirkan oleh Aristoteles itu sendiri, karena layaknya sebuah seni politik juga mempunyai keindahan yang sangat luar biasa bagi pelaku-pelakunya, lihat bagaimana kemenangan gerakan kiri Kuba dalam memperjuangkan manifesto politiknya, atau bagaimana perjuangan seorang Lula da Silva yang berhenti sekolah setelah kelas 4 SD, mulai bekerja pada usia 12 tahun sebagai seorang tukang semir sepatu, penjual kacang, dan tepung tapioka dan ternyata seorang pekerja serabutan itu di tahun 2003 diangkat menjadi Presiden Brazil, keindahan seni macam apa lagi yang bisa membongkar kekuatan politik arus tengah menjadi gerakan sayap kiri yang sarat muatan revolusioner. Indah..

Karena politik sebagai seni itulah yang membuatnya tidak lepas dari anomali-anomali, bagaimana cara orang mendapatkan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan masing-masing dengan mindset seni politik mereka sendiri. Semisal pada pemilu tahun 2009 banyak orang yang menyayangkan seorang JK tidak menjadi seorang Presiden dan begitu banyak media yang membahasa bahwa orang sulawesi itu adalah orang yang kasar, sifat blak-blakan dan seringnya off-side seorang JK saat menjadi wakil presiden dari SBY dianggap kurang layak karena tidak santun dan tidak menghargai orang yang jabatannya lebih tinggi sehingga diramalkan dengan cara luar biasa ghaib bahwa dikhawatirkan kalau JK menjadi seorang Presiden maka akan lebih berbahaya lagi. akan tetapi keadaan itu berbalik 180 derajat ketika 2012 seorang wagub DKI yang bernama Ahok yang tempramental dan seringkali memarahi bawahannya yang curang, bagaimana video youtubenya memarahi keras Dinas PU Jakarta karena permasalahan RAB proyek, sontak orang memuji dan mengatakan “ini baru perubahan” padahal 3 tahun sebelumnya publik menggagalkan seorang yang blak-blakan seperti JK menjadi presiden karena dianggap kurang santun, ini fenomena apa?

Ketika Ahok naik pangkat menjadi Gubernur pun banyak omongannya yang blak-blakan tetapi tidak kurang pemujanya, dianggap sosok yang lebih baik daripada yang santun ternyata mencuri uang rakyat, fenomena ini pula yang mulai ramai dibicarakan di Amerika Serikat ketika Donald Trump Selasa malam lalu kembali memenangkan kaukus Nevada pemilihan bakal calon presiden AS  dengan angka cukup jauh dari pesaingnya. Jika kecenderungan ini terus berlanjut maka Trump boleh jadi akan memenangkan perebutan kursi calon presiden dari Partai Republik dan akan menantang calon dari Partai Demokrat untuk maju sebagai presiden Negeri Paman Sam.

Siapa yang tidak kenal dengan Trump ? pengusaha properti pemilik Trump Tower ini seharusnya bukanlah orang yang tepat menjadi Presiden AS, termasuk komentar kasarnya yang akan melarang orang islam masuk amerika jika dia menjadi presiden, menjelek-jelekan pengkritiknya dan bila kita sering melihat dan mengikuti beritanya di BBC misalnya dan melihat cara berkampanye seorang Trump pastilah jadi benci karena kata-kata yang dilontarkan tidak lebih daripada cacian, makian dan anehnya pendukungnya bersorak mendengar hal tersebut. tapi mungkin para Teman Ahok tidak sependapat karena berkata kasar dan arogan adalah khas dari sosok idola mereka (saya membandingkannya dalam konteks komunikasi verbalnya bukan muatannya)

Sean Illing seorang mantan tentara amerika dan juga pengajar filsafat di Universitas Lousiana berkomentar di kolomnya di salon.com yang saya kutip dari merdeka.com, Illing mengatakan

“Saya benci untuk mengatakannya, tapi kesimpulannya cukup jelas: Kita negara bodoh, banyak ribut, buta huruf, dan gampang termakan omongan, lanjut lagi “Trump melaju dalam nominasi ini tanpa menawarkan program atau rencana. Dengan segala retorika kasar soal orang Meksiko, pecundang, muslim, bodoh, China, Amerika, hebat, lagi, dia memperdaya jutaan rakyat Amerika.” Menurut Illing, kondisi ini membuktikan mayoritas rakyat Amerika tidak tertarik dengan segala hal terkait pemerintahan. Mereka tidak mengerti dan tidak mau mengerti.

Trump, kata dia, punya jurus sederhana: berpura-pura bodoh dan marah karena dua hal itulah yang orang suka.

“Dia menjadi cermin bagi negara kita. Dia menunjukkan betapa butanya kita. Di Nevada, misalnya, 70 persen pemilih Trump adalah mereka yang lebih menyukai kandidat anti-kemapanan dibanding yang punya pengalaman politik. Itu artinya mereka tidak peduli apakah dia paham soal bagaimana pemerintah bekerja atau dia punya kemampuan melakukannya. Itu adalah bentuk protes, hasil dari kemarahan, bukan pertimbangan.”

Bercermin dari pendapat Illing tersebut, mungkin kita akan sepakat bahwa anomali politik jauh dari kesantunan yang dipertontonkan oleh seorang Ahok dan mendapat respon yang baik mungkin benar adalah sebuah bentuk kemarahan dan kelelahan ditipu bertahun-tahun dengan wajah serigala berbulu domba yang dipertontonkan para politikus, tapi apakah dengan hal tersebut kita akan berhenti mencari orang yang benar-benar baik dan santun ? mungkin belum terlambat kita berbuat.

Iklan


Kategori:birokrasi

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: