Menyoal nilai 200 rupiah dalam kebijakan plastik berbayar

Ba’da Isya kemarin malam, saya lanjut beli nasi goreng dan kebetulan disampingnya ada Alfamart, jadi sembari nunggu dibikinin sama si abangnya saya beli minuman dingin dulu deh pikir saya, setelah milih minuman dan ketika dikasir ternyata si mbaknya bilang “plastiknya sekarang berbayar ya mas, 200 rupiah ini berlaku untuk semua minimarket” pikir saya hanya 200 rupiah ya saya iyain aja, tapi ketika balik nungguin nasi goreng dibungkus jadi ingat sama surat edaran Kementerian Lingkungan Hidup yang lagi rame tentang penggunaan plastik berbayar dan saya setuju banget sama kebijakan ini, tapi kok harganya cuma 200 perak? ini tidak akan menimbulkan efek menggunakan kebijakan tapi dengan nilai sekecil itu dan saya lebih sepakat satu kantong plastik dihargai minimal 20.ooo rupiah supaya jera sekalian dan bawa kantong belanja dari rumah.

20160223_002916

Logika mana yang digunakan sama pihak pemerintah dalam menyusun edaran ini, sangat tidak masuk akal dengan nilai semurah itu, tidak kompatible dengan efek yang ingin diciptakan, nilai 200 rupiah itu sering diabaikan pengguna mini market loh? kalau kembalian hanya 100 atau 200 rupiah mereka pasti akan lebih sering ditinggal aja tanpa peduli atau kalau ditawarin disumbangin biasanya direlain aja  walaupun kembalian sisa 1000 rupiah, 200 rupiah? siapa yang bakal hitung?

Kalau boleh saya sedikit sok analisa, selama ini penggunaan kantong plastik dari pihak mini market dikenakan 0 rupiah atau kalau kena harga 1 rupiah saja (silahkan cek nota-nota yang dulu ketika belanja di mini atau supermarket) dan selama ini pihak mini dan supermarket tidak keberatan menggratiskan hal tersebut dan dengan kebijakan ini secara tidak langsung akan menguntungkan pihak mini dan supermarket tersebut terkait dengan apa yang saya jelasin diatas, pembelinya sehari satu toko ada 100 orang misalnya, dengan mendapatkan penghasilan tambahan dari plastik 20.000 sehari (hitungan kasar jika satu pembeli hanya menggunakan satu kantong plastik) dalam sebulan mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan 600 ribu rupiah/toko dari kantong plastik yang dulunya mereka gratiskan, coba kita kalkulasikan deh

Indomaret misalnya pada data tahun 2015 punya 11.400 gerai dengan 60% milik sendiri atau sekitar 6.840 gerai (datanya menurut wikipedia disini) jika satu bulan per gerai mendapatkan pembeli 100 orang perhari maka perkiraan pendapatan tambahahan dari plastik berbayar adalah sekitar 600.000, bagaimana jika kita kalikan dengan 6.840 gerai itu sekitar Rp. 4.104.000.000,- (Empat milyar seratus empat juta rupiah) itu per bulan loh !!!

Ini hanyalah satu contoh, bagaimana dengan Alfamart yang menurut data wikipedia disini punya lebih dari 1000 gerai, atau Toserba yogya yang punya pengunjung ratusan sehari dan punya sekitar 70 outlet (data lihat disini), atau Hypermart, Ramayana yang pengunjung sehari pasti lebih dari 100 orang, saya tidak menyalahkan pihak mereka dalam hal ini, akan tetapi alih-alih ini akan mengurangi penggunaan kantong plastik, justru ini akan menambah lahan pendapatan bagi pengusaha swalayan tersebut, dan sekali lagi saya tidak menyalahkan hanya mengherankan kebijakan pemerintah sebenarnya mengarah kearah mana ? Mau menguntungkan pengusaha atau menghemat penggunaan plastik? harus clear dulu disitu.

Secara pribadi saya sependapat dengan kebijakan ini, sangat realistis untuk dilakukan akan tetapi harus punya strategi yang lebih lengkap ketimbang hanya dengan surat edaran (itupun saya baca dibeberapa media hanya percobaan) dan saya punya usulan yang lebih lengkap dan lebih terstruktur.

  1. Ditetapkan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaan kantong plastik berbayar yang sediakan oleh penjual, kalau mau menciptakan efek jera nilainya dikisaran 25.000-100.000/kantong plastik, dibandingkan mengeluarkan uang yang terhitung lumayan untuk selembar plastik saya yakin pembeli akan berpikir ulang untuk tidak membawa tempat sendiri ketika berbelanja.
  2. Ditetapkan start awal yang cukup lama (minimal 1 bulan) penggunaan peraturan/tidak serta merta diedarkan langsung dilaksanakan, harus kampanye yang lebih masif di dunia maya, televisi, radio dan intensitasnya lebih sering
  3. Sembari kampanye untuk pencegahan penggunaan plastik, perusahan toko swalayan dan sejenisnya sebagai tempat yang paling sering adanya transaksi plastik harus ikut serta dalam proses CSR dengan menyediakan dan membagikan kantong belanja yang ramah lingkungan dalam masa kampanye.

Itu hanyalah sekedar berbagi pendapat, mau diterima sebagai satu perbaikan yang baik akan lebih bagus lagi, tidak diterima juga tidak akan menjadi masalah karena sebagai rakyat yang tidak punya akses apapun terhadap pembentukan satu kebijakan, kita hanya bisa bersuara lewat tulisan blog pribadi yang tempatnya disediakan gratis ini.

Iklan


Kategori:birokrasi

Tag:, , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: