Anak-anak Revolusi, Perjalanan sebuah janji

Dalam membaca biografi seseorang tokoh, kita selalu membandingkan antara apa yang kita lihat dalam sepengenalan kita dengan apa yang diceritakan dibuku, secara tidak sadar kita terbawa dalam kondisi tersebut. Pertama kali mengetahui seorang Budiman Sudjatmiko adalah saat membaca koran ditahun 90-an tentang seorang aktivis yang akan melakukan makar tapi itupun hanya sekilas, masih sangat muda saat itu belum genap lulus SD, mendengarnya kembali ketika masuk HMI di Malang, para senior pun mengenalkan pertautan antara Partai Rakyat Demokratik dengan HMI yang sejalan dalam beberapa visi sehingga terlibat dalam beberapa arus gerakan, tapi sekilas hilang lagi kembali tenggelam bersama masa muda yang masih ingin berfikir bebas.

20160222_170616

Mengenal kiprahnya kembali adalah ketika berniat maju menjadi anggota legislatif dengan membawa RUU Desa sebagai alat kampanye pemenangannya dan disiarkan di salah satu TV swasta dan ketika ribut-ribut siapa yang lebih dulu menyebut RUU Desa antara Prabowo atau Budiman di tweet saya beberapa kali mengakui hal tersebut ketika membela pendukung Prabowo, dan buku anak-anak revolusi inilah yang membawa saya untuk serius membandingkan antara apa yang saya baca dengan apa yang saya lihat (hanya bisa melihat karena belum bisa mengenalnya secara langsung jadi ini murni subjektivitas pribadi dari tampilan di TV)

Secara pribadi melihatnya buku anak-anak revolusi adalah sebuah perjalanan tentang bagaimana janji itu dibuat, dengan siapa dan untuk siapa janji tersebut, begitulah secara garis besar yang terlihat ketika membaca buku 1 dan buku 2 ini.

***
Janji terhadap sebuah keadaan

Masa kecil seorang Budiman membawanya prihatin pada kondisi yang ada, andai saja tidak pernah melihat Mbah Dimin yang tergantung terkulai, melihat secara nyata penderitaan para buruh tani di Majenang, atau kondisi teman-temannya yang hampir tidak pernah merasakan telur asin, mungkin Budiman bukanlah yang dilihat sekarang, dia hanya akan jadi tokoh borjuasi yang rapi dan patuh pada pemerintah bahkan mungkin ikut korupsi seperti beberapa kasus teman separtainya.

Tapi tidak, Budiman kecil akrab dengan kondisi kemelaratan yang didukung pula atas pengetahuan pribadi yang ditimba dari buku-buku berat yang bukan untuk anak seumurnya, saya meyakini bahwa walaupun suka membaca buku yang mungkin merupakan hobinya tidak mungkin akan seprogresif ini jika dibesarkan dilingkungan Kota Bogor, mungkin benar jadi anak yang sangat pintar tapi tidak dengan tindakan. mengapa? karena patron berpikirnya adalah masyarakat tani dan ketika membandingkan dengan kondisinya yang berkecukupan dia tidak akan melihat kontradiksinya di Bogor, sehingga keadaan itulah yang membawanya ke perlawanan.

***
Janji terhadap sosok ibu

Jika membaca secara utuh dua buku Anak-anak revolusi, kita pasti akan sepakat bahwa buku ini terbagi atas 4 fase besar yaitu : Sebelum ditangkap, ditangkap dan dipenjara, kuliah dan proses dan hasil menjadi anggota legislatif. dan alur maju mundur yang menjadi ciri khas dua buku ini, saya kira di buku pertama memakan banyak sitaan untuk fase 1 dan fase 2, sementara fase yang ketiga, kuliah adalah membayar sebuah kegagalan sekaligus melunasi janji untuk melanjutkan sekolah bahkan di altar ilmu tertinggi Cambridge.

Dan menjadi seorang Budiman sebenarnya tidak hanya akan menarik pada sosoknya seorang saja, apabila sosok ibunya adalah ibu kebanyakan pastilah si Iko (sapaan kesayangan Budiman) hanya akan ditelpon terus menerus ditanyakan kapan lulus dan mengancam tidak akan mengirimkan uang bulanan jika masih beraktivitas yang melawan pemerintah. si Iko pasti akan disuruh pilih nyawa ibunya atau aktivitasnya (hal ini masih banyak terjadi juga di angkatan kami kuliah) dan apabila itu terjadi Budiman bukanlah seperti yang kita kenal.

Kehebatan dan kekuatan seorang Ibu juga terlihat ketika ibunya membakar buku-buku aliran keras yang dimiliki Budiman hanya karena tidak ingin anaknya dihukum lebih lama, yang lebih menarik ungkapannya si Ibu bilang ” masih mending kamu ditangkap, jadi ibu bisa tahu kamu ada dimana dan bisa ibu kunjungi, daripada kamu bersembunyi dan ibu tidak tahu kamu sudah mati atau belum”, saya yakin tidak banyak ibu seperti ini, mereka yakin anaknya benar, membelanya dihadapan masyarakat yang termakan isu buatan pemerintah, dan kuat serta rela anaknya dipenjara, membayangkan kalau itu terjadi pada saya mungkin ibu saya akan memaksa untuk keluar dari aktivitas yang saya geluti karena takut keluarganya juga terancam, atau mungkin akan seperti Ibunya Dita yang meminta laporan anaknya dicabut karena rongrongan seorang anggota DPR dari PDIP yang melakukan pemukulan,  Perjalanan sebuah janji karena putus sekolah dari ekonomi UGM akhirnya dilanjutkan di Inggris.

***
Janji merawat republik

Ketika lulus dari Cambridge, masuk PDIP dan diberi PR oleh Megawati adalah perjalanan menemukan simpul-simpul apa yang diperjuangkan, bertemu dengan teman-teman lama dan terhubung dengan Bandung Fe Institute serta akhirnya menemukan RUU Desa sebagai hal yang ingin diperjuangkan adalah satu bentuk janji terhadap republik yang tersusun dalam puzle-puzle masa kecil, masa sekolah, masa perlawanan, masa dipenjara, masa kuliah semua terhubung jadi satu kesatuan yang mencirikan seorang Iko disudut dewasanya, membela dan merawat republik dari sisi idealisme yang bisa diperjuangkan walaupun saya yakin masih banyak kelemahan dan mulai kelihatan ketika PDIP menang Pemilu

Dengan posisi seperti ini seorang Budiman hanya bermain di sisi aman atas perjuangan idealisme awal yang dibawa ketika masuk PDIP, jadi anggota DPR dua periode dan selama hal itu tidak diusik oleh partai saya yakin hubungannya akan langgeng. tapi entah sampai kapan karena merawat republik kalau mas Budiman sependapat sistem kepartaian yang masih dihegemoni orang tua suatu saat harus juga hilang dan berganti pada sebuah era baru

Buku ini punya banyak kelebihan, bagi orang yang ingin belajar tentang sebuah revolusi progresif bahan bacaan yang dicuplik sedikit-sedikit didalamnya merupakan nutrisi yang sangat bergizi pada pemahaman kita, kalau membaca dari awal dan mau merunut satu persatu serta ikut mengumpulkan, membaca sampai habis rentetan buku-buku yang disebutkan dalam ceritanya saya yakin kita akan punya pemahaman yang sama akan tetapi mungkin yang membedakannya adalah personal orang yang membaca mau melakukan atau sekedar jadi cloud dalam ruang pikiran masing-masing

Perdebatan antara penyidik dengan Budiman ketika diinterogasi semacam penjelasan tata negara, hukum dan politik secara bersamaan yang disampaikan model buku Dunia Sophie atau Tapak Sabda dalam menjelaskan filsafat, sangat renyah dan bermutu, dan kalau mau belajar tentang cinta ya buku ini juga bisa jadi pedoman sisi romantis aktivis dan diakui atau tidak kebanyakan aktivis yang jago debat memang susah paham dengan pola pikir perempuan, ya semacam cerita manusia Mars itu, hehehe.

Kelemahan buku ini adalah gaya bercakap-cakapnya, dalam pertemanan yang akrab antar orang per orang bahkan orang yang baru kenal pun saya yakin akan gak mungkin menyebut namanya secara utuh, semisal “kamu mengambil topik riset apa, Yoga?” atau yang lain lagi ” Tenang saja Nadya, jangan sedih….. ” lain lagi bilang “Gaklah nadya, kalau lihat karir….” agak kurang nyaman dibeberapa bagian seharusnya dipersingkat saja tapi saya agak kurang tau bagaimana Budiman menyebut nama-nama temannya apakah nama utuh atau disingkat, karena kalau dialog temannya mereka menyebut budiman hanya dengan Bud, siapa yang ngerti ?

Mungkin gitu dulu kita komentarinnya, nanti nunggu buku ke-3 baru bahas konstruksi teorinya hehehe. salam.

Iklan


Kategori:book

Tag:, , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: