7 Hal yang bisa memenangkan Yusril di Pilkada DKI

Menarik sekali berita dari kemarin, mulai dari kasus Mirna sampai tiba-tiba seorang Yusril Ihza Mahendra memutuskan turun gelanggang masuk dalam bursa pencalonan Gubernur DKI 2017, menarik memang seorang ahli hukum ternama yang banyak memenangkan kasus besar termasuk masalah SP3 kasus Sisminbakum yang menjeratnya beberap waktu lalu yang dimenanginya dengan pertarungan di pengadilan.

Ahok_Yusril

Pertarungan anak Belitung di jakarta ini memang menarik untuk ditunggu, setelah kakak Yusril mampu mengalahkan adik dari Ahok, apakah bisa kemungkinan Yusril mampu mengalahkan kakaknya yang juga petahana, berbagai macam analisis pun mulai berseliweran, dukungan kiri kanan juga sudah mulai mengarah dimana beberapa partai besar siap untuk mencalonkannya,

Yang sedikit menarik juga Yusril dianggap sudah redup, kegemilangannya hilang ditelan beberapa tahun belakangan, hanya ketika kasus besarlah beliau mampu berbicara banyak dan bahkan bisa dibilang mengKo-kan lawannya, termasuk kementerian hukum dan ham yang kalah dalam kasus golkar. Dia dianggap barang lama dan tak pantas untuk turun gelanggang lagi mengingat partainya juga redup ditelan zaman. Tapi dalam politik tidak ada perhitungan seperti itu dan semuanya bisa dibalikkan dengan hanya sekejap, mungkin masih bisa diingat bagaimana seorang Jokowi mampu mengalahkan seorang petahana seperti Foke padahal dua bulan sebelum pemilihan hasil survey berkata lain.

Membaca itu menarik kita melihat pertarungan ini akan sampai bagaimana tapi bagi saya pribadi ada alasan menarik mengapa seorang Yusril bisa mengalahkan Ahok

HANYA ADA PERTARUNGAN YUSRIL VS AHOK

pilkada jakarta 2012

Secara umum pertarungan politik antara dua klan ini bisa sangat seru apabila hanya mereka berdua calonnya, karena jika berkaca pada pilkada tahun 2012, suara pada putaran pertama jika di kalkulasi menjadi tiga poros besar agar signifikan adalah :

  1. Jokowi Ahok : 1.847.157 suara
  2. Foke Nara     : 1.476.648 suara
  3. Gabungan suara calon lain : 1.012.699 suara

Hal ini menunjukan bahwa apabila hanya ada dua calon yang bertarung bila berkaca pada hasil tersebut maka bila Ahok mempunyai pemilih loyal yang masih sama jika saat berpasangan dengan Jokowi, maka Yusril punya peluang terhadap pemilih sekitar 2.5 juta suara sisanya, apakah itu bisa? menurut saya hal itu bisa saja. Walaupun memang Ahok punya peluang besar menggulung keseluruhan suaranya bila hal itu hanya dilihat pada perspektif ketenaran mereka berdua, Ahok jauh lebih tenar dibanding Yusril

AHOK BUKANLAH JOKOWI, BISA DIBILANG SANGAT JAUH

Berkaitan dengan ketenaran tersebut pada poin pertama hal tersebut masih bisa kita sanggah secara terbuka, karena apabila Ahok maju sendiri ketika 2012 bisa dipastikan tidak akan mendapatkan pemilih. Kemenangan Jokowi-Ahok di Jakarta tersebut adalah settingan besar bagaimana Jokowi agar bisa menjadi RI-1  dimana settingan tersebut dilakukan secara bertingkat dan tidak kita sadari membius kita semua, mulai dari mobil asemka, perpindahan PKL di Solo dan lain-lain. Secara tidak sadar hal tersebut membombardir mindset kita tentang Jokowi waktu itu, sedangkan Ahok? bukanlah siapa-siapa waktu itu.

Apakah ada settingan besar tentang Ahok dimasa depan? saya kira mungkin-mungkin saja bakal digadang-gadang akan jadi Capres di 2019, bisa saja akan tetapi apakah settingannya sebesar Jokowi? saya kira sangat berbeda jauh.

PENGARUH PARTAI PENDUKUNG

Partai politik walaupun kita benci, dimaki tiap hari akan tetapi diakui atau tidak dia merupakan komponen demokrasi, dia punya pemilih loyal yang akan selalu membela dan hal itu bisa dilihat pada pilkada DKI 2012 hanya Faisal-Biem calon independen yang bisa mengalahkan calon partai, itupun yang dikalahkan adalah partai golkar yang kekuatannya sangat melemah sejak Aburizal Bakri yang memimpin.

Apabila Yusril bisa mengambil dukungan dari Partai Besar semacam Gerindra, PKS, PKB, PAN, Demokrat bahkan Golkar. saya rasa hal tersebut bukan mustahil akan mempunyai suara menyamai minimal perolehan Foke-Nara dan tinggal berebut masa di 1 juta suara berikutnya.

RASIONALITAS PEMILIH JAKARTA

Pemilih Jakarta adalah salah satu tempat pemilihan yang cukup rasional di negeri ini, mereka tidak lagi melihat hasil survey atau ketokohan seseorang bahkan orang tersebut sering muncul di TV atau tidak, akan tetapi bagaiman track record mereka serta bagaimana model kampanye yang dilakukan calon mereka pasti bisa terpikat, dan peluang Yusril bisa lebih maksimal apabila mampu menggerakan anak muda melebihi seperti yang dilakukan Jokowi-Ahok pada saat pilkada 2012 lalu

TIDAK SEMUA WARGA JAKARTA SUKA AHOK

ktp ahok

Semua warga Jakarta apakah suka Ahok? screenshot diatas adalah gambar yang saya ambil sore tadi di situs Teman AHOK dan sampai saat ini setelah mungkin hampir setahun mereka jalan jumlah KTP yang didapatkan oleh mereka hanya sekitar 666.342, masih sangat jauh dari 1 juta KTP, ini menunjukan bahwa tidak semua suka dipimpin sama Ahok dan pasti banyak pula suara-suara sumbang tentang kepemimpinannya. Dan apabila masih berpikir Ahok adalah calon yang sangat kuat menurut hasil survey kita harus menelaah ulang bahwa dilapangan hal tersebut tidaklah sama dengan apa yang ditampilkan media.

TINGGINYA SUARA GOLPUT

Perlu kita ketahui bahwa suara Golput pada pemilihan putaran 1 di pilkada DKI tahun 2012 lalu mencapai 2.5 juta suara dan angka tersebut turun sebesar 200 ribu suara menjadi sekitar 2,3 juta suara. masih sangat besar dan peluang calon-calon lain untuk mengalahkan Ahok juga pasti besar, hanya perlu strategi jitu bagaimana bagaimana agar pemilih golput tersebut bisa beralih untuk mendukung orang lain selain Ahok, yaitu mendukung Yusril sebagai DKI 1

PENGALAMAN

Pengalaman dunia politik Yusril bukanlah hal yang mudah dientengkan, dan saya boleh bilang jangan sekali-kali dientengkan, kemerosotan PBB pun tidak bisa kita kategorikan sebagai kegagalan politik akan tetapi kekalahan kapitalnya lah yang menyebabkan partai ini terus turun, bahkan disaat petinggi partai lain semakin memperkaya partainya ketika mereka menjadi menteri hal tersebut tidaklah dilakukan oleh seorang Yusril yang seliweran beberapa kali menjadi menteri di beberapa presiden.

Apakah di zaman Jokowi, Yusril tidak mendapat tawaran menjadi menteri? saya kira kita jangan berandai-andai terlalu besar bahwa beliau sudah redup, saya yakin beliau menolak tawaran Jokowi.

Dibalik itu semua, saya punya pengalaman ketika menjadikan orang yang karir organisasi mahasiswanya sudah redup, tapi dengan satu sentakan dia berbalik menang dan bahkan karirnya makin gemilang.

Dalam politik, dunia itu tentang kepentingan, tapi kadang kejujuran dalam bersikap dan bertindak itu mudah dibaca oleh pemilih menjadi satu kebaikan.

Iklan


Kategori:birokrasi

Tag:, , , , , ,

1 reply

  1. Bakalan seru nih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: