Belajar kehidupan dengan menuju puncak with Brother Kost

Ketika motorku masuk pelataran kostan di sudut sempit daerah petojo, kudapati beberapa kawan sudah menunggu, menata beberapa barang didalam tas mereka, selebihnya yang lain masih didalam kamar bersiap untuk perjalanan kami malam itu, dan sisanya menunggu didepan, ada beberapa teman kami yang belum datang, Ini hari Jumat dan memang wajar saja ini sore tersibuk di Jakarta, dan kami cukup memaklumi jika ada yang telat.

Seperti yang pernah aku ceritakan di blog pribadiku yang lama tentang keriuhan kostan kami Brother kost bahwa disalah satu sudut kota Jakarta masih ada kostan yang sangat manusiawi dan penuh dengan rasa kekeluargaan, kami buktinya dan saya ingin bercerita tentang kisah kami yang lain, sebuah perjalanan kami menuju puncak.

***

Sudah lama sekali kami merencanakan ini, mencari hari memastikan beberapa teman kostan bisa ikutan atau tidak sampai dengan mencari penginapan yang murah meriah dan cukup buat kami semua didapatlah hari itu 24 Oktober 2014 kami sepakat untuk berlibur di puncak Bogor dengan mengendarai motor, saya juga sepakat dengan hal ini karena saya gak terlalu suka berdesak-desakan didalam mobil juga saya sering jadi traveller dengan motor beberapa kali, dan tepat pukul 9 malam, perjalanan inipun kami mulai yang tidak lupa kami mulai dengan berdoa bersama terlebih dahulu (dokumentasi berdoanya saya gak megang, soalnya saya berdoa..masak berdoa sambil motret)

Perjalanan kami ke puncak melalui rute Pondok Indah-Lebak Bulus-Ciputat-Pamulang-Parung-Bogor yang awalnya kami mau mengambil rute Cililitan-Jl. Raya Bogor-Cibonong-Bogor aja akan tetapi karena masih ada teman yang menunggu didepan UIN Ciputat, kami putuskan untuk lewat rute tersebut dan memang jalurnya lebih macet daripada lewat Jl. Raya Bogor sih, belum lagi ada teman yang mengeluh bannya bocor akan tetapi setelah dicek eh hanya kekurangan angin dan memang kebukti sampai puncak pun motornya dia gak kempes lagi setelah ditambah angin.

IMG_20141025_003024

Sejenak Melepas lelah ketika sampai Bogor

Begitu kami masuk Bogor dan beristirahat sejenak, kami baru sadar ternyata banyak juga yang ingin berlibur kepuncak dengan mengendarai motor dan membuat perjalanan ini bergitu berwarna, walaupun memang kami harus mengalami macet sebentar di Simpang Gadog tapi itu tidak lama, dan memang mungkin karena keesokannya libur tahun baru hijriah maka perjalanan kami kepuncak agak sedikit lambat karena memang ramainya perjalanan tapi saya nikmatin banget, sekitar jam 3 pagi kami sampai di villa dan langsung ambruk kecapean menunggu petualangan kami selanjutnya esok hari.

Keesokan paginya, sang EO perjalanan si Ratman membangunkan kami untuk segera sarapan, mandi dan bersiap untuk memulai liburan yang sesuai dengan list kami hari itu kami akan mengunjungi 3 tempat sampai sore, ada Curug Cibereum, Litle Venice dan Taman Bunga Nusantara dan sesuai kesepakatan kami sepakat untuk ke Curug Cibereum terlebih dahulu. dan ternyata kami tidak menyadari ini sebuah kesalahan.

DSC_0815

pose sejenak di Pintu Masuk

Kami tidak menyadari sepenuhnya kalau Curug Cibereum itu adalah sebuah air terjun yang harus didaki terlebih dahulu sebelum dinikmati, pikir kami itu hanyalah sebuah air terjun dan kami datang, parkir motor, datang air terjun, foto-foto terus langsung pulang,ternyata oh ternyata Air terjun tersebut berada di ketinggian 1.675 MDPL (ini sesuai dengan yang ada di Wikipedia disini dan kami harus jalan kaki kesana.

***

Setapak demi setapak kami lalui, terdengar banyak langkah orang lain yang naik dan turun melewati kami, kami kelelahan dan fisik kami tidak siap untuk berjalan sejauh ini, langkah kami yang awalnya riang dan tertawa mulai senyap di pertengahan jalan. kami mulai rindu untuk berada dibawah akan tetapi perjalanan ini sudah setengah dan untuk mundur  seperti akan menanggung penyesalan untuk tidak sampai ke puncak. kesalahan kami pula adalah menganggap ini perjalanan biasa dan tidak akan menguras banyak tenaga ternyata rasa haus dan lapar terasa sangat cepat mendera, dan teriakan-teriakan konyol para pendaki yang sudah turun dan melihat kami kelelahan menjadi alasan magis kami untuk tetap menantang pendakian.

“Semangat-semangat di atas ada Indomaret ” atau ada lagi teriakan “diatas ada seven eleven, ada tukang bakso” menjadi bayang-bayang yang mengenakan walaupun kami ragu apakah memang ada atau tidak, tapi kami tetaplah terus berjalan dan obat kami di kelelahan itu adalah smartphone, DLSR yang menjadi sasaran untuk memuaskan kami berselfie dan haus atas pemandangan alam.

Mosaik foto diatas mungkin bisa sedikit menggambarkan perjalanan kami, ketika kami mulai dengan tertawa senyum dan riang gembira mulai sedikit habis ketika pertengahan jalan, tapi inilah perjalanan kelelahan bukan alasan untuk mundur dan menunggu manis dibawah sampai teman-teman kembali dari pendakian, justru disaat itulah kita bisa tertawa ketika sampai dipuncak, kembali bergembira dan mengatakan kepada dunia bahwa ini kemenangan kami.

DSC_1076

kami sampai Yeayyy..

Tapi diatas semua itu diantara kegembiraan dan kelelahan membuat saya sedikit berpikir dari hikmah dari semua yang didapat dari perjalanan kepuncak ini adalah sebuah miniatur dari  jalan kehidupan

*

Bahwa perjalanan menuju puncak kami yang kami alami adalah sebuah bentuk manusia yang ingin berjalan keatas, menemui rintangan dan maju lagi, bahkan ketika teman kami Sandy yang ban sepedanya kempes dan hanya diisi angin pun kami siapkan dia ada ditengah rombongan kami dan apabila kejadian dia terulang maka akan gampang diantisipasi, atau ketika ada teman kami yang sudah tidak kuat dan Ratman yang sudah ada jauh didepan memutuskan turun untuk memegang tangannya dan membawanya bersama kembali untuk melanjutkan perjalanan. kami jadi belajar tentang sebuah hidup dalam berkelompok dan kami adalah orang-orang yang sedang menuju kepuncak kami masing-masing karena kami berasal dan bekerja dengan berbeda-beda dan untuk menuju puncak itu kita selalu butuh teman yang akan selalu ada setiap saat dan akan selalu ada teman-teman yang menguatkan bahu ketika kita lelah dan membimbing kita agar selalu kembali ke jalur puncak kehidupan kita.

**

Perjalanan ini juga tentang sebuah kegigihan dalam berniat, bahwa ketika tujuan kita disitu maka akan kita tuntaskan walaupun kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan, bayangkan apabila kita berhenti ditengah jalan karena mengetahui medannya sesulit itu, kita bakal tidak akan tahu bahwa kita akan bersenang-senang ketika sampai keatas, begitulah juga hidup kita tidak akan tahu apa yang akan kita hadapi tapi ketika  memutuskan maju maka segala segala resiko akan kita ambil walaupun jalannya terjal, susah dan membuang banyak tenaga tapi dibalik itu akan ada kebahagiaan yang menunggu.

***

Kami juga jadi belajar tentang kelelahan, bahwa dalam hidup setiap apa yang kita teguk setelah berusaha adalah salah satu titik kenikmatan yang membawa kita kepelajaran, setelah kami lelah berjalan naik dan ketika turun pun seperti itu kita seperti diburu untuk segera sampai kebawah dengan rasa haus dan lapar yang sepertinya sudah sangat menyiksa, ingin membaringkan badan sejenak untuk meluruskan otot-otot yang kelelahan, dan saat itu kita tidak butuh minuman yang mahal dan enak atau makanan mahal dari restoran ternama, dengan hanya bertemu air mineral dan gorengan kita seperti sudah bertemu surga, dan kita harusnya jadi belajar bahwa kebahagiaan itu sebenarnya murah hanya seharga air mineral dan sepotong tempe goreng.

DSC_1102

Kelelahan ditukang gorengan

Aku menunggu untuk bisa merasakan arti kehidupan seperti itu lagi, entah kembali dengan Brother Kost atau dengan Brother-brother lain yang berada dibelahan bumi manapun, mari kita belajar tentang kehidupan dari perjalanan kemanapun.

Iklan


Kategori:travelling

Tag:, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: