Mengokohkan sebuah keyakinan

IMG_20160104_172551

Apa yang kita pikirkan dengan gambar yang ada diatas ?

Bahwa bagaimana seekor kerbau yang besar dituntun dengan tali oleh seorang anak kecil, binatang tersebut terpenjara dengan mudah karena dikalahkan oleh keyakinan dirinya sendiri, orang yang mengambil foto ini berkata ” yang kokoh itu bukan talinya tapi keyakinan” dititik ini kita melihat kerbau ini adalah binatang yang kalah dan mengatakan dan mensugesti dirinya sendiri bahwa dia akan terkekang selamanya maka terkekanglah dia, walaupun oleh seorang anak kecil yang secara nalar gampang dihempaskannya dengan mudah.

danny_the_dog___jet_li_by_fionat77-d38u6x5

Bagi pecinta film Jet Lee pasti juga tahu dengan film “Danny The Dog” yang menceritakan kisah seorang Danny yang dididik sejak kecil sebagai anjing mulai cara makan, cara jalan bahkan dilatih untuk menjadi tukang pukul yang ketika dilepaskan maka dia akan menjadi seorang anjing yang siap membela ketika tuannya didalam masalah, itulah sugesti yang ditanamkan padanya sejak kecil.

Dua analogi diatas sebenarnya menyinggung sisi rapuh dari jiwa kita yang dapat disetir oleh apa yang didengar, seperti apa diperlakukan, apa yang dilihat,  ketika hal itu ditanamkan sejak kecil hingga dewasa. itulah mengapa ketika orang yang dari desa masuk ke kota akan merasa janggal bahkan terasa asing dengan apa yang dilihat, dirasakan selama dia berada ditempat asalnya, hal tersebut sebenarnya juga berlaku apabila ada anak kota masuk desa, dia akan terasa asing akan tetapi bentuk keasingannya sangat jauh berbeda dan dia hanya cukup membandingkan sedikit dan tak lama pasti akan terbiasa.

Mengapa itu pulalah mengapa kita perlu mengokohkan keyakinan, dalam piskologi kita mengenal itu sebagai kondisi mental atau psikologis seseorang, dimana individu dapat mengevaluasi keseluruhan dari dirinya sehingga memberi keyakinan kuat pada kemampuan dirinya untuk melakukan tindakan dalam mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya.

Jadi sebenarnya apakah kita sudah memiliki keyakinan? bahwa keyakinan itu sendiri sebenarnya bisa sebabkan oleh banyak faktor, semisal pengalaman yang dialami diri sendiri akan menguatkan ketika dia berhadapan dengan hal yang sama, beda dengan yang belum pernah mengalami situasinya pasti akan terasa janggal dan bisa jadi salah. Ada satu cerita unik yang saya alami ketika saya mengikuti lomba bidang studi tingkat SD di kecamatan yang saya menangi sekitar tahun 1997, kebetulan saya mewakili bidang IPS dan hanya saya yang lolos ke tingkat kabupaten dan untuk merayakan hal tersebut guru pendamping kami mentraktir kami makan Es Pisang Ijo di samping sekolah kecamatan (kami berasal dari desa dan jarang sekali ke kecamatan) dan karena nenek saya ada dikecamatan maka saya sering mampir ke warung itu atau itu merupakan menu kami ketika buka puasa dan sudah sangat biasa, tapi ada beberapa teman kami yang sama sekali belum pernah makan es pisang ijo, sehingga ketika makanan tersebut dihidangkan dengan Es kotak-kotak kecil diatasnya dan mengeluarkan asap, serentak beberapa teman saya yg belum pernah makan itu langsung meniupnya, ketika ditanya mereka menjawab ” masih panas, itu asapnya masih banyak” padahal kalau es ditumpukkan banyak juga pasti akan keluar asap. Kamipun tertawa 😀 bagaimana tidak, makanan yang dingin ditiu agar menjadi dingin. disinilah kayakinan kadang dibangun oleh pengalaman diri pribadi.

Faktor lain yang dapat menumbuhkan keyakinan adalah pengalaman orang lain yang diceritakan dan menimbulkan persuasi verbal, semisal orang yang belum pernah naik pesawat ketika diceritakan oleh yang sudah pernah, ceritanya bohong pun jadi sebuah kebenaran. Semisal waktu saya pertama kali naik pesawat di tahun 2004 ketika lulus SMA, saya dilarang untuk ke Bandara untuk pakai celana pendek  karena bakal ditangkap padahal saya orangnya gak suka formal pengennya naik pesawat pakai celana jeans pendek dengan baju kaos, ketika sampai bandara dengan celana panjang, sepatu dan baju lengan panjang barulah saya sadar bahwa saya salah, karena banyak sekali orang yang naik pesawat bahkan dengan pakaian biasa.

Akan tetapi persuasi verbal juga berlaku ketika kita bertemu dengan orang yang sangat baik dan bahkan terbaik dibidangnya, hal ini akan membuat kita sangat percaya dan yakin apa yang kita lakukan benar dengan pola persuasi yang ditanamkan, ini bisa jadi tergantung apa yang masuk kedalam pikiran kita dan apabila tidak disaring maka akan bisa saja menyebabkan kita lari kearah negatif.

Tapi dari kesemua hal itu sebenarnya adalah naluri kita, bagaimana kita memfungsikan faktor fisiologis yang kita punya karena itu adalah hal yang paling utama untuk menyaring semua apa yang kita alami, apa yang orang alami bahkan yang orang lain katakan untuk menjadi keyakinan diri pribadi kita.

Iklan


Kategori:life

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: