Kafirkah Islam merayakan Tahun Baru

Tahun baru baru saja berlalu beberapa hari yang lalu, banyak orang yang merayakannya diberbagai belahan bumi ini, berbeda suku bangsa dan agama merayakan pergantian tahun kalender ini. Tetapi layaknya dalam beberapa tahun belakangan ini sebagai muslim saya pun mengamati perbincangan haram atau tidaknya merayakan tahun baru. termasuk

index

Dalam hadits Rasululllah SAW pernah bersabda :

Dari Anas dia berkata; “Rasulullah SAW datang (berhijrah) ke Madinah, sedangkan mereka (penduduknya) memiliki dua hari khusus yang mereka bermain-main padanya. Maka beliau bersabda: “Apakah maksud dari dua hari ini?” mereka menjawab; “Kami biasa mengadakan permainan pada dua hari tersebut semasa masih Jahiliyah.” Maka Rasulullah saw bersabda; “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan (hari) yang lebih baik daripadanya, yaitu hari (raya) Iedul Adha dan Iedul Fithri.”(Dilkeluarkan oleh Abu Dawud dan An-Nasai dengan sanad yang shahih, Bulughul Maram: 108 no.524).

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa dua hari tersebut adalah hari Nairuz dan Mihrajan, walaupun di dalam hadits tersebut tidak diterangkan secara jelas dua hari apa itu, dan perlu digaris bawahi kejadian tersebut hanya terjadi pada saat Rasulullah SAW berada di Madinah, secara tidak langsung yang melakukan dua kegiatan itu adalah Kaum Anshar dan leluhurnya, kenapa hadits itu tidak terjadi pada saat Nabi Muhamad SAW berada di Mekkah yang dimana penanggalan kalender saat itu menggunakan Kalender Syamsiah dan sudah berlaku diseluruh dunia kalender yang menggunakan perhitungan matahari? mengapa tidak sejak di Mekkah hadits tersebut terjadi? Toh kondisi Mekkah saat itu lebih parah dari Madinah, jikalau kaum Kafir Quraisy sudah melakukan ritual tersebut sejak dahulu maka otomatis seharusnya sudah ada pelarangan, Wallahu Allam.

Tapi Okelah kalau banyak yang menghubungkan itu dengan Nairuz dan Mirhajan mari kita bahas bagaimana Nairuz dan Mirhajan itu

Nairuz

Nairuz adalah Hari pertama pada tahun syamsiyyah (Masehi), dan dia adalah termasuk hari raya bangsa Persia (Iran). (Catatan Kaki Al-Balaghah Al-Wadhihah: 188)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan:
“Dan dia (Nairuz itu) adalah awal tahun syamsiyyah, sebagaimana awal bulan Muharram adalah awal tahun Qamariyyah. (‘Aun Al-Ma’bud, III: 341)
Neroz merupakan salah satu hari besar Persia. Kata Neroz sendiri secara etimologi merupakan bahasa Persia, dan diucapkan juga Nuruz, berarti hari baru.
Neroz merupakan awal tahun baru Persia. Hari raya Neroz sendiri merupakan salah satu hari raya tersbesar Persia (Iran). Hari raya Neroz adalah hari raya Majusi Persia milik Iran. Dan hari raya Neroz tampaknya lebih utama bagi orang-orang Syi’ah daripada dua dua ahari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Faktanya libur Neroz lebih panjang daripada masa libur kedua hari raya Islam tersebut.

Didalam perayaan tahun baru itu, Kaum Majusi menyalakan api dan mengagungkannya, karena mareka adalah penyembah api. Kemudian orang-orang berkumpul dijalan-jalan, halaman dan pantai.

Kisah perayaan mereka ini direkam dan diceritakan oleh al-Imâm an-Nawawî dalam buku Nihâyatul ‘Arob dan al-Muqrizî dalam al-Khuthoth wats Tsâr. Di dalam perayaan itu, kaum Majūsî menyalakan api dan mengagungkannya –karena mereka adalah penyembah api. Kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Orang-orang yang tidak turut serta merayakan hari Nairuz ini, mereka siram dengan air bercampur kotoran. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan.

MIHRAJAN

Sedangkan Mihrajan adalah hari raya musim rontok (semi)/musim antara musim dingin dan musim panas pada bangsa persia. (Mu’jam Lughah Al-Fuqaha) hari tersebut dijadikan hari raya, untuk bersenang-senang, bermain, bergembira, dengan berbagai acara hiburan, pesta pora dan sebagainya.

Itu adalah gambaran dari Hari Nairuz dan Mihrajan, dan marilah kita bertanya secara jujur, apakah benar hari pergantian kalender dari tahun ke tahun ada ritual yang seperti itu? Ada yang menari-nari sepanjang malam, saling mengguyur manusia dengan minuman keras? di Indonesia ada seperti itu? jawab secara jujur saja.

Orang yang hanya merayakan pergantian tahun, tidak minum Khamr dan tidak menyembah dan mengagung-agungkan api, disamakan dengan hal-hal yang buruk, hal yang buruk itu bisa terjadi kapan saja tidak perlu malam pergantian tahun.

Dan ada lagi ritual lain  yang dilakukan oleh orang terdahulu dalam merayakan Nairuz, Dalam perayaan ini mereka melakukan do`a dan upacara khusus dan begadang hingga tengah malam. Mereka habiskan malam mereka dengan menyanyi-nyanyi, menari-nari, makan-makan dan minum-minum sampai menjelang detik-detik akhir pukul 12 malam. Lampu-lampu dimatikan dan setiap orang memeluk orang yang ada di sampingnya, sekitar 5 menit. Semuanya sudah diatur, bahwa disamping pria haruslah wanita. Kadang-kadang mereka saling tidak mengenal dan setiap orang sudah tahu bahwa orang lain akan memeluknya ketika lampu dipadamkan. Mereka memadamkan lampu itu bukannya untuk menutupi aib, namun untuk menggambarkan akhir tahun mulainya tahun baru.

Sekarang mari kita bertanya dalam hati, ADA RITUAL KAYAK GITU DI DI INDONESIA? DISELURUH DUNIA YANG KATANYA BEBAS SAJA TIDAK ADA RITUAL SEPERTI ITU.

LANTAS MASIH KAH KITA MAU MENYAMAKAN NAIRUZ  ITU DENGAN TAHUN BARU KALENDER YANG DIRAYAKAN OLEH ORANG BIASA KAYAK KITA HANYA DENGAN TERIAK HORE ADA KEMBANG API..HORE ADA TEROMPET BUNYI.. CUMA KAYAK GITU DISAMAKAN DENGAN NAIRUZ ? JAUHHHHH BANGET BEDANYA..

TEROMPET YANG DIHARAMKAN.

Nah ada juga perdebatan yang sangat menarik tentang meniup terompet itu Haram karena Nabi Muhamad SAW mengharamkan hal tersebut. dengan memakai hadits berikut :

Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah anshor, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabipun tidak setuju, beliau bersabda :  ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pulang dalam kondisi memikirkan agar yang dipikirkan Nabi. Dalam tidurnya, beliau diajari cara beradzan”. (HR. Abu Daud, shahih)

Jika hadits tersebut diatas dibaca sekilas memang terlihat jelas bahwa Nabi mengatakan Terompet adalah perilaku orang  Yahudi, sebenarnya kita perlu membaca hadits lain yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Umarradhiyallahu ‘anhu saat beliau berkata,

“Dahulu kaum Muslimin saat datang ke Madinah, mereka berkumpul seraya memperkirakan waktu sholat yang (saat itu) belum di-adzani. Di suatu hari, mereka pun berbincang-bincang tentang hal itu. Sebagian orang diantara mereka berkomentar, “Buat saja lonceng seperti lonceng orang-orang Nashoro”. Sebagian lagi berkata, “Bahkan buat saja terompet seperti terompet kaum Yahudi”. Umar pun berkata, “Mengapa kalian tak mengutus seseorang untuk memanggil (manusia) untuk sholat”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Bilal, bangkitlah lalu panggillah (manusia) untuk sholat (adzan)”. (HR. Al-Bukhari nomor 604 dan Muslim nomor 377)

Ketika dibaca utuh dua hadits tersebut, terlihat jelas yang dilarang untuk meniup terompet adalah ketika perilaku meniup terompet dilakukan untuk mengingatkan/memanggil orang Shalat karena meniup terompet untuk memanggil orang beribadah itu dilakukan oleh kaum yahudi.

Kalau semua perilaku meniup terompet itu merupakan perilaku yahudi, kasihan dong orang yang di Drum Band sekolah bagiannnya dapat terompet, dia langsung di cap yahudi padahal kan cuma alat musik.

Dan lagian ingat Malaikat Israfil ? malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT meniup Sangkakala pada hari kiamat, dalam beberapa penjelasan secara ilmiah Sangkakala itu adalah alat tiup yang berasal dari kerang, tapi Disebutkan pula dalam salah satu hadist, sangkakala itu bagaikan tanduk dari cahaya, dengan ukuran yang sangat besar dengan garis tengahnya seluas langit dan bumi (alam semesta). Dalam hadist lain dikatakan sangkakala malaikat Israfil terbuat dari tanduk, “Tanduk yang ditiup”

Dan coba bandingkan dengan gambar dibawah ini :

meniup terompet

Pendeta meniup terompet yang terbuat dari tanduk

Sekarang bagaimana? kita hanya menilai akidah orang hanya dengan melihat tampilannya? melihat satu bentuk terompet lantas itu disamakan hanya untuk salah satu kaum, padahal terompet banyak digunakan untuk kegiatan lain.

Mari kita sama-sama dan terus belajar.

Note :

  1. Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk adik saya Annisa El Kamilia, saya tidak sedang membela Nairuz dan Mihrajan atau kaum agama lain dek, tapi saya hanya mencoba sedikit berpikir logis dari semua pertentangan agama kita yang mengklaim yang ini benar dan yang itu benar. Tahlil yang baik aja banyak yang membid’ahkan kok, Maulid Nabi juga di Bid’ahkan ada juga yang mengecam sistem Hisab ketika Awal Puasa dan Lebaran padahal selama ini melaksanakan shlat gak pernah pada mau lihat Posisi matahari udah Dhuhur atau Ashar apa belum tapi malah pakai Jadwal Sholat abadi yang dirancang dengan sistem hisab 😀 dan saya tidak mau terjebak dalam hal mengkafir-kafirkan orang, antara Kyai yang suka ceramah dan Pelacur yang jual diri di pinggir jalan saja kita tidak tau kok mana yang masuk surga duluan. (Piss ya dek, kalau masih berbeda lagi, mari kita sama-sama belajar terus aja dan sama-sama tau aja *Peluk )
  2. Tulisan ini saya rangkum dari berbagai sumber, saya tidak mau sok benar karena saya juga manusia yang banyak salahnya tapi Insya Allah tidak akan melunturkan akal sehat kita yang beriman.
Iklan


Kategori:life

Tag:, , , , ,

4 replies

  1. Saya tidak menyalahkan pendapat anda, tapi seharusnya dalam postingan tersebut anda juga mengkaitkan dengan hadis ini:
    Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    ‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan)

    Menyerupai orang-orang kafir adalah sesuatu yang terlarang dalam syariat, dan terdapat dalil yang shahih tentang larangan tersebut dalam hadits-hadits berikut ini :

    Dari Amr ibn Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

    لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ

    وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ

    “Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya” (HR Tirmidzi, hasan)

    Setidaknya coba anda pikirkan, apakah Nabi Muhammad pernah merayakan suatu hari dimana Beliau senang berhura-hura menyalakan kembang api?? Tentunya tidak, maka dari itu kita adalah umat muslim dan sudah sejak dulu hari raya kita adalah idul fitri dan idul adha, dan itu sudah diajarkan oleh Nabi kita. Setidaknya janganlah ikut-ikut memperingati tahun baru, karena memang Nabi Muhammad juga tidak pernah mengajarkan kita apa itu tahun baru. Setidaknya itu juga menghambur-hamburkan uang dan Allah sangat tidak suka dengan orang yang suka menghambur-hamburkan uang.

    Jika disimpulkan, perayaan tahun baru sama dengan perayaan mihrajan dan nairuz, beda tipis lah, dan jika disangkutkan dengan hadis di atas maka itu tidak diperbolehkan karena menyerupai kaum tersebut

    Suka

  2. Semakin terbuka lagi wawasanku…
    Itu mengapa kita dianjurkan banyak membaca ya
    Terima kasih, Mas

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: