Islam dalam logika

Membicarakan Islam memang tidak akan pernah ada habisnya, sebagai satu agama yang sangat besar bahkan yang paling besar di dunia menjadikannya sangat disayangi tapi tidak sedikit juga yang membenci. tidak aneh memang karena sebagai manusia kita diciptakan untuk mempunyai mindset masing-masing ataupun juga bisa saling mengikuti antar mindset. begitu juga dengan apa yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini, hanyalah sebuah mindset berpikir diantara ribuan bahkan jutaan mindset yang lain bahkan banyak yang sudah berkembang beranak pinak menjadi satu golongan tertentu.

mualaf-ilustrasi-_120620134442-591

Locke telah menyatakan pemikiran ini di abad ke-17, ketika ia menulis: “Tuhan tidaklah demikian acuh terhadap manusia sehingga Ia membuatnya menjadi sekedar mahluk berkaki dua, dan kemudian menyerahkan tugas membuat mereka rasional kepada Aristoteles.” Di balik Logika, menurut Locke, berdirilah “satu kemampuan naif untuk menangkap koherensi atau ketidakkoherenan dari salah satu idenya sendiri, kemampuan kita untuk menangkap fenomena-fenomena merupakan satu proses jangka panjang.

Lebih lanjut, Margaret Donaldson melalui The Origins of Inference, yang muncul dalam antologi Making Sense mengatakan “Logika verbal sering muncul tentang ‘keadaan-latar’ [state of affairs] – dunia ini dilihat sebagai hal yang statis, di dalam jaring-jaring waktu. Dan dengan pertimbangan semacam ini, alam semesta nampaknya tidak mengandung ketidakcocokan: segala sesuatu adalah seperti adanya. Objek yang di seberang sana adalah sebatang pohon; mangkuk itu berwarna biru; orang itu lebih tinggi dari orang yang ini. Tentu saja berbagai keadaan-latar ini menghalangi munculnya berbagai keadaan-latar yang lain, tapi bagaimana kita tahu tentang hal ini?

Begitu pula dalam konteks logika yang akan coba saya perlihatkan, bahwa ketika ramainya orang membahas ucapan selamat natal boleh atau tidak, memakai topi santa boleh atau tidak bahkan, meniup terompet di malam tahun baru juga dikatakan menjadi satu kaum tertentu, begitu mudahnya dikatakan hal tersebut keluar dari bibir manusia yang notabene merupakan makhluk pemikir paling sempurna yang diciptakan Tuhan, bahwa saya meyakini dengan logika bebas saya bahwa penggunaan hadits

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031)

Tidaklah untuk mencap orang lain kafir dan tidak, bayangkan secara normal saja semisal orang yang Shalatnya rajin, sedekahnya rajin suatu ketika diajak oleh anaknya untuk merayakan tahun baru dan meniup terompet saja dikatakan dia mengikuti kaum yang lain,

Tapi hal ini bagi saya berbeda lagi konteksnya ketika banyak orang yang merayakan pergantian tahun dengan berbuat yang maksiat, semisal dalam satu lingkungan mereka merayakan malam tahun baru dengan minuman keras, dan karena tidak ingin dikatakan kampungan maka dia ikut-ikutan untuk melakukan perbuatan tersebut.

Coba kita bandingkan dua analogi pada dua paragraf sebelumnya, ada dua kontradiksi yang sangat jelas, bahwa semisal yang banyak terjadi adalah orang yang menghabiskan malam pergantian tahun dengan hanya berkumpul bersama teman-teman, bakar-bakar ikan, nyanyi-nyanyi tanpa adanya satu perbuatan maksiat dan ketika malam pergantian tahun mereka bergembira dan menyambut optimis tahun yang akan datang haruskan kita mencap mereka mengikuti kaum yang lain? sementara ada hadis lain mengatakan “Innamal a’maalu bin niyyah”,

Semisal kalender yang di ikuti oleh dunia adalah kalender masehi yang pembuatannya didasarkan pada tahun kelahiran Al-Masih, dan kita sebagai muslim walaupun punya kalender Hijriah tapi tidak bisa menjadi patokan karena tidak berlaku secara global apakah kita bisa dikatakan kaumnya Al-Masih ?

Saya yakin tidak. semua itu tergantung pada niat kita, toh itu cuma penanggalan, sama seperti ngucapin selamat natal pada Saudara kita yang Nasrani, dimana letak mengikutin kaumnya..toh niatnya hanya mengucapkan saja dan tidak merayakannya..atau para pegawai supermarket yang memakai topi santa untuk keperluan bekerja dan sesuai dengan tema dalam hal untuk menarik pengunjung, karena apabila omset turun mereka juga tidak akan mendapatkan kebutuhan gaji dan fasilitas lain, dan lagi-lagi dengan logika bebas saya, tidak berhubungan antara hanya dengan memakai sementara atribut tahun baru dan natal dengan akidah mereka masing-masing dan senada apa yang dikatakan oleh Margaret diatas, bahwa kita selalu melihat sesuatu dalam objek latar belakang, kita seharusnya bisa lebih dari situ

Dan lagipula urusan akidah kita siapa yang bisa tahu jelas? itu adalah urusan Allah SWT, dan hak PrerogatifNya, kita hanya bisa mencoba berfikir dan berbuat.

Karena salah satu ciri utama pemikiran manusia adalah bahwa ia tidaklah terbatas pada “apa yang sebenarnya” tapi juga mengurusi “apa yang seharusnya”. Kita tak pernah berhenti membuat segala macam asumsi logis tentang dunia yang kita diami. Logika yang tidak dipelajari dari buku, tapi merupakan hasil dari masa-masa evolusi yang panjang. Percobaan-percobaan yang rinci telah menunjukkan bahwa bentuk-bentuk awal logika telah didapat oleh seorang bayi pada usia yang masih amat muda melalui pengalaman. Kita berpendapat bahwa jika sesuatu benar, maka hal lainnya, yang kita tidak memiliki pengalaman langsung tentang itu, pasti juga benar. Proses-berpikir logis seperti itu telah terjadi jutaan kali sepanjang hidup kita, tanpa kita sadari. Proses ini menjadi sebuah kebiasaan, bahkan tindakan paling sederhana dalam kehidupan ini akan mustahil kita lakukan tanpanya

Selamat Tahun Baru 2016, semoga kita dapat mencapai apa yang kita inginkan.

Artikel yang menemani dalam membuat tulisan :

  • HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)
  • HR. Imam Bukhori No. 52
  • Reason in Revolt : Logika formal dan logika dialektik, Alan Woods & Tedy Grant
  • A. A. Luce, Logic, p. 8.
  • Lenin Conspectus of Hegel’s Science of Logic
  • M. Donaldson, Making Sense,
  • Kant, Critique of Pure Reason,
Iklan


Kategori:life

Tag:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: